5 Oktober 2022

Penulis: Muntik A. Hidayah (Aktivis Dakwah dan Pegiat Literasi)

Sekira hampir 100 tahun lamanya dunia dipimpin oleh peradaban kapitalisme. Tepatnya setelah tahun 1924 ketika Eropa berhasil meruntuhkan imperium besar masa itu yakni Kekhilafahan Turki Utsmani. Peradaban kapitalisme lantas mengubah wajah dunia dari segala sisi hingga kini. Kapitalisme yang selama ini dianggap sebagai solusi, rupanya hanya ilusi. Bagaimana tidak, secara sembunyi-sembunyi ternyata ia tuntas menggerogoti negeri. Bahkan gembong dari ideologi ini, yakni Amerika yang selalu nampak gagah berani, ternyata tak luput dari tanda-tanda kehancuran yang kian mendekati.

Kapitalisme yang sedari awal memang bermain pada sektor ekonomi dan dianggap sebagai solusi hakiki atas berbagai problematika yang melingkupi, justru melahirkan sederet permasalahan di sektor yang digelutinya ini. Amerika sebagai pengusung ideologi ini kini tengah berjalan menuju titik kehancuran dengan tanda-tanda kebangkrutan ekonominya sebagaimana yang dilansir dari kompasiana (12/5/2012):

  • Dari tahun 2007-2010 ekonomi Amerika telah kehilangan 16 triliun US dollar;
  • Tingkat pengangguran yang tinggi hingga 17%;
  • Sebanyak 650 ribu warga Amerika kehilangan pekerjaan setiap bulannya;
  • Utang per kapita Amerika termasuk yang tertinggi di dunia;
  • Bahkan setiap warga Amerika mempunya utang 13 kali lipat dibandingkan penghasilannya.

            Lalu jika kita sandingkan dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini, ternyata Amerika memiliki kasus virus corona yang tergolong paling banyak di dunia (kupang.tribunnews.com, 11/4). Begitu pula dengan China dengan posisinya sebagai penantang Amerika yang tak kalah kuat menggenggam kapitalisme. Kita tahu bahwa virus Covid-19 ini bersumber darinya, pun kondisinya yang sekarang juga tak lebih baik. China kini tengah menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19 yang ditandai dengan melonjaknya jumlah kasus dan dilaporkan tertinggi selama enam pekan terakhir. Bukti bahwa kapitalisme tak mampu solusikan pandemi.

            Berbagai kerusakan ekonomi ini menjadi bukti kuat yang menunjukkan pada kita bahwa peradaban kapitalisme kian mendekati titik kehancurannya mengingat sistem ekonomi merupakan satu di antara dua suprasistem sebuah peradaban. Kapitalisme akan hancur dengan sendirinya sebagaimana yang telah menimpa sosialisme yang hanya mampu bertahan 10 tahun saja yakni dari 1980-1990 di Rusia.

            Kehancuran peradaban kapitalisme ini adalah sesuatu yang wajar mengingat ia menjadikan sekularisme sebagai asasnya. Agama dipisahkan dari pengaturan kehidupan, lantas manusia membuat aturan kehidupannya sendiri dengan akalnya yang terbatas. Tapi manusia lupa akan satu hal, bahwa akalnya tak mampu menghasilkan kebenaran, akal manusia hanya didesain untuk mampu memahami kebenaran. Sedangkan kebenaran tiada lain hanya berasal dari Sang Khaliq. Maka wajar jika sistem cacat ini hanya membawa pada kesengsaraan dan kehancuran sebab kebenaran telah dicampakkannya sedari awal.

Hancurnya sebuah peradaban memang bukanlah sesuatu yang baru. Ibnu Khaldun, seorang sejarawan muslim yang merangkap ahli politik, ekonomi, dan sosiologi Islam, mempunyai suatu teori tentang siklus sejarah yang menyatakan bahwa terdapat siklus atau fase-fase dimana peradaban lahir, tumbuh, berkembang hingga mencapai puncak kejayaannya, kemudian mengalami kemunduran, hingga akhirnya mengalami keruntuhan sama sekali.

Peradaban umat manusia adalah sesuatu yang bergerak dan berproses layaknya makhluk hidup. Dalam kehidupan biologis ada fase-fase kehidupan yang harus dilalui. Dari mulai lahir, tumbuh berkembang menjadi anak-anak, remaja hingga dewasa, kemudian mengalami proses penuaan, dan akhirnya meninggal dunia (Ibnu Khaldun).

Kini setelah semakin nyata solusi ilusi yang ditawarkan kapitalisme dengan sekularismenya, maka sudah seyogyanya dunia menyiapkan diri untuk menyambut lahirnya peradaban baru. Peradaban pengganti dari sistem usang kapitalisme. Peradaban ini tidak lain adalah peradaban Islam.

Peradaban yang dulu pernah berjaya hingga bertahan 1300 tahun lamanya. Tiada menghasilkan apapun selain kesejahteraan, kemakmuran, dan kemuliaan umat manusia. Islam adalah jawaban. Islam layak memimpin dunia, sebab faktanya ia bukan hanya sebuah agama yang mengatur ibadah ritual, melainkan sebuah ideologi. Ideologi berasaskan aqidah Islam lengkap dengan pancaran aturan kehidupan yang sempurna dan paripurna. Tiadalah kesempurnaan sistem kehidupan melainkan hanya bisa ditemukan pada Islam yang berasal dari Sang Pencipta untuk seluruh dunia.

Para peneliti Barat pun berkesimpulan bahwa kebangkitan Islam adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat NIC (National Intelligent Council), pada Desember 2004 merilis laporan dalam bentuk dokumen yang berjudul “Mapping the Global Future”. Laporan tersebut berisi analisa mereka tentang empat hal yang akan terjadi di tahun 2020, yang salah satunya yakni “A New Caliphate: Kebangkitan kembali Khilafah Islam, pemerintahan Islam secara global yang akan melawan dan menjadi tantangan  nilai-nilai Barat”.

Terlepas dari analisa manusia yang kebenarannya tak bisa dipastikan secara mutlak, kebangkitan peradaban Islam merupakan janji pasti yang keluar dari lisan Nabi dan firman-Nya yang mempunyai kedaulatan sejati. Kebangkitan peradaban Islam dalam institusi Khilafah ‘ala minhaajin nubuwwah adalah janji pasti yang kian di nanti.

Bara semangat untuk memperjuangkan kebangkitan ini tidak akan pernah padam. Meski kian diredam, yang ada hanya semakin membangkitkan gejolak terpendam. Ia akan terus membakar, menghanguskan sampai ke akar. Menghapus sistem kufur yang busuknya kian terbongkar. Hingga satu dunia pun tak kan mampu membendung Al-Liwa’ dan Ar-Royah berkibar! Hadanallu waiyyakum.

Editor: Syahrul

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: