5 Oktober 2022

Penulis : Ita Mumtaz

Dimensi.id-Tak terasa, kita telah memasuki sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan. Bulan yang penuh rahmat dan maghfirah-Nya. Bulan yang di dalamnya berhimpun keutamaan dan berlapis-lapis pahala serta keberkahan. 

Ramadan kali ini memang istimewa. Dia hadir di tengah badai dan bencana pandemi. Ancaman kematian sangat dekat, ada di pelupuk mata. Mengingat upaya pemerintah mengentaskan rakyat dari wabah ini yang hanya separuh jiwa.

Namun kondisi pelik ini tidak boleh menjadikan kita patah semangat dan kurang fokus kepada keistimewaan Ramadan. Banyak sekali amalan terbaik yang bisa kita lakukan meski di rumah saja.

Ketika waktu kita lebih banyak berada di rumah, bukan berarti menjadi penghalang untuk melaksanakan amalan shalih. Terbentang lebar kesempatan bagi kita untuk mengukir jejak-jejak kebaikan. Alhamdulillah ada waktu lebih banyak untuk sekedar merenung, bermuhasabah atas aktivitas yang selama ini telah kita kita tunaikan. Pun membuat program aktivitas terdekat, dalam sepuluh hari terakhir Ramadan.

Kini saat yang tepat untuk beramal bareng seluruh keluarga, senyampang ada kesempatan bersama-sama. Semua amal ibadah bisa dilakukan secara berjamaah. Apalagi bagi yang memilih untuk menunaikan kewajiban shalat di rumah saja. Lanjut tilawah bersama, saling menyimak dan memberi semangat, berlomba mencapai target sekian kali khatam membaca Alquran.

Tidak hanya membacanya saja, namun juga mengkajinya, belajar menela’ah arti juga tafsirnya. Alangkah baiknya jika bergiliran menyampaikan semacam tausiyah. Jika ada keterbatasan ilmu, bolehlah mengambil materi dari kajian online yang tengah marak diadakan oleh lembaga-lembaga dakwah.

Sang ayah sebagai pemimpin sekaligus  menjadi sumber rujukan bagi anggota keluarga yang lain. Untuk persiapan materi bisa saling membantu antar anggota keluarga. Tentu saja untuk tema dan bahasannya bisa disesuaikan dengan usia, pengalaman dan wawasan dari pemateri. 

Dengan begitu, akan menambah kerukunan dan kasih sayang antar anggota keluarga. Apalagi bagi yang  selama ini ada kesulitan bertemu antar saudara tersebab kesibukan masing-masing.

Kondisi dalam keterbatasan ini pun tak menghalangi kita untuk menyuarakan kebenaran Islam. Tentu saja kita selalu berupaya memasuki setiap celah dakwah, meski terkepung lelah. Berbagai ragam teknis komunikasi telah ditawarkan sebagai karya cipta dari kemajuan teknologi. Dakwah pun tak kehabisan cara. Tetap berkibar melalui melalui aplikasi media sosial maupun video conference yang menawarkan beragam fitur. Sehingga pesan-pesan dakwah semakin membahana.

Ramadan adalah momen untuk menempa kesabaran dan berlomba-lomba meraih pahala. Karenanya, perasaannya umat terhadap Islam meningkat, ruhiyahnya melesat tinggi, semangat mengkaji ilmu menyala. Sehingga pesan dakwah akan mudah disambut oleh masyarakat. Syiar Islam berkibar di jagat media online.

Perasaan Islam yang meningkat pada diri umat dalam mengisi Ramadan tak akan sempurna manakala syariat Islam juga tidak diterapkan dalam kehidupan secara menyeluruh (kaaffah).

Dengan syariat kaaffah, semua amaliah Ramadan menjadi lebih bermakna dan penuh hikmah. Sehingga rahmat dan ampunan Allah akan mudah diraih.

Pada sepertiga akhir Ramadan ini, amalan mulia yang sangat ditunggu karena limpahan keberkahannya adalah iktikaf di masjid. Berdoa dalam rangka takarub pada Allah SWT dan memohon dikaruniai kesempatan mendapatkan kebaikan satu malam yang lebih mulia dari 1.000 bulan, yakni lailatul qadar.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul kadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR. Bukhari).

Pada masa pandemi ini, ibadah di masjid tidak bisa leluasa seperti saat kehidupan normal. Apalagi di daerah zona merah, membuat kita harus rela beribadah di rumah saja. Hal ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk menghindari tertularnya virus serta memutus rantainya. Dalam posisi seperti ini, kita diperbolehkan iktikaf di Masjidil. Insya Allah tidak akan mengurangi kesempatan kita untuk bersungguh-sungguh bermunajat kepada-Nya.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Senantiasa bertafakur atas ujian dan musibah ini akan menjadikan kita semakin memahami betapa lemah manusia. Tak berdaya menghadapi makhluk super kecil. Istighfar dan taubat atas segala dosa dan kemaksiatan harus selalu kita lantunkan demi meraih keridaan dan maghfirah-Nya.

Tidak diterapkan syariat Islam kaaffah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara merupakan kemaksiatan tertinggi. Sebab akan ada banyak pelanggaran syariat yang terjadi.

Hendaknya kita bisa meraup hikmah yang ada dari musibah ini. Tata dunia baru telah menanti. Insya Allah kemenangan sudah di depan mata. Semoga ini adalah Ramadan terakhir kita tanpa Khilafah. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: