3 Oktober 2022

Dimensi.id-Topik yang masih selalu hangat di masyarakat yaitu Covid-19. Kecemasan mereka tentang penularan dan kecemasan memenuhi kebutuhan hidup. Sampai dengan tanggal 10 mei 2020 14.023 positif terjangkit Covid-19.

Dalam waktu hampir 3 bulan ini , masyarakat sudah banyak yang melakukan pembatasan diri sudah mulai bosan menjalani. Karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial yang memang butuh aktualisasi bertemu dengan orang lain.  

Ada kabar gembira yang berasal dari peneliti dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA bahwa wabah virus corona di dunia atau 99 persen kasus corona akan selesai pada rentang Juli-September 2020, berdasarkan hasil riset dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dipublikasi hari ini, Rabu (29/4). Untuk Indonesia, 99 persen kasus virus corona akan berakhir Juni 2020.

Riset Denny JA ini bukan survei opini publik atas virus corona. Riset ini bertujuan mengolah data sekunder dari tiga sumber yakni dari Worldmeter data dunia virus corona,  Singapore University of Technology and Desaign, dan berbagai hasil riset lainnya. CNN Indonesia | Rabu, 29/04/2020

Singapore University of Technology and Design (SUTD) melakukan penelitian mengenai kapan berakhirnya pandemi Covid-19 di Indonesia. Dalam penelitian tersebut, ilmuwan tersebut menyebutkan 97% kasus di Indonesia akan selesai pada 6 Juni 2020 nanti. Sedangkan 100% kasus diperkirakan akan selesai pada 1 September 2020. CNBC Indonesia 29/4/2020

Goodnews ini menjadi angin segar bagi pemerintah dalam penggulangan Covid -19. Dengan adanya prediksi ini pemerintah berencana melakukan relaksasi PSBB. Hal ini diutarakan oleh Mahfud MD, menerangkan sejumlah negara sudah mulai memberlakukannya seperti di Malaysia, India, Italia dan Amerika untuk wilayah tertentu. Menurutnya relaksasi dilakukan karena melihat masyarakat yang kesulitan bergerak sehingga tidak bisa menggerakkan roda ekonominya masing-masing.

Melihat fakta prediksi di atas, masyarakat pasti akan menyambut gembira. Namun yang perlu dikhawatirkan adalah turunnya kewaspadaan masyarakat. Ditambah dengan rencana relaksasi. Akan berpeluang pelanggaran protokol kesehatan yang ditetapkan WHO seperti social distancingphysical distancing, penggunaan masker, mencuci tangan dan lain sebagainya.

Peremehan tingkat bahaya. Serta terlalu optimistis dapat melonggarkan disiplin individu dan memperpanjang masa penularan corona. Karena sudah menjadi rahasia umum perilaku hidup sehat di Indonesia belum menjadi kebiasaan masyarakat.

Namun demikian hasil penelitian ini menggunakan disclaimer data ini untuk tujuan pendidikan, dan penelitian dan mungkin mengandung kesalahan . Peneliti Singapore University of Technology and Design (SUTD) pun memperingatkan akurasi model yang digunakan tergantung pada kualitas data. Model tersebut tidak bisa memprediksi efek dari kebijakan yang diambil pemerintah.

Oleh karena itu wacana relaksasi PSBB ini dinilai sangat terburu-buru, mengingat kesadaran  kebiasaan hidup bersih di Indonesia masih rendah. Sangat rawan terjadi penularan yang masif jika banyak terjadi pelanggaran protokol kesehatan WHO.

Relaksasi diwacanakan untuk merangsang roda ekonomi agar bergerak lagi. Ekonomi bergerak lambat karena hampir semua propinsi sudah masuk zona merah, meskipun ada beberapa kota / kabupaten yang masih bersih.

Sistem Islam dalam mengelola wabah, wajib dilakukan karantina untuk daerah wabah. Untuk pencegahan penularan sehingga tersebar luas. Adanya larangan keluar masuk wilayah wabah,  Namun, untuk wilayah yang masih bersih maka mereka berkerja dengan normal untuk tetap menggerakkan ekonomi negara.

Dan daerah wabah menyelesaikan wabahnya dengan jaminan dari pemerintah untuk keamanan, kesehatan, pangan dan lain sebagainya. Secara umum dengan tindakan seperti ini ekonomi negara tetap bergerak, dengan demikian selepas wabah masyarakat akan dapat bekerja normal kembali dengan keadaan ekonomi yang stabil.

Kondisi sekarang, semua daerah Work From Home / WFH dan banyak industri yang merumahkan karyawannya. Hal ini sangat mengkhawatirkan dari sisi ketahanan pangan. Tidak dilakukannya produksi ini akan berimbas pada hari-hari kedepan, terjadi kelangkaan barang yang akan mengakibatkan inflasi tinggi.

Seyogyanya pemerintah mulai berhitung tentang ketahanan pangan setelah wabah. Menyiapkan stok pangan, berproduksi selama wabah sebaiknya tetap dilakukan di daerah yang memang sudah dipetakan bersih dari wabah. Bahkan perlu ditingkatkan produksinya karena daerah ini yang akan menyokong ketahanan pangan untuk daerahnya dan daerah wabah.

Mitigasi bencana/wabah pembahasan aspek penyiapan pangan, merupakan hal yang sangat penting dilakukan. Seperti kita ketahui , hampir semua produk kebutuhan pokok banyak pemenuhannya tergantung dari impor.

Karena produksi dalam negeri tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini sangat mengkhawatirkan jika negara asal impor menghentikan ekspor mereka, ntuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka. Kelangkaan barang menjadi keniscayaan, yang sangat rawan memicu gejolak sosial. Seprti pencurian, perampokan, penjarahan, ini yang sangat kita hindari. Na’udzubillahimindzalik.

Setelah mitigasi jelas maka langkah relaksasi daerah zone merah PSBB, tidak perlu dilakukan. Cukup meyelesaikan wabah daerah PSBB dan daerah bersih menggenjot produksi. Ini yang akan menggerakkan ekonomi. Masyarakat dalam wabah pun harus tetap disiplin dalam menjalani karantina dan tidak boleh meremehkan tingkat bahayanya. Allahua’alambishowab

Penulis : Rosyidah Assanani (Pengajar)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: