5 Oktober 2022

Penulis : Ummu Al (Pegiat di Komunitas Ibu Hebat)

Dimensi.id-Ada yang janggal ketika presiden menitahkan untuk berdamai dengan corona. Ada apa? Pidato presiden pada Kamis, 7 Mei 2020 menyatakan “Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan,” (tempo.co)

Akibat pernyataan ini terjadi kegaduhan di masyarakat. Pengamat sekaligus pengajar ilmu komunikasi Unpad, Kunto Adi Wibowo memberikan tanggapan terhadap pernyataan presiden itu, “Istilah berdamai itu seakan-akan melegitimasi perilaku masyarakat yang tidak patuh pada PSBB yang telah ditetapkan” (Indonesia.com)

“Berdamai di sini seakan-akan, ‘Ya sudahlah pemerintah sudah berusaha. Ini saatnya berdamai, fokus ke ekonomi’. Itu persepsi saya yang kedua,” ujarnya lagi.

Menurut Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan maksud Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat berdamai dengan virus Corona adalah menyesuaikan dengan kehidupan. Artinya masyarakat harus tetap bisa produktif di tengah pandemi Covid-19 (covid19.go.id).

Namun pemerintah kerap menggunakan diksi-diksi multi tafsir yang memancing munculnya berbagai penafsiran hingga gaduh. Pernyataan itu bahkan dipandang berbahaya karena dikhawatirkan akan mendorong masyarakat mudik lebaran meskipun masih berlangsung PSBB.

Seharusnya pemerintah punya aturan yang jelas dalam penanganan wabah covid19, setelah keluar Perpres no 1 tahun 2020, muncul berbagai macam surat edaran menteri yang justru kontradiktif satu sama lain. Rakyat kebingungan. Rakyat tidak tahu aturan mana yang harus ditaati.

Kepemimpinan yang lemah

Islam memandang kepemimpinan sebagai suatu yang sangat penting. Pentingnya keberadaan seorang pemimpin, sahabat sampai menunda pemakaman jenazah Rasulullah hingga terpilih seorang pemimpin, paling lama tiga hari. Memilih seorang pemimpin tidak akan pernah melupakan kemampuannya di dalam memimpin, karena akan mempengaruhi bagaimana dia akan mengurus urusan rakyat Rasulullahpun mengkhawatirkan hal ini, Rasulullah bersabda,

أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا: إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ…

“Aku mengkhawatirkan enam perkara atas kalian yaitu : kepemimpinan orang-orang yang tidak mampu…” (HR. Ahmad no. 23970)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang makna as-Sufaha ini :

والسفهاء: جمع سفيه.. والسفيه: هو الجاهل الضعيف الرّأي القليل المعرفة بمواضع المصالح والمضار

“Sufaha’ adalah bentuk jama’ dari safih, sedangkan safih artinya: Orang yang jahil (bodoh), yang dha’if (lemah) akalnya, yang sedikit sekali pengetahuannya tentang mana yang maslahat dan mana yang mudharat.” (Umdatut Tafsir, 1/86)

Lemahnya kepemimpinan berbahaya bagi rakyat, karena akan menjerumuskan rakyat kepada kerusakan dan kesesatan. Hal yang mempengaruhi lemahnya kepemimpinan adalah sistem yang digunakan untuk memimpin. Sengkarut penanganan covid19 selain karena rendahnya kapabilitas pemimpin juga disebabkan sistem kapitalistik yang menyetir kekuasaan. Pada situasi pandemi prioritas penyelamatan seharusnya kesehatan umat dengan melakukan karantina untuk memutus penyebaran virus, tetapi sebab menganut kapitalisme maka prioritas penanganan justru pada aspek ekonomi dengan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang terbukti tidak efektif. Jumlah positif dan meninggal terus merangkak naik dan tidak dapat diperkirakan kapan kurva covid19 akan melandai sebab tetap ada interaksi meskipun dalam skala terbatas.

Berdamai dengan corona sebenarnya adalah berdamai dengan kapitalisme, karena aktivitas kembali diperbolehkan, kehidupan menyesuaikan situasi wabah dengan tetap menjalankan SOP demi bergeraknya kembali roda ekonomi, meskipun belum ada tanda covid19 akan mereda. Mempertaruhkan nyawa rakyat agar roda ekonomi para pemilik modal berjalan kembali. Faktanya sejak pernyataan berdamai dengan corona, sejumlah moda transportasi mulai dipenuhi penumpang, interaksi antar wilayah semakin ramai.

Kepemimpinan Kuat didalam islam

Suatu hari, Abu Dzar berkata, Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku (seorang pemimpin)? Lalu, Rasul memukulkan tangannya di bahuku, dan bersabda, Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya hal ini adalah amanah, ia merupakan kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya, dan menunaikannya (dengan sebaik-baiknya). (HR Muslim).

Syaikhul islam dalam kitab as Siyasah as Syar’iyah menyatakan pemimpin haruslah kuat (mampu) dan amanah, Allah berfirman dalam Qs. Al Qashash : 26ْ

” Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

Berbeda dengan kapitalisme demokrasi dimana keputusan-keputusan pemerintah adalah kompromi kepentingan dari tiga lembaga, yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif atas nama rakyat (pemilik modal) maka sistem islam adalah unik.

Kekuasaan pemimpin (Khalifah) ditetapkan oleh hukum syara’ bukan oleh rakyat, karenanya posisinya kuat. Dalam menjalankan kekuasaannya Khalifah terikat kepada hukum syara, yakni Quran dan Sunnah. Posisi Khalifah adalah raa’in dan junnah, sebagaimana hadist Rasulullah,

Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Gambaran Khalifah sebagai raa’in dicontohkan ketika Umar Bin Khattab memanggul sendiri gandum yang akan dimasakkannya untuk seorang Ibu dan anak-anaknya yang kelaparan. Sebagai pengurus urusan rakyat dia bertanggungjawab kepada Alloh. Apakah telah mengurus rakyat dengan baik atau tidak. Bukan bertanggung jawab pada manusia atau lembaga buatan manusia.

Khalifah juga sebagai junnah (perisai) bagi rakyat. Rasulullah bersabda,

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “(Imam itu perisai) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena Imam (Khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum Muslimin, dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”

Khalifah sebagai junnah (perisai) adalah melindungi rakyatnya dengan menerapkan syariat islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah ‘ala minhajjin nubuwwah. [S]

Wallahu’alam bisshowab

Editor : Azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: