3 Oktober 2022

Penulis : Habsah Mahasiswa UINSU)

“Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia”

Begitulah pidato yang disampaikan oleh bapak proklamator Ir. Soekarno untuk pemuda dan pemudi kita. Kalimat Bung Karno tersebut merupakan gambaran bagaimana kedahsyatan pemuda sebagai agen perubahan. Sebab di tangan pemudalah, sebuah perubahan bisa terjadi. Dr. Yusuf Al-Qardhawi seorang ulama besar Indonesia berkata,”Apabila ingin melihat suatu negara di masa depan, maka lihatlah pemudanya hari ini”.

Ya itu memang benar karena pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis. Apalagi jika pemuda itu berfikiran positif serta menanamkan nilai keimanan dalam dirinya maka sebuah perubahan bisa terjadi. Sebab, daya imajinasi, kreasi, dan inovasi senantiasa melekat pada semangat generasi muda.

Namun saat ini begitu banyak potret pemuda/i kita tergerus oleh zaman. Lihat saja banyak generasi muda yang lebih suka pergi ke diskotik ketimbang ikut kajian, atau lebih suka memainkan gawai ketimbang membaca atau menghafal Al-Qur’an. Yang parahnya adalah pemuda/i malah terjerumus ke praktek perzinahan. Naudzubillah.

Belum lama ini di kota medan 14 orang pemuda di boyong ke Polsek Medan Kota karena diduga melakukan praktik prostitusi online melalui sebuah aplikasi. Kapolsek Medan Kota Kompol Rikki Ramadhan melalui Kanit Reskrim Iptu M Ainul Yaqin yang dikonfirmasi mengatakan, bahwa dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, tidak ada bukti yang menguatkan pasangan muda-mudi tersebut telah melakukan praktik prostitusi online. Namun, mereka tidak memiliki surat-surat yang menyatakan sebagai pasangan suami istri, meski tinggal satu kos dan penghuni kos yang tidak dilengkapi dokumen identitas (Tribun-Medan.com)

Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas tersebut sulit untuk diberantas meskipun di bulan Ramadhan. Ini terjadi karena masih diterapkannya sistem kehidupan sekuler kapitalis yang merusak dan melahirkan generasi rusak yang lemah iman, budak nafsu (uang), bahkan masyarakat yang individualis materialistik serta negara yang lemah terhadap hukum dan abai pada rakyatnya. akibatnya menjadikan aktivitas prostitusi sebagai hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari baik untuk kebutuhan ekonomi maupun gaya hidup.

Inilah realita pemuda dalam sistem kapitalisme liberal. Sistem inilah yang melahirkan orang-orang individualis dan berperilaku serba bebas. Akibatnya banyak pemuda yang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan banyak uang. Tak jarang mereka terjebak pada gaya hidup serba bebas, bahkan sampai mengantarkan pada seks bebas.

Berbeda dengan islam. Islam memiliki sistem kehidupan sempurna yang akan melahirkan generasi yang beriman dan bertakwa serta menjadikan poros kehidupan mereka untuk meraih kemuliaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Kalau kita menelisik bagaimana sitem islam mampu melahirkan generasi terbaik seperti Muhammad Al-Fatih, diusianya yang masih 21 tahun beliau dipercaya menjadi gubernur ibukota.

Bahkan saat usianya 23 tahun ia mampu mengukir prestasi yang luar biasa yaitu menaklukan konstantinopel.Inilah salah satu produk pemuda yang dihasilkan dari sistem islam. Bukan hanya Muhammad Al-Fatih saja, seperti Amr Bin Ash, Thariq Bin Ziyad dan masih banyak lagi.

Itu karena masyarakatnya hidup berdampingan dengan adanya kontrol(amar ma’ruf) di tengah kehidupan mereka dan tentu nya negara sebagai pelaksana system pengaturan pergaulan, dan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang pergaulan serta sanksi sesuai islam bagi rakyatnya jika telah melanggar.

Maka dari itu pemuda harus sadar akan perannya sebagai agen perubahan. Namun, hal ini akan sulit terwujud selama negeri ini masih dicengkram oleh sistem kapitalis liberal. Kita membutuhkan sistem yang terbaik, Dan hanya dengan islamlah kita dapat mewujudkannya.

Editor: Syahrul

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: