5 Oktober 2022

Penulis : Aisyah Karim

“Kupakaikan gamisku kepadanya agar Dia bisa memakai pakaian surga.” (Muhammad Rasulullah saw).

Dimensi.id­-Fathimah binti Asad  bin Hasyim bin Abdi Manaf Al-Hasimiyah adalah  shahabiyah yang teramat mulia. Allah menganugerahkannya banyak keistimewaan. Kiprahnya dalam proses perjuangan Islam terukir indah dalam sejarah.

Dialah wanita yang telah mendidik Rasulullah saw setelah Abdul Muthalib (kakek Rasul) meninggal dunia. Dialah ibu dari pejuang gagah berani, Khalifah Rasyidah keempat, Ali bin Abu Thalib ra. Dialah nenek dari dua pemuda pemimpin para pemuda surga, Hasan ra dan Husain ra.

Dialah ibu dari pahlawan gagah berani yang gugur sebagai syahid lalu Rasulullah melihatnya terbang dengan dua sayapnya di surga, satu dari tiga panglima perang Mu`tah, Ja`far bin Abu Thalib ra. Dia juga mertua dari wanita terbaik di zamannya, Fatimah binti Rasulullah saw.

Ia masuk Islam dan ikut rombongan pertama yang hijrah ke Madinah. Wanita dari bani Hasyim yang melahirkan anak laki-laki bernasabkan bani Hasyim. Ketika Abdul Muthalib merasakan ajalnya semakin dekat, ia berpesan kepada anaknya untuk merawat Nabi saw. Pilihan itu jatuh pada Abu Thalib karena ayah nabi (Abdullah) dan Abu Thalib adalah saudara seayah seibu.

Setelah meninggalnya Abu Thalib dan Nabi pun pindah ke rumah Abu Thalib. Di rumah itu, Rasulullah mendapatkan wanita yang penuh kasih sayang, hingga beliau merasakan wanita itu adalah ibu kandungnya.

Abu Thalib hidup serba kekurangan. Anak-anak mereka tidak pernah makan sampai kenyang. Namun setelah Rasulullah tinggal di rumah tersebut kondisi ini berubah, terutama ketika Nabi sedang ikut makan bersama mereka. Makanan yang terlihat amat sedikit namun mengenyangkan semua anggota keluarga.

Inilah berkah yang pertama kali dirasakan oleh Fathimah binti Asad dalam keluarganya. Ia hampir tidak mempercayai apa yang ia lihat. Fathimah merawat Nabi dan melimpahinya dengan kasih sayang hingga beliau menjadi pemuda dan menikah dengan Khadijah.

Fathimah binti Asad mendorong anaknya (Ali bin Abu Thalib) untuk tinggal bersama Rasulullah saw. Ia melihat Rasulullah sebagai ayah yang penuh kasih sayang.  Ketika Rasulullah diangkat sebagai Nabi untuk menyelamatkan manusia, Allah SWT berfirman, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (As-Syura`:214), Rasulullah langsung menyeru keluarga beliau menuju kepada kebaikan dunia dan akhirat.

Dan Fathimah binti Asad termasuk orang-orang yang tanpa ragu mengikuti seruan Rasulullah. Ia pun mengucap dua kalimah syahadat. Semangat tauhid ini mengalir ke setiap aliran darahnya. Keislamannya diikuti oleh seluruh anak-anaknya. Sementara Abu Thalib meminta maaf karena belum bisa masuk Islam.

Fathimah menjalani kehidupan baru. Kehidupan yang penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ajaran-ajaran Islam ia terima dengan baik sehingga ia merasakan kebahagiaan yang selama ini belum pernah ia rasakan.

Akan tetapi musuh-musuh Islam senantiasa mengintai kondisi kaum Muslimin. Kesusahan dan kepayahan dialami kaum Muslim datang  bertubi-tubi. Ketika izin hijrah ke Habsyah diberikan oleh Rasulullah, disinilah Fathimah binti Asad diuji dengan melepas kepergian Ja’far putranya yang diangkat sebagai ketua rombongan kaum Muslim yang hijrah ke Habsyah.

Sadar bahwa upaya menghambat perkembangan Islam selama ini kurang membuahkan hasil, orang-orang Quraisy menempuh cara-cara baru, yaitu dengan mengisolasi keluarga besar bani Hasyim dari dunia luar. Kaum Muslimin bersabar menghadapi pemboikotan yang berlangsung selama tiga tahun ini, termasuk Fathimah binti Asad.

Ketika hijrah ke Madinah berlangsung, Fathimah binti Asad termasuk yang ikut didalamnya. Ia meninggalkan harta bendanya di Mekah demi menyelamatkan iman dan akidahnya. Di Madinah Nabi saw sering mengunjungi beliau dan memberinya hadiah.

Ali ra menceritakan, “Nabi memberiku kain brokat dan berkata, `Jadikan beberapa penutup kepala untuk para Fatimah.’ Lalu kujadikan empat penutup kepala. Satu untuk Fathimah binti Rasulullah, satu untuk Fatimah binti Asad, satu untuk Fatimah binti Hamzah.” Ali tidak menyebut Fatimah yang keempat. Ibnu Hajar berkata, “Fathimah keempat adalah Fathimah binti Syaibah, istri `Aqil bin Abu Thalib.

Demikianlah Fathimah binti Asad menjalani hidup dengan Bahagia dalam naungan iman dan tauhid. Hingga akhirnya ia Kembali kepada Allah. Ia meninggal dan dimakamkan di Madinah. Rasulullah sendiri yang masuk ke liang lahatnya dan menguburkannya. Sejarawan Samhudi menyebutkan bahwa Nabi tidak masuk ke liang lahat kecuali dalam lima kuburan; tiga perempuan dan dua laki-laki. Diantaranya adalah kuburan Khadijah ra di Mekah, dan empat lagi di Madinah; kuburan putra Khadijah yang diasuh oleh Rasulullah, kuburan Abdullah Al-Muzani, kuburan Ummu Ruman (istri Abu Bakar) dan kuburan Fathimah bin Asad ra.

Anas bin Malik menuturkan, “Ketika Fathimah binti Asad bin Hasyim wafat, Rasulullah masuk ke tempat istirahatnya, lalu duduk di sebelah kepalanya. Ia berkata, “Bu, Allah merahmati Ibu. Ibu adalah ibu keduaku. Ibu rela lapar untuk membuatku kenyang. Ibu rela berpakaian lusuh demi mencarikanku pakaian yang layak. Ibu rela mengonsumsi makanan yang tidak enak demi memberiku makanan yang enak. Semua itu Ibu lakukan untuk mencari ridha Allah dan kenikmatan di akhirat.”

Setelah itu beliau menyuruh agar jenazah Fathimah dimandikan tiga kali. Ketika tiba giliran dimandikan dengan air yang bercampur kapur barus, beliau menyiramkannya sendiri. Lalu beliau melepas  gamisnya dan memakaikannya kepada Fathimah binti Asad, dan mengafaninya dengan burdah beliau. Setelah itu beliau memanggil Usamah binti Zaid, Abu Ayub Al-Anshari, Umar bin Khathab dan seorang pemuda berkulit hitam untuk menggali kuburan.

Ketika galian telah sampai batas lahatnya, beliau yang meneruskan menggali dengan tangannya, selesai menggali, beliau masuk ke liang lahat lalu rebahan dalam kuburan itu, dan berkata, “Ya Allah yang menghidupkan dan mematikan, Yang hidup dan tidak akan mati, ampunilah ibuku Fathimah binti Asad. Mudahkan jawabannya. Luaskanlah tempat masuknya, melalui hak nabimu dan para nabi sebelumku. Engkaulah yang Maha Pengasih.”

Beliau bertakbir untuknya empat kali, lalu beliau dibantu Abbas dan Abu Bakar memasukkannya ke liang lahat. Ibnu Abbas menuturkan, “Ketika Fathimah ibunya Ali bin Abi Thalib wafat, Nabi melepas  gamisnya dan memakaikannya kepadanya. Beliau rebahan di dalam kuburannya. Ketika beliau menimbunnya dengan tanah, Sebagian sahabat bertanya, “Ya Rasul, belum pernah engkau melakukan seperti ini.”

Beliau menjawab, “Gamisku kupakaikan kepadanya supaya dia memakai pakaian surga. Aku rebahan di dalam kubur di sisinya agar dia diringankan dari tekanan kubur. Selain Abu Thalib, tiada yang lebih baik perlakuannya terhadapku daripada dia.” [S]

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: