3 Oktober 2022

Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Praktisi Pendidikan)

Wabah Covid-19 ini belum kunjung usai. Grafik peningkatan kasus terus terjadi, tidak terkecuali Kalimantan Timur. Yang terbaru dilansir dari laman detik.com, Kasus positif virus Corona (COVID-19) di Kalimantan Timur bertambah delapan orang.

Berdasarkan hasil uji laboratorium kesehatan Surabaya penambahan jumlah kasus tersebut didominasi dari Claster Gowa. Penambahan delapan kasus positif saat ini menjadikan jumlah pasien terkonfirmasi kasus COVID-19 menjadi 162 positif, 148 menjalani perawatan, 13 sembuh dan 1 meninggal dunia. Peningkatan ini seharusnya menjadi peringatan besar bagi kaltim dan khususnya di Indonesia, karna banyak masyarakat yang bertanya “kapan wabah ini berakhir?”

Tentu ini bukan sebuah pertanyaan retoris. Sebab, adanya pandemi ini telah memberi dampak di berbagai lini kehidupan. Tidak hanya terhadap dunia kesehatan dan ekonomi, bahkan dunia pendidikan, sosial, dan juga perpolitikan. Dan adanya dampak ini tentu sangat dirasakan oleh masyarakat. Masyarakat yang harus menelan pil pahit akibat kelalaian dan ketidaksigapan pemerintah mengatasi wabah ini agar segera berakhir.

Salah satu yang amat dirasakan oleh masyarakat saat ini adalah himpitan ekonomi yang semakin mencekik. Apalagi, sejak adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal atau pekerja yang dirumahkan. Jumlah tenaga kerja yang dirumahkan sebanyak 4.109 berasal dari 70 perusahaan di Kaltim.

Sedangkan tenaga kerja mendapat PHK sebanyak 323 dari 33 perusahaan, (Sumber : Samarinda  Prokal). Kemudian, tidak hanya itu, masyarakat yang mencari nafkah dari penghasilan harian seperti berjualan dan sebagainya juga ikut merasakan adanya penurunan penghasilan karna adanya kebijakan social distancing hingga physical distancing.

Lalu, tidak berlebihan adanya jika negeri ini dikatakan tengah dalam ancaman kelaparan. Direktur Program Pangan Dunia (WFD), David Beasley, menyebut 265 juta penduduk terancam kelaparan sebagai dampak dari pendemi. Presiden Jokowi pun mengingatkan ancaman krisis pangan di Indonesia, dilansir dari kumparan.com. Dan belum lama juga terjadi kasus tewasnya seorang ibu yang diduga karna kelaparan di tengah pandemic ini. Seorang ibu warga Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan/Kota Serang, Provinsi Banten, bernama Yuli Nurmelia (43), meninggal dunia diduga karena kelaparan akibat pandemi corona virus disease (covid-19). Ia wafat pada Senin 20 April 2020, sekira pukul 15.30 WIB.

Melihat fakta yang terjadi sebenarnya tidak bisa dilepaskan juga dari kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Sedari awal berita covid-19 ini marak secara global, pemerintah dinilai meremehkan dan melalaikan pandemic ini. Ini terbukti adanya pemerintah yang justru membuka keran bagi wisatawan asing untuk masuk ke Indonesia. Kemudian, setelah kasus pertama muncul pemerintah juga gagap dan bingung menentukan sikap. Tak ayal, ujungnya pemerintah enggan lakukan lockdown dengan alasan ekonomi.

Jika ditelaah, sederet kebijakan dalam penanganan covid-19 adalah kebijakan yang sarat kepentingan segelintir elit kapitalis. Inilah yang membuktikan bahwa rezim hari ini adalah rezim  yang terbukti gagal atasi pandemi covid-19. Kegagalan ini bukan hanya tentang penanganan pasien, tapi juga gagal memberikan solusi terhadap masyarakat yang harus terdampak ekonomi akibat pandemic ini.

Ini adalah potret dari negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Sistem ini telah gagal atasi pandemic, bukan hanya bagi negeri ini tapi juga di Amerika Serikat. Sistem kapitalisme ini hanya akan mementingkan hitungan ekonomi suatu negeri dan membela dengan penuh korporasi. Para kapitalis akan diamankan kedudukannya meskipun kondisi negeri tengah ‘goyang’ akibat wabah ini. Kapitalisme tidak akan berpikir tentang nyawa rakyat, sekalipun angka kematian terus menunjukkan angka yang tinggi.

Kebijakan buah dari sistem ini telah gagal menyejahterakan kehidupan rakyat. Alih-alih pemerintah memastikan kebutuhan rakyat kecil, justru tanggung jawab ini diambil alih dengan gerakan sosial atau komunitas yang ada di tengah masyarakat. Pemerintah hanya mencukupkan diri dengan bantuan sosial berupa bantuan langsung tunai atau sembako yang juga kini menuai persoalan mulai dari persoalan data, kelambanan distribusi hingga jenis bantuan yang tidak sesuai dengan informasi yang ada. Kondisi ini semakin membuat carut marut negeri ini, di tengah masyarakat yang butuh solusi hakiki.

Islam sebagai sebuah aturan paripurna yang diberikan oleh Allah sejatinya mampu menjadi solusi bagi sluruh problematika hidup manusia. Islam adalah syariat yang berasal dari Allah, yang Maha Benar dan Maha Mengatur. Dengan kehadiran syariat islam di berbagai aspek kehidupan, mampu menjadi cahaya di tengah kegelapan sistem bathil seperti sekarang. Islam kaffah adalah satu-satunya solusi tuntas untuk pandemi ini. Bagaimana solusi dalam islam?

Pertama dari segi pemimpin, dalam islam seorang pemimpin adalah teladan terbaik bagi rakyatnya. Apalagi di tengah menghadapi krisis ekonomi, seorang pemimpin mesti sadar akan tanggung jawab dan penderitaan rakyatnya. Pemimpin dalam islam yakni seorang khalifah akan mendahulukan rakyat dan keselamatan jiwa rakyatnya dibandingkan aspek lain termasuk aspek ekonomi. Seorang khalifah akan bertanggung jawab atas ini semata-mata ketaatan kepada Allah bukan sekedar menarik simpati masyarakat terhadapnya. “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Kedua, negara dalam islam akan mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi krisis ekonomi secara cepat, tepat, dan komprehensif. Yang dilakukan oleh khalifah tentu mengerahkan seluruh struktur kekhilafahan untuk segera membantu masyarakat yang terdampak, baik itu terdampak akibat PHK atau kelaparan. Dengan sistem ekonomi islam juga menjadikan negara dapat mengatur anggaran dengan baik meskipun di tengah pandemic ini.

Ketiga , apabila keuangan dalam negara tidak mampu mencukupi maka negara boleh meminta bantuan ke wilayah atau daerah bagian Kekhilafahan Islam yang kaya dan mampu memberi bantuan. Negara harus mendata keuangan dan kebutuhan ditengah krisis, mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai daerah kaya untuk meminta bantuan, Pemerintah pusat langsung memobilisasi daerah-daerah wilayah Kekhilafahan Islam yang kaya dan mampu untuk membantu menyelesaikan krisis tersebut, memberikan bantuan yang kualitas dan kuantitasnya terbaik.

Keempat, negara mengajak seluruh masyarakat untuk bertaubat dan mengadu kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas seluruh dosa dan kesalahan yang diperbuat selama ini. Bisa jadi, karena banyaknya dosa dan kesalahan inilah yang mengundang murka Allah subhanahu wa ta’ala sehingga bencana itu datang.

Demikianlah seharusnya kita sebagai umat islam mengambil solusi agar pandemic ini segera berakhir. Mungkin ini alarm bagi kita bahwa sistem kapitalisme yang selama ini diterapkan atas negeri-negeri muslim tidak bisa diharapkan karna kebobrokannya.

Allah telah membuka tabir rezim yang berpegang erat pada sistem ini, yang tak lebih hanya rezim yang tunduk dan patuh pada para elit kapitalis saja. Allah juga ingin tunjukkan bahwa hanya syariat islam yang akan membawa perubahan bagi dunia ini. Mari bersama sambut janji Allah ini dengan perjuangan, agar pertolongan Allah segera datang. Aamiin yaa rabbal ‘alamin. Wallahu’alam bish shawab.

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: