5 Oktober 2022

Penulis : Ahmad Hadianto (Ketua Gema Pembebasan Cilegon)

Dimensi.id-Sebelum pandemi Covid-19, pada tahun 1918-1920 terdapat pandemi flu spanyol H1N1 yang sangat mematikan. Tak kurang 1/3 penduduk dunia terjangkiti, dengan korban disinyalir mencapai 50 juta jiwa. Dunia dibuat geger dengan kehadiran wabah ini, beberapa negara memberlakukan lockdown hingga berhasil menekan penyebaran virus.

Akan tetapi ketika keadaan dianggap sudah baik-baik saja padahal belum, dan lockdown pun dilonggarkan, serangan gelombang kedua pun datang dengan jumlah korban berjatuhan yang justru lebih banyak daripada serangan gelombang pertama akibat euforia dan kelengahan pasca lockdown. Dari sini kita belajar, jika PSBB dilonggarkan, masyarakat kembali beraktivitas normal, sedangkan virus masih bergentayangan, bersiaplah menggali kuburan massal.

Ketika Covid-19 sudah mewabah di Indonesia seperti saat ini, aktivitas masyarakat pun sangat terganggu. Ekonomi lesu, daya beli masyarakat menurun, phk di mana-mana, sudah mah cari kerja susah. Imbasnya tingkat kemiskinan meningkat, mereka yang tidak bisa beradaptasi baik karena ketidaktahuan maupun ketidakmampuan, terancam keberlangsungan hidupnya.

Pemerintah yang awalnya menyepelekan, berangsur-angsur menerapkan kebijakan yang membatasi pergerakan dan kerumunan manusia, baik aktivitas sosial-ekonomi maupun aktivitas keagamaan. Mulai dari social distancing, pembatasan sosial berskala besar, hingga larangan mudik. Beberapa mode transportasi pun di batasi ruang geraknya, di kurangi kuotanya, dan di perketat perizinan nya. Semua itu adalah harga yang harus di bayar demi keselamatan warga negara.

Namun sebenarnya semua ini bisa di cegah sejak awal, aktivitas masyarakat tidak perlu terganggu, ratusan triliunan uang yang keluar bisa tersimpan, kemiskinan tidak perlu merajalela. Seandainya sejak awal pemerintah membatasi sektor penerbangan keluar-masuk wilayah Indonesia, itu saja.

Cukuplah maskapai penerbangan yang merugi, toh bisa di subsidi sementara sampai semua kembali normal. Sedangkan sektor lain yang ada di masyarakat tidak perlu terganggu. Aktivitas sekolah, kuliah bisa tetap berjalan, yang mau kerja, dagang ya silahkan, pembangunan bisa dilanjutkan, tidak perlu tenaga medis  berjibaku di garda terdepan, dan bisa menghindari jatuhnya korban, baik terkena wabah maupun kelaparan.

Bukankah lebih baik mengorbankan satu sektor (meski itu penting) daripada membahayakan 260 juta rakyat? Kalau sudah seperti ini, seluruh sektor ekonomi terancam, sektor penerbanganpun terkena imbasnya. [S]

Editor : Azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: