3 Oktober 2022

Dimensi.id-Ramadan amatlah istimewa. Bagi mukmin, tiap menit detiknya di bulan mulia ini adalah sesuatu yang berharga jika dilalui begitu saja. Ada banyak kebaikan yang dilipatgandakan pahalanya. Setan dan iblis pun Allah penjara selama sebulan yang mulia.

“Sesungguhnya bulan (Ramadan) telah datang kepada kalian, di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang tidak mendapatinya maka ia telah kehilangan banyak sekali kebaikan“ (diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Mundziry). Tidak ada malam yang lebih baik dari bulan ramadhan, barang siapa yang tidak mengisinya dengan kebaikan maka ia telah rugi sebab belum tentu di tahun depan ia akan bertemu kembali dengan ramadan.

Kemuliaan Ramadan tak diragukan. Sebab di bulan ini pula al Qur’an Allah turunkan. Allah SWT berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?  Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar ayat 1-5)

Al-Qur’an adalah pedoman hidup kita untuk bisa selamat dunia akhirat. Kita tidak cukup mengandalkan akal dan perasaan. Banyak hal tidak terjangkau oleh akal dan perasaan, dan kita bisa tersesat jika hanya menggunakan keduanya, seperti siapakah Allah, bagaimana sifat-sifat Allah, tujuan manusia diciptakan, hakikat kehidupan, kehidupan sesudah mati, alam ghaib, dan sebagainya.

Namun akal dan perasaan juga penting. Keduanya adalah sarana yang telah disiapkan oleh Allah agar kita memahami Al-Qur’an, disamping juga ayat-ayat kauniyah. Tetapi jangan pernah menuhankan akal dan perasaan semata. Yang benar adalah menggunakan akal dan pikiran bersama-sama dengan petunjuk Al-Qur’an.

Rasulullah SAW diutus untuk membacakan Al-Qur’an kepada umat manusia yang lainnya. Dan pada saat yang sama, Rasulullah juga diutus sebagai penjelas dan penafsir apa-apa yang ada dalam Al-Qur’an. Tidak mungkin Allah menurunkan Al-Qur’an begitu saja dari langit tanpa seorang juru penjelas (dan karena itu diutuslah Rasulullah). Semua kata-kata dan tindakan Nabi adalah penjelasan dan tafsir terhadap Al-Qur’an.

Karena itu kita harus mempelajari sabda-sabda dan perilaku beliau – yang biasa disebut sebagai Sunnah – untuk bisa memahami Al-Qur’an dengan baik. Tidak mungkin kita bisa memahami Al-Qur’an dengan baik tanpa memahami Sunnah dengan baik. Contoh sederhana, dalam Al-Qur’an terdapat banyak perintah Wa aqiimush sholaat (Dan dirikanlah sholat). Wa aatuz zakaat (Dan tunaikan zakat). Tetapi bagaimana tata cara sholat dan zakat sama sekali tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dari Sunnah-lah kita baru bisa mengetahui tata cara sholat dan zakat.

Sedemikian pentingnya Al-Qur’an, dalam QS. Ali ’Imran Allah melalui lisan para nabinya memerintahkan manusia untuk menjadi rabbaniyyin, yang mana ini merupakan misi hidup manusia. Dan ternyata yang dimaksud dengan rabbaniyyin itu adalah: bimaa kuntum tu’allimuunal kitaab wa bimaa kuntum tadrusuun (karena kalian mengajarkan Kitab Allah dan karena kalian terus mempelajarinya). Senada dengan itu, Rasulullah bersabda: Khairukum man ta’allamal Qur’an wa ’allamahu (Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan yang mengajarkannya).

Tetapi kenyataannya, sudah seperti apa kita memuliakan Al-Qur’an? Sudah sebagus apa interaksi dan keakraban kita dengan Al-Qur’an? Membacanya hanya ketika tadarus di bulan Ramadan saja? Atau mungkin Al-Qur’an masih sebatas sebagai hiasan di rumah-rumah kita? Ditaruh di tempat yang tinggi? Dituliskan dalam kaligrafi? Ataukah masih sebatas sebagai seremonial untuk membuka acara-acara? Atau masih sebatas diperlombakan dalam event-event MTQ?

Tidakkah kita perhatikan keluhan Sang Rasul tentang kaumnya yang meninggalkan dan menyia-nyiakan Al-Qur’an? Allah SWT berfirman, “Dan berkatalah Sang Rasul, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini tersia-siakan.” (QS. Al-Furqaan: 30). Betapa umat saat ini membaca al Qur’an namun tidak memahami kandungan maknanya, tidak mengimplementasikan seluruh petunjuk di dalamnya, tidak menjadikannya hidup di tengah-tengah kehidupan dunia yang serba menipu dan fana.

Sesungguhnya, Al-Qur’an adalah kitab peradaban, yang darinya suatu kaum dapat dimuliakan. Dengan mempelajarinya, seseorang akan menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan penerapannya secara kaffah akan menjadikan sebuah negara menjadi negara kuat dengan peradaban maju dan cemerlang.

Dari ‘Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfan (sebuah wilayah diantara Mekah dan Madinah, pent). Pada waktu itu ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Maka ‘Umar pun bertanya kepadanya, “Siapakah yang kamu angkat sebagai pemimpin bagi para penduduk lembah?”. Nafi’ menjawab, “Ibnu Abza.” ‘Umar kembali bertanya, “Siapa itu Ibnu Abza?”. Dia menjawab, “Salah seorang bekas budak yang tinggal bersama kami.” ‘Umar bertanya, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”.

Maka Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah ‘azza wa jalla dan ahli di bidang fara’idh/waris.” ‘Umar pun berkata, “Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian kaum yang lain.”.” (HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin).

Maka momentum Ramadan kali ini seharusnya menjadi momentum terbaik bagi umat islam untuk menerapkan kesuluruhan isi al Qur’an sehingga peradaban yang rusak dan gagal saat ini segera tergantikan dengan peradaban Islam.

Wallahu’alam bisshowab.

Penulis : Laily Chusnul Ch. S.E

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: