3 Oktober 2022

Dimensi.id-Hingga 10  may 2020 telah terkonfirmasi oleh pemerintah jumlah angka positif virus Corona di Indonesia mencapai 14.032 kasus. Angka yang relatif sangat besar mengingat kurang dari 3 bulan lalu Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus COVID-19 yakni pada Senin 2 Maret lalu (detik.com 26/4/2020).

Walaupun angka terkonfirmasi terus naik, masyarakat tak perlu cemas berkepanjang sebab banyak lembaga riset yang memprediksi Wabah virus corona akan segera berakhir. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA  telah menyampaikan hasil risetnya yang dipublikasi bulan april lalu, Rabu (29/4) menyebut 99 persen kasus virus corona akan berakhir Juni 2020 (CNNIndonesia.com, 29/04/2020).

Hal yang sama juga disampaikan oleh Singapore University of Technology and Design (SUTD) yang menyampaikan hasil penelitian mengenai kapan berakhirnya pandemi Covid-19 di Indonesia memberikan harapan bahwa penyebaran virus ini akan segera berakhir sebelum akhir tahun ini. Lebih lanjut dalam penelitiannya, ilmuwan tersebut menyebutkan 97% kasus di Indonesia akan selesai pada 6 Juni 2020 nanti. Sedangkan 100% kasus diperkirakan akan selesai pada 1 September 2020. (cnbcindonesia.com 02/5/020).

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Letnan Jenderal TNI Doni Monardo mengamini berbagai prediksi tersebut melalui statmennya bahwa Indonesia akan mampu menurunkan kasus Covid-19 pada bulan Juni, sehingga kehidupan masyarakat diharapkan akan mulai berjalan normal kembali pada bulan Juli mendatang(kompas.com , 27/4/2020).

Semua prediksi diatas dipertanyakan oleh Epidemiolog dari Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjajaran (Unpad), Bony Wien Lestari,

“Sebagai seorang epidemiolog, saya akan bertanya atas dasar apa kemudian beliau bisa menyatakan bahwa pandemi akan berakhir Juni dan kondisi Indonesia mulai normal Juli. Hingga saat ini, masih menunjukkan tren peningkatan kasus positif, ODP dan PDP disertai perluasan kasus ke hampir seluruh kabupaten kota di mana sekarang 25 dari 27 kabupaten kota sudah terdampak Covid-19,” kata Bony Kepada Liputan6.com, Sabtu (2/5/2020).

Prediksi bisa jadi Ilusi

Waspada dan juga berhati-hati adalah hal pertama yang harus dilakukan saat mengetahui beberapa prediksi kapan berakhirnya wabah Covid-19. Pasalnya jumlah angka pasien positif Covid-19 yang ada belum menunjukkan tren penurunan sama sekali, bahkan jika diperhatikan wabah tersebut cenderung menyebar ke seluruh wilayah di daerah-daerah.

Perlu dipahami, sebelum sebuah pandemi berakhir maka tentu harus melalui puncak terlebih dahulu. Kondisi tersebut belumlah terjadi maka adalah suatu hal yang wajar jika sebagian dari kita rasa khawatir akan kondisi tersebut.  Kapan puncak pandemi terjadi dan Berapa besar angka positif belum mampu diprediksi.

Perkiraan waktu berakhirnya wabah juga berbahaya, karena hal ini dapat memunculkan optimisme berlebihan bahkan dapat mengendurkan kedisiplinan dan kendali diri masyarakat yang dikhawatirkan dapat menyebabkan virus kembali berputar. Dengan kata lain, sikap optimisme berlebihan harus dihindari agar jumlah pasien terinfeksi tidak meningkat secara drastis

Apalagi kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga diabaikan oleh masyarakat dengan melakukan aktivitas normal seperti tidak terjadi wabah Covid-19. Hal ini pun didukung oleh pemerintah dengan adanya kebijakan mode transportasi diizinkan aktif kembali seperti sedia kala.

Peran Negara dalam Pandangan Islam

Dalam menghadapi pandemic peran negara sangat krusial untuk menangani berbagai persoalan yang muncul. Negara wajib berada dalam garda terdepan dalam menghadapi situasi tersebut sebab negara memiliki otoritas yang besar untuk mengeluarkan kebijakan yang memaksa rakyat untuk patuh terhadap aturan maupun protokol kesehatan. Negara memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk mengorganisir kebutuhan sumber daya alam maupun  manusia sehingga dapat menghasilkan solusi terbaik penanganan wabah Covid-19.

Selain itu, negara memiliki para ahli yang kompeten untuk melakukan riset seoptimal mungkin guna menemukan vaksin wabah Covid-19. Lebih lanjut negara juga mencukupi kebutuhan pangan dan kesehatan masyarakat selama masa pandemik. Hal inilah yang seharusnya dilakukan negara agar rakyat bisa tenang berada #dirumahaja tanpa perlu kuatir.

Semua ini adalah konsep yang ditawarkan oleh islam sebagai ri’ayah su’unil ummah ( memikirkan, dan mengelola semua urusan dan nasib umat / rakyat). Sebab kekuasaan dalam Islam digunakan untuk melaksanakan amanat Syariat Allah, karena Syariat adalah rahmat. Tanpa rahmat kita tak akan selamat dunia akhirat. Mengurusi kebutuhan rakyat dan menempatkan rakyat sebagai pihak yang dipenuhi kebutuhan oleh negara adalah konsep islam dalam bernegara.

Sehingga rakyat tidak diabaikan, dimana jumlah angka positif bahkan korban meninggal tidak dipandang sebagai angka statistik semata, tapi sebagai sebuah jiwa yang harus dilindungi hajat hidupnya.Sebab di sisi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim lebih lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Penulis : Desi Dian S, S.I.Kom

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: