5 Oktober 2022

Penulis : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

Dimensi.id-Sayu-sayup kudengar suara imam masjid dekat rumahku sedang mengadakan solat terawih kedua malam ini. Suara yang paling ku rindu dan ku tunggu disetiap bulan ramadhan. Namun ramadhan tahun ini berbeda, bukan tanpa ayah yang sudah lama pergi tapi karena covid-19. Setiap ruang gerak terbatas, baru mau 2 bulan seperti ini tapi membosankan sekali. Kulihat anak-anak riang gembira bermain tanpa pernah sibuk mikirin sekolah onlinenya. Libur sekolah maka jawabannya adalah bermain berkumpul bersama temannya.

Ku dengar dari sebuah berita ketika ditanya kapan wabah penyakit ini akan tiada, jawabannya sederhana tanpa beban yang membuatku semakin nelangsa “Tahun depan”. 8 bulan lagi itu lama sekali, apa tak ada solusi lain kah? Memang… kita tak bisa memprediksi kapan semua ini akan berakhir. Semua tergantung kehendak Allah, manusia hanya menjalaninya saja. Namun sebenarnya ada sebuah solusi yang sudah ditawarkan yaitu LockDown total yang sudah di ajari oleh Umar bin Khatab sendiri masa itu.

Tapi manusia bodoh ini, ah…membuat semua orang geram saja, keputusan yang diambil untuk mendapatkan keuntungan ditengah pandemic, sungguh tak masuk akal sama sekali. Betapa tak berharganya nyawa manusia disaat ini, tak takutkah akan dosa dan azab yang menimpanya? Aku lupa mereka semua adalah boneka yang bekerja hanya sesuai perintah tuannya. Semua kebohongan itu hentikanlah, kami benar-benar muak

“Kak…kalo 8 bulan lagi kita mau makan apa ya?” Tanya adikku nun jauh disana

“Entahlah dek, berdoa saja moga Allah cukupkan rezeki kita ya” hanya itu yang bisa kukatakan

“Kak… wawak ada dapat listrik subsidi gak? Masa awak gak dapat kak ee” tanyanya dengan logat khas riaunya

“Entah belum cek lagi dek, kami gak pake prabayar. Males juga kalo harus daftar lagi” jawabku sembari mencoba mengingat berapa tagihan bulan lalu

“Eh..tapi kan kak… sebagian orang rekeningnya malah naek loh, kawan awak rumahnya tak ada pun orang, tapi tetep aja naik listriknya…gila gak ya?” ada rasa gemas dari suaranya.

Aku mencoba menenangkannya, bahwa yang kita rasa semua orang juga rasakan. Belum lagi PHK besar-besaran, semakin banyak lagi pengangguran bukan Cuma aku dan adikku, tapi kita semua. PNS pun mendapat imbasnya, kenapa bukan mereka para anggota dewan yang duduk disinggasana bagai raja tak bertuan?

Mengapa harus kita rakyat jelata. Teringat si abang yang masih ngontrak rumah bulanan, dengan dua anak kecil yang mau masuk sekolah, belum lagi dia yang sibuk dengan skripsinya. Setiap bulan dia harus mencari utangan untuk memenuhi kehidupannya.

Konon lagi jika gajinya yang kecil dipotong, zhalimnya penguasa kita. Kita mengkarantina diri, namun TKA terus masuk bagai arus yang tak mampu dibendung. Allahu Rabbi… tolonglah kami lepas dari derita panjang ini (batinku menangis)*

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: