3 Oktober 2022

Dimensi.id-Masa pandami akibat Covid 19, tidak hanya membawa dampak pada sektor kesehatan tetapi juga menjadi ancaman besar bagi sektor ekonomi. Program Pangan dunia PBB (WFP) telah memperingatkan bahwa dunia menghadapi mega kelaparan apabila tak cukup memiliki dana untuk memerangi dampak dari pandemi virus corona terutama bagi negara-negara yang paling rapuh di dunia yang sudah bergulat dengan kerawanan pangan sebelumnya.

Di Indonesia, dengan 267 juta penduduknya (2019) menurut data BPS dan sebanyak 24,79 juta jiwa masih di bawah garis kemiskinan. Ditambah lagi, dengan pandemi Covid-19 ini, membuat rakyat lebih sulit untuk mendapatkan penghasilan.

Sebagai contoh yang terjadi di Serang Banten, seorang ibu warga Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan/Kota Serang, Provinsi Banten, bernama Yuli Nurmelia (43), meninggal dunia diduga karena kelaparan akibat pandemi Covid-19. Ibu Yuli dan keluarga sebelumnya ramai diberitakan karena selama dua hari mengalami kelaparan. Mereka pun hanya bisa meminum air galon isi ulang dan singkong yang dimilikinya.

Kapitalisme, mengokohkan kemiskinan dunia.

Fakta diatas, sungguh sangat tragis dan membuktikan bahwa sistem kapitalisme yang digunakan oleh hampir seluruh negara di dunia ini telah gagal mensejahterakan dan menangani masalah rakyat terutama saat wabah. Hal yang terjadi, justru kian terlihatnya kesenjangan sosial dalam masyarakat.

Para elit kapitalis, yang memiliki modal berhak menguasai berbagai sumber daya alam negeri dan menjadikan rakyat biasa harus gigit jari sebab tak punya kuasa. Padahal, indonesia adalah negara agraris di mana penghasilan utama rakyatnya berasal dari pertanian. Pernah tercatat dalam sejarah, Indonesia adalah negara pengekspor pertanian dan mengalami swasembada pangan.

Pengamat sekaligus dosen ekonomi Islam, Nida Saadah, mengatakan ini merupakan fakta yang aneh karena terjadi di negara agraris. Di negeri agraris dan pengekspor pertanian, rakyatnya justru kelaparan. Bila diurai, persoalan utama dari kelaparan bukan sekadar perbaikan pertanian, tapi pada distribusi pangannya. Di daerah tertentu memang mengalami surplus pangan, apalagi saat panen raya tiba. Akan tetapi, ada daerah lain yang tanahnya memang tak cocok ditanami sehingga perlu adanya proses pendistribusian yang rata. (Muslimahnews.com)

Islam solusi tuntas hadapi kelaparan

Ditengah kegagalan kapitalisme menyelesaikan permasalahan kelaparan akibat kemiskinan, Islam mempunyai solusi yang telah terbukti berhasil sebab sistem tersebut dibangun di atas landasan wahyu Allah SWT dan dituntun oleh Rasulullah SAW serta dilanjutkan para Khalifah setelahnya.

Dalam Islam, Peran sentral pengaturan seluruh aspek kehidupan termasuk tata kelola pangan yang berada di tangan Negara/Khilafah dan dikelola mandiri oleh negara. Stok pangan telah dipersiapkan, sehingga apabila wabah melanda ‘lockdown’ mudah dilakukan sebab rakyat telah aman dari kelaparan. Sebagaimana yang dicontohkan Khalifah Umar bin Khaththab ketika menghadapi krisis beliau membangun pos-pos penyedia pangan di berbagai tempat, bahkan mengantarkan sendiri makanan ke setiap rumah.

Begitu pula SDM yang dibutuhkan untuk mendistribusikan bahan pangan, yakni aparatur Khilafah. Aparatur Khilafah selain memiliki kompetensi juga amanah menjalankan fungsinya sebagai pelayan masyarakat, serta memiliki kesadaran ruhiyah tinggi bahwa tugas yang dijalankan ialah bagian amal saleh yang akan mendapat ganjaran yang sangat besar di sisi Allah SWT.

Kesahihan visi negara yang disandarkan pada hukum syara’ serta konsep politik ekonomi pertanian pangan akan menjadikan Khilafah mampu mengatasi krisis secara cepat dengan dampak yang seminim mungkin. Hal ini juga telah terbukti di berbagai masa ketika Khilafah pernah tegak.

Penulis : Magfirah Abdullah (Aktivis Dakwah Islam)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: