5 Oktober 2022

Penulis  : Sunarti

“Mati rusa karena tanduknya” artinya sesuatu yang menjadi kemegahan itu, bisa mencelakakan.

Dimensi.id-Sebuah peribahasa yang tepat jika disematkan kepada sistem sekulerime saat ini. Sistem yang di mata dunia dan pemuja materi dinilai sangat gagah ternyata begitu terpuruknya keadaan dunia oleh pandemi dari Covid-19. Tak ayal lagi, jika banyak pemimpin di negeri-negeri di seluruh dunia, mengambil kebijakan yang tumpang tindih dan justru merugikan rakyat. Bagaimana tidak, semakin hari angka pertambahan penderita terpapar dan angka kematian tersebab Covid-19 ini semakin meningkat.

Pernyataan para pemegang kebijakan berpengaruh besar terhadap keselamatan dan kehidupan rakyat. Namun sayangnya kebijakan penanganan kasus pandemi di negeri ini jauh dari harapan untuk keselamatan rakyat. Bagaimana tidak, pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat kecewa. Dalam pernyataanya Presiden mengajak masyarakat Indonesia untuk berdamai dengan Covid-19 selama vaksinnya belum ditemukan.

Pernyataan Presiden ditanggapi oleh Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyoroti pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk perang lawan Covid-19 saat disampaikan di konferensi virtual negara-negara G20. Dengan pernyataan Berdamai terhadap Corona, politikus PKS itu melihat pemerintah tidak serius memutus penyebaran Covid-19.

Hidayat mengatakan pernyataan itu seharusnya dibarengi dengan kebijakan dan perintah kepada Kemenristek dan Kemenkes serta lembaga lainnya untuk lakukan koordinasi dan kerjasama agar segera temukan vaksin Covid-19 (Tribunnews.com).

Damai dengan Corona Bukti Kekalahan Sistem Menghadapi Pandemi

Secara kasat mata pandemi Covid 19 telah menelanjangi kegagalan system sekulerisme-kapitalisme dalam mengelola urusan masyarakat dan memimpin peradaban dunia. Bukti kuat atas kegagalannya adalah ketidakberdayaan sistem dalam menempuh berbagai upaya untuk menahan laju paparan penyebaran virus dan berakibat keterpurukan ekonomi dunia.

Pernyataan “Berdamai dengan Corona” mengandung makna tersirat yaitu sebuah kekalahan telak sistem sekulerime menghadapi pandemi. Salah satunya adalah keterpurukan ekonomi negeri-negeri di seluruh dunia. Dimana negeri-negeri tersebut sedang menerapkan sistem ini secara terang-terangan ataupun sebagai pengekor negeri adidaya.

Pandemi saat ini mengakibatkan ekonomi global mengalami resesi terburuk. Bahkan jika dibandingkan dengan The Great Depression 1930. Krisis ekonomi terburuk hari ini adalah terburuk. Semua terjadi bak pukulan keras dari virus Covid-19 yang menyebar tanpa bisa terkendali oleh tangan-tangan manusia.

Bahkan dikatakan oleh Chief Economist IMF “Ini adalah periode krisis dimana guncangan tidak dapat dikendalikan dengan kebijakan ekonomi, mengingat kita tidak tahu kapan pandemi akan berakhir.”

Dia juga mengemukakan bahwa akibat pandemi ini, ada 100 negara telah datang ke IMF untuk mengatasi persoalan keuangan mereka. Itu terbanyak dalam sejarah keberadaan IMF. Dan ini belum bisa menyelesaikan keterpurukan ekonomi dunia.

Akibat dari pandemi bukan saja menyebabkan krisis di sektor keuangan. Akan tetapi juga menghantam sektor riil. Pandemi Covid-19 menyerang faktor produksi ekonominya yakni manusia. Jika manusia sebagai faktor produksi ekonomi dan sekaligus sebagai konsumen produksi telah berkurang sekian persen dari penduduk bumi, maka bisa dipastikan melemahnya perekonomian bukanlah isapan jempol semata.

Krisis saat ini, tidak dapat diatasi dengan kebijakan fiskal dan moneter (sebagaimana krisis-krisis sebelumnya) karena situasinya krisis memukul dua sektor sekaligus. Yakni sektor keuangan dan sektor riil. Keduanya berdampak pada menurunnya produksi, rantai pasokan terganggu dan demand menurun. Dan, akibat terburuk adalah kollapsnya ekonomi dunia. Ini bisa terjadi apabila krisis berlangsung lama dan tidak segera teratasi.

Sakitnya Negara Adidaya, Berakhirnya Sistem yang Dijaganya

Amerika Serikat (AS) adalah potret gagahnya negara pengemban ideologi sekulerime. Ketika pandemi menerpa wajahnya, potret busuk keaslian sistem ini tersingkap. Nyatalah dengan gugup dan serampangan Trumph dalam menyelesaikan masalah pandemi saat ini. Kebijakan yang diambilnya tidaklah bisa menghentikan paparan Covid-19 yang telah melumpuhkan perekonomian dengan satu jurus saja.

Kelimpungan dan kekacauan perekonomian saat ini lambat laun akan menguak bahwa hegemoni AS sudah mulai turun. Dan disadari atau tidak, pengaruh AS juga kian redup. Bahkan Trumph telah gagal mengulang upaya dari pemimpin-pemimpin sebelumnya. Pendek kata “resep yang sama tak menjamin kesembuhan.”

Sang Adidaya telah benar-benar terpuruk. Pada akhirnya akan diikuti oleh negara-negara lain yang berada di bawah kendalinya maupun tidak. Karena, negara-negara maju yang tidak tunduk dengan AS pun, nyatanya juga kelimpungan di bawah paparan Covid-19.

Tinggal menunggu waktu adanya perguliran kekuasaan yang mampu menandingi kekuatan ideologi sekuler. Ideologi tentunya sejajar dengan ideologi. Beberapa dekade yang lalu ada bukti sosialisme telah runtuh sebelum berperang. Jika negara adidaya melemah maka posisinya digantikan oleh negara lain. Proses itu pasti terjadi. Perguliran peradaban dari peradaban sekulerime akan tergantikan dnegan peradaban Islam. Biidzinillah.

AS akan kehilangan kemampuannya dalam mengontrol  dunia. Jadi, nyata sudah kekalahan sistem melalui statment “Berdamai dengan Corona” adalah isyarat kekalahan mutlak. Ini merupakan peluang bagi para pengemban ideologi Islam untuk gencar dan melayakkan diri sebagai pribadi muslim yang tangguh dan gencar dalam mencerdaskan umat di seluruh dunia tentang ideologi Islam sebagai ideologi dari Sang Pencipta.

Allah SWT berfirman:

”Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia…” (QS Ali Imran:140).

Ingatlah ketika Allah memberikan kabar baik bagi kaumnya. Akan ada masa perguliran itu. Maka apa yang akan terjadi, terjadilah. [S]

Wallahu alam bisawab

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: