30 September 2022

Dimensi.id-Di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19, tenaga medis mulai dari dokter hingga petugas kebersihan rumah sakit, menjadi pejuang di garda terdepan dalam menolong masyarakat. Namun begitu, rasa takut selalu dapat mempengaruhi nurani tiap orang. Seperti yang dialami dokter dan perawat di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur. Paramedis tersebut justru mendapat perlakuan tak menyenangkan karena tiba-tiba diusir dari kosan yang disewa.

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhilah, membenarkan adanya aduan dan keluh kesah dari paramedis tersebut.

“Iya ada. Ya mereka kan sejak Rumah Sakit Persahabatan ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan itu, bukan hanya perawat, ada juga dokter, mahasiswa juga yang di situ, diminta untuk tidak kos di situ lagi,” tutur Harif saat dihubungiLiputan6.com, Rabu (25/3/2020).

Harif menduga, peristiwa itu ada kaitannya dengan rasa cemas dan ketakutan masyarakat terkait penyebaran virus Corona Covid-19. Meski disebut hanya beberapa dari perawat yang mengadu, dia menyayangkan adanya tindakan tersebut.

Nasib yang sama juga terjadi di Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Ungaran. Di sana terjadi terhadap jenajah seorang perwat yang positif terpapar virus corona. Penolakan tersebut dilakukan oleh sekelompok warga di daerah Sewakul, Ungaran, Kabupaten Semarang pada Kamis (9/4/2020). Jenazah yang ditolak pemakamannya itu adalah seorang perawat yang bertugas di RSUP Kariadi Semarang. Kompas.com

Miris memang mengetahui adanya tindakan demikian terhadap orang-orang yang terpapar virus corona. Sejatinya kondisi yang menjadikan mereka terinveksi atau sampai menyebabkan kematian adalah bukanlah keinginan mereka. Masyarakat harus melihat ini sebagai ketetapan Allah swt atas mereka.

Minimnya edukasi dan informasi ditengah masyarakat menyebabkan banyak yang menolak bahkan merasa malu ketika ada sebagian orang yang terpapar virus tersebut. Makin bertambahnya jumlah orang yang terinveksi virus ini dan banyaknya korban yang meninggal menjadikan kepanikan ditengah masyarakat tak terelakan.

Pasien, keluarga dan tenaga medis yang menjadi garda terdepan penanganan pasien virus Covid 19 ini mendapat perlakuan diskriminatif dari masyarakat berupa cap negatif, pengicilan dan pengusiran. Inilah contoh yang terjadi akibat adanya kelalaian Negara dalam menangani pandemic Covid 19. Negara Kurang mendetailnya informasi terkait penyebaran dari wabah ini juga memicu tindakan dari warga di berbagai daerah tersebut.

Mereka menangani dengan pemahaman yang minim terkait penanganan wabah ini karena takut dan panik. Ini menjadi buah simalakama terkait hal ini. Kurang mendetailnya informasi terkait penyebaran dari wabah ini juga memicu tindakan dari warga di berbagai daerah tersebut. Di satu sisi jika sebarkan inforasi terkait penyevaran ODP dan PDP maka akan menimbulkan kekhawatiran yang muluas. Namun jika tidak di berikan informasi maka masyarakat tidak akan waspada untuk mrnjaga diri dari penyebaran ini.

Maka dalam kondisi seperti peran negara lewat kebijakan seorang pemimpin sangat diperlukan untuk memenuhi, mengedukasi, menjaga masyarakat. Namun hal tersebut makin memperlihatkan lalainya pemerintah dalam menangani dan mengurus kebutuhan masyarakatnya.

Semua hal ini berakar dari asas yang menjadi dasar penetapan aturan kehidupan saat ini yaitu sistem sekuler kapitalis. Sekularisme yang menjauhkan agama dari kehidupan menjadikan manusia membuat aturan yang jauh dari syariat Allah. Sedangkan kapitalisme memandang segala sesutu berdasarkan materi, untung rugi semata sehingga kebijakan berorientasi bukan pada edukasi dan keselamatan masyarakat.

Dalam islam pemimpin adalah pelayan bagi umat, yang akan siap melayani berbagai keperluan umat dengan standar syariat islam. Atas dasar hal tersebut maka pelayanan diberikan akan diupayakan adalah pelayanan yang optimal. Pelayanan yang diberikan berupa pemenuhan kebutuhan pokok, obat-obatan, tenaga medis, hingga pengurusan terhadap orang-orang yang sak

it, hingga merawat jenazah korban meninggal dalam wabah tersebut. Termasuk mengambil keputusan mengkarantina wilayah yang terkena wabah agar penyakitnya tidak menular secara meluas. Ini bagian bentuk dari tanggung jawab orang-orang yang diberi amanah di dalam islam yaitu pemimpin beserta jajarannya. Adapun ketika pada saat menangani pasien yang terinfeksi, mereka yang menolong tersebut meninggal, maka akan mendapatkan pahala sahid. Sesuai sabda Rasul Saw :

“Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena ath-tha’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914)

Selain itu negara juga akan memberikan edukasi dan informasi akurat terkait wabah tersebut sehingga hal ini menjadi bekal masyarakat dalam mengambil sikap terhadap kajedian disekitarnya agar tidak salah dan merugikan orang lain.

Tentu semua hal ini akan terlaksana ketika negara mengambil islam sebagai aturan yang mengatur kehidupan. Dan aturan tersebut ditetapkan oleh negara islam. Wallahualam.

Penulis : Nur istiqamah, S.Gz (Muslimah peduli generasi)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: