30 September 2022

Penulis : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

Dimensi.id-Kutatap laut yang surut itu, sepi? Biasanya ramai apalagi kala meugang seperti ini. Tapi jalanan hari ini ramai dan padat. Mela dan aku mengambil jalan yang menuju arah jomblang, ya hari ini aku meminta Mela mengambil foto area pantai.

Lama sekali tak ke pantai in, padahal jarak rumah dan pantai hanya sekitar 15 menit perjalanan. Tapi sejak peristiwa itu aku merasa malas dan sedikit takut kepantai. Tsunami memang tak menyampu daerahku, jika pun ada hanya sebagiannya saja yang berdampak.

Covid ini membuat sebagian pemerintah mewanti-wanti agar tak berkerumun dan membuat keramaian, tapi itu sepertinya tak semua mematuhinya. Masih saja kulihat para pemuda yang menjamur bagai semut di café dekat pantai.

Sudah agak mendung nampaknya, apa hasil foto akan bagus ya? Kamera hp bututku tidak mampu menangkap cahaya, sehingga akan Nampak kurang maksimal. Tapi tak apalah, hanya sebuah foto untuk sesuatu yang gak terlalu penting.

“Disini aja kak kita ya” Mela menghentikan laju motornya

“Ya dek, agak sepi disini dan hanya ada kita saja” aku turun dari motor itu dan mencari lokasi yang tak menumpuk sampahnya

Ada semburat cahaya dimatanya, sebulan kami tak bertemu dan menahan rindu. Rasanya seperti keluar dari kandang, rindu melihat suasana diluar. Ah… sampai kapan ya Rabb wabah ini ada, besok sudah ramadhan. Dulu kita sering buat agenda disini, bertukar kado dan bermain.

Sekarang kita tidak bisa merencanakan untuk bukber, terawih bahkan sahur bersama. Ramadhan kali kita berbeda kawan, kita berjauhan dan kembali ke kampong halaman lebih cepat. Ujian kali ini memang terasa berat, namun insyaallah kita mampu laluinya kawan, bersabarlah dan terusa berdoa.

Ramadhan yang paling kita rindu, kita tunggu setahun lalu. Kini datang dengan segala perbedaannya, atas semua nikmat yang pernah kita sia-siakan. Kita yang terlalu terlena tersibukkan dunia. Kita hanya sibuk dengan dunia, baju baru, omset melangit, bukber dan terawihan. Kini Allah membalikkan semuannya, seolah ini seperti mimpi. Kita ingin dunia kembali normal, namun kita malas untuk mengindahkan syariatya.

Ya rabb… ampuni kami atas semua nikmat itu, sungguh kami memohon perlindungan dan penjagaanmu. Apapun keputusanmu yang terbaik akan kami jalani, di ramadhan yang berkah ini angkatlah penyakit ini. Hanya padamu kami meminta perlindungan dikala lemahnya manusia sombong ini merasa punya kekuatan yang bisa kau musnahkan sekejap mata.

Manusia yang kaya pun menjadi miskin, yang pintar pun Nampak bodoh saat semua ilmu dunia mereka hanya sebuah teori belaka. Sungguh kau maha kuasa atas segalanya ya Allah. Selamatkanlah kami dari musibah ini.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: