5 Oktober 2022

Penulis : Wika Tia Putri S,Pd

Dimensi.id-Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin pepatah inilah yang sangat tepat menggambarkan kondisi Negeri ini pasca dilanda wabah Corona. Sudah hampir dua bulan lebih Indonesia mengahadapi pandemi covid-19 namun sejauh ini pemerintah masih dinilai lamban dan bahkan bisa dikatakan gagal memberikan solusi yang komprehensif untuk menangani wabah tersebut.

Solusi pemerintah hanya bersifat solusi parsial semata, yang mana solusinya bukan menyelesaikan Masalah hingga akar tapi yang ada menghasilkan masalah baru ditengah hiruk-pikuk pandemi covid-19 ini.

Salah satu solusi pemerintah untuk mencegah menyebarnya covid19 di tengah masyarakat Indonesia adalah dengan mengeluarkan para Narapidana dari penjara dan ternyata faktanya sejumlah narapidana yang dibebaskan karena mendapat program asimilasi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) sebagai dampak dari pandemi corona kembali ditangkap polisi. Pasalnya, setelah bebas dari penjara mereka bukannya jera, namun justru kembali berulah.

Dirangkum dari pemberitaan Kompas.com, tindak pidana yang dilakukan eks napi setelah bebas dari penjara tersebut bervariasi. Mulai dari menjadi kurir narkoba hingga terlibat dalam aksi penjambretan di sejumlah lokasi. Belum lagi selesai terkait  ulah para Napi kini Rakyat harus  memakan pil pahit kembali karena ternyata terjadi lonjakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat merebaknya wabah virus corona.

Berdasarkan data Kemenaker, jumlah pekerja yang di-PHK sampai dengan 11 April 2020, terjadi lonjakan dan sudah mencapai angka 1,5 juta. Angka itu melonjak signifikan dari data sebelumnya pada 9 April, yang berjumlah 1,2 juta buruh. Fakta ini bisa menjadi pemicu tindak kriminalitas meningkat.

Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Daulay mengatakan pemerintah harus mewaspadai terjadinya gejolak sosial akibat banyaknya pekerja yang di PHK. Menurutnya ditengah merebaknya wabah virus corona serta banyaknya pekerja yang di PHK bukan tidak mungkin akan terjadi gejolak sosial ditengah masyarakat. “Jika gelombang PHK semakin tinggi kemudian tingkat pengangguran semakin besar, tentu suatu waktu bisa menyebabkan gejolak sosial,” kata Saleh melalui pesan singkatnya, Selasa (14/04/2020).

Saleh menyebut pemerintah harus mengantisipasi terjadinya peningkatan angka kriminalitas akibat melonjaknya jumlah karyawan yang di PHK. Dampak wabah Corona ternyata bukan hanya menyebabkan kematian akibat virus itu sendiri, tetapi juga faktor lain seperti stress. Berhentinya roda perekonomian telah menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan meningkatkan stres yang bersangkutan. Beberapa kasus PHK telah berujung kepada tindakan bunuh diri. Masalah ini juga harus menjadi perhatian pemerintah, tentang perlunya pelayanan psikolog bagi mereka yang stres. Kasus terbaru tentang warga bunuh diri akibat stres buntut PHK terjadi di Jombang, Jawa Timur.

Seperti diberitakan berita Jatim, Anang Junaedi (23), warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dapur rumahnya, Kamis (16/4/2020). “Berdasarkan keterangan keluarga, korban di-PHK sejak satu bulan ini. Sejak itu, korban cenderung tertutup, bahkan mengurung diri di rumah,” ujar Kapolsek Jogoroto AKP Bambang Setyobudi.

Gejolak Sosial Meningkat, Bukti Rezim Gagal tuntaskan Wabah Covid19.

Indonesia membuka lembaran tahun baru 2020 dengan lembaran duka yang mendalam. Rakyat negeri ini tak hentinya menjadi korban keserakahan para cukong kapitalis. Covid19 bukanlah sekedar nama virus biasa, tapi virus ini kini mampu menyebabkan kematian di segala lini kehidupan masyarakat karena lambannya pemerintah menangani kasus ini.

Rakyat hanya mampu menjerit menahan pilu yang mendalam sementara penguasa sibuk dengan korporasi yang menguntungkan ditengah merebaknya wabah ini. Sistem kapitalis ini menjadikan rakyat semakin terjerumus kedalam lumpur kesengsaraan. Alih-alih menjalankan sosial distancing untuk tetap diam didalam rumah saja tapi para penguasa negeri ini tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai pengurus rakyat yang semestinya mereka siapakan berbagai kebutuhan hidupnya agar sosial distancing berjalan dengan lancar tanpa menyisakan gejolak sosial yang menghantarkan rakyat pada Kematian.

Orang-orang hebat negeri ini hanya menjadikan rakyat sebagai sapi perahnya untuk mendapatkan keuntungan tanpa memikirkan kebutuhan rakyatnya harus tercukupi. Indonesia dengan kekayaannya yang berlimpah harusnya tidak mengalami krisis multidimensi begini, tapi bagaikan orang bodoh, penguasa dengan mudahnya menyerahkan kekayaan negeri ini kepada Asing dan Aseng dengan dalih Privatisasi. Rakyat kini hanya mampu menahan penderitaan demi penderitaan tanpa ada solusi yang kemprehensif untuk menyelesaikan masalahnya.

Islam Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah

Sistem Islam adalah sistem yang lahir dari Allah sang penguasa langit dan bumi. Sistem ini nol kecacatan dalam setiap rinciannya karena langsung turun dari Zat yang Maha mengetahui. Islam memberikan solusi yang menyeluruh dan sempurna. Islam menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Islam menjadi sistem yang berkuasa selama 14 abad di dunia ini.

Kehadirannya tidak lagi menjadi keraguan karena terbukti ketika di masa ke khilafah terjadi pandemi wabah penyakit, Khalifah mampu menangani ya dengan cepat. Tercatat dalam sejarah kesuksesan Khalifah Umar bin Khaththab menyelesaikan serangan wabah yang menimpa rakyatnya. Bahkan bukan hanya satu jenis bencana.

Pemerintahan Khalifah Umar pernah diuji Allah dengan dua musibah. Pertama, bencana kekeringan yang terjadi di Madinah. Selama kurang lebih sembilan bulan ibu kota pemerintahan Islam ini dilanda bencana kelaparan akibat perubahan cuaca.

Imam Ibnu Katsir menceritakan bahwa bencana yang terjadi pada tahun 18 Hijriyah itu membuat tanah di kota Madinah menghitam karena sedikitnya hujan. Para ulama pun menyebutnya sebagai ‘am ramadha atau tahun kekeringan. Ujian yang kedua adalah wabah ‘Thaūn Amwās yang menyerang wilayah Syam.

Wabah ini dikabarkan telah menghantarkan kematian tidak kurang dari 30 ribu rakyat. Bukan saja warga negara biasa, bahkan penyakit ini pun menyerang beberapa sahabat Khalifah Umar seperti Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, dan Suhail bin Amr yang mengantarkan pada wafatnya mereka.

Sekalipun ditimpa dua bencana besar, namun Khalifah Umar tidak kehilangan kendali. Beliau tetap menunjukkan karakternya sebagai seorang pemimpin yang bersegera menyelesaikan masalah rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. Kedua bencana tersebut dihadapi dengan solusi yang menyelesaikan.

Kesuksesan melawan wabah yang telah diraih khalifah Umar in syaa Allah akan terulang kembali karena faktor utamanya bukan terletak pada beliau sebagai pribadi, namun pada sistem yang beliau terapkan.

Islam juga memadukan antara Aqidah dan syariah ketika menyelesaikan masalah. Islam menuntut setiap manusia untuk Bertakwa kepada Allah, dan menganggap bahwa musibah itu adalah ujian yang harus dihadapi dengan keyakinan iman. Agar terbentuk keikhlasan di dalam diri menerimanya seraya menyelesaikannya dengan kemampuan optimal sesuai dengan aturan syariah.

Pilar utamanya adalah negara yang siap sebagai institusi pelaksana syariah secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk penetapan kebijakan penanggulangan wabah. Negara harus hadir sebagai penanggung jawab urusan umat.

Negara senantiasa ada dan terdepan dalam setiap keadaan. Negara tidak menyerahkan urusan rakyatnya pada pihak lain. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang imam yang berkuasa atas masyarakat bagaikan penggembala dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya (rakyatnya).”

“Siapa saja yang dijadikan Allah mengurusi suatu urusan kaum muslimin lalu ia tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinannya.”

Sejatinya memang negara mesti memprioritaskan urusan pengayoman terhadap kehidupan rakyat, sebab itulah cerminan dari posisinya sebagai raa’in dan junnah. Tidak boleh negara mengambil kebijakan yang mengabaikan nasib mereka. Dalam keadaan apa pun keselamatan rakyat senantiasa akan menjadi pertimbangan utama negara.

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan disahihkan al-Albani).

Seperti itulah fakta nyata yang ditunjukkan oleh para Khulafaur Rasyidin saat Islam berkuasa di Dunia.  Wallaahu a’lam bishshowab

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: