30 September 2022

Marhaban ya Ramadhan…

MasyaAllah Kini kita Masih Allah beri Kesempatan untuk Menghirup Udara segar Pada Bulan Ramadhan Tahun ini. walaupun pada saat ini Ramadhan kita sedang dilanda bencana wabah Covid19 ,dan alhamdulillah Allah masih mengizinkan kita bertemu kembali dengan Ramadhan ditengah pandemi saat ini .Banyak yang Berdoa dihari hari Nya agar Bisa merasakan Nikmatnya Ramadhan setiap Tahunnya.

Dan kini Allah masih memberikan kesempatan kita di ramadhan ini. Bulan Ramadhan bulan sangat istimewa  bulan Allah Turunkan Alqur’an pada saat itu. Tak kalah Istimewa ,Pada bulan Ramadhan Ada suatu malam yang sangat Istimewa, dimana Setiap ummat manusia berlomba lomba untuk Mendapatkan malam itu. Malam yang sangat Istimewa itu kita kenal dengan Sebutan nama Malam Lailatul Qadar malam yang Lebih baik dari pada Seribu bulan atau sekitar 83 tahun 3 bulan.

Tak terasa hari demi hari sudah kita lewati dalam bulan ramadhan ini ,sekarang kita sudah berada di 10 malam kedua bulan Suci Ramadhan dan tak lama lagi dengan cepatnya akan masuk fase 10 malam terakhir Bulan Suci ramadhan dimana Malam Istimewa itu akan Hadir ditengah tengah kita. Maka banyak ummat yang berlomba dalam meraih nya. Sebuah malam yang utama ,yang keutamaannya lebih baik dari seribu bulan . yang mana telah Allah SWT Tegaskan Dalam Firmannya :

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3 

“ Tahukah kamu , apakah Lilatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu adalam(malam yang) lebih baik dari seribu bulan (TQS AL-Qadar[97]:2-3)”

Menurut Mujahid ,Hal itu bermakna bahwa menghidupkan Lialatul Qadar  dan beramal didalamnya adalah lebih baik dari pahala beribadah selama kira-kira 83 Tahun 3 Bulan. {Ibnu Al-Jauzi , At-Tadzkirah  al-Waizh,1/218}.

Tentang keutamaan Menghidupkan Lailatul Qadar,Rasulullah SAW bersabda :

وَ مَنْ قَامَ لَيْلَة الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“ Siapa saja yang Menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan Pengharapan kepada Allah, Maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu {HR. Bukhari dan Muslim}”

Begitu besarnya keutamaan Lailatul Qadar , Allah SWT Merahasiakan keberadaan malam tersebut.  Meski demikian Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa lailatul Qadar  terjadi di sepuluh malam terakhir Ramadhan:

تَحَرُّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah oleh kalian  Lailatul Qadar pada malam-malam Ganjil  di sepuluh malam terakhir Ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim).

Pertanyaannya : Mengapa Allah merahasiakan keberadaan malam  Lailatul Qadar ?

Menurut Imam An-Nasafi, “Allah SWT merahasiakan keberadaan Lailatul Qadar agar kaum muslim Bersungguh-sungguh dalam beribadah diseluruh malam Ramadhan.”

(Ibnu Abdussalam  ash-shafuri,Najhah al-Majalis wa al-Muntakhab Annafais,1/162).

Senada dengan itu , Menurut imam Al-ghazali  ,Maksud Allah menyembunyikan keberadaan malam Lailatul Qadar  Agar manusia melipat gandakan kesungguhannya dalam  dalam mencari malam tersebut (Al-Ghazali,Ihya Ulum ad-Din,3/121).

Namun Demikian  kita layak meneladani salafush-shalih. Bagi mereka, kesungguhan dalam beribadah tak hanya khusus malam Lilatul Qadar ,juga tak khusus pada malam Lilatul qadar pada bulan Ramadhan saja,dalam artian dalam setiap saat dan setiap waktu dan setiap malam sepanjang usia kehidupan mereka.Sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh abdul abbas :

“Seluruh waktu kami adalah Lailatul Qadar.Artinya,Ibadah kami setiap waktu senantiasa berlipat ganda.” (Abdul Abbas,Iqazh Al Himam  Syarh Matan al-Hikam,1/62).

Adakah yang Lebih Utama dari malam Lilatul Qadar ?

Dengan Merenungkan betapa besarnya keutamaan  menghidupkan Lilatul Qadar, sudah sepantasnya setiap muslim berhasrat dan bersungguh-sungguh meraih keutamaan tersebut. Sebab, dengan keutamaan yang lebih baik dari seribu bulan atau 83 tahun –melampaui rata-rata usia manusia akir Zaman-tentu sangat disayangkan  jika sampai hal ini di sia-siakan. Apalagi keutamaan Lailatul Qadar Tidak datang setiap harinya.

 Sewajarnyalah kaum muslim bersungguh-sungguh beribadah selama Ramadhan ,diantaranya dengan banyak beritikaf di masjid, semata-mata mengharap  meraih keutamaan malam Lailatul Qadar. Namun Demikian Lailatul Qadar bukanlah satu-satunya keutamaan yang Allah SWT berikan  kepada kaum muslim.Banyak Keutamaan lain yang Allah berikan kepada para hambanya.salah satunya bahkan melebihi keutamaan menghidupkan Lilatul Qadar. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadis sahih:

مَوْقِفُ سَاعَةً فِي سَبِيْلِ اللهِ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ عِنْدَ الْحَجَرْ الْأَسْوَدِ

Berjaga-jaga satu jam saja di medan jihad fi sabilillah adalah lebih baik daripada menghidupkan Lailatul Qadar di dekat Hajar Aswad (HR Ibn Hibban dan al-Baihaqi).

 Bayangkan, menghidupkan Lailatul Qadar—yang lebih baik dari seribu bulan—adalah amalan utama. Apalagi dilakukan di tempat yang utama. Di dekat Hajar Aswad. Namun demikian amalan utama tersebut bisa dikalahkan oleh amalan jihad di jalan Allah SWT meski sekadar berjaga-jaga cuma sebentar saja.

 Rasulullah saw pun bersabda dalam hadis sahih lainnya:

 أَلاَّ أُنَبِّئُكُمْ لَيْلَةً أَفْضَل مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ حَارِسٌ حَرَسَ فِي أَرْضِ خَوْفٍ لَعَلَّهُ أَنْ لَا يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ

Tidakkah kalian mau aku beritahu suatu malam yang lebih utama dari Lailatul Qadar? (Yaitu) seseorang yang berjaga-jaga di suatu medan yang menakutkan (medan jihad, red.) yang boleh jadi dia tidak bisa kembali kepada keluarganya (karena terbunuh sebagai syahid, red.) (HR al-Hakim).

Sayang, tidak sebagaimana besarnya hasrat umat untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar, tidak banyak Muslim yang merindukan keutamaan jihad fi sabilillah. Padahal jihad bahkan merupakan amalan utama yang lebih dulu disebut oleh Rasulullah saw sebelum haji mabrur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra:

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَال: إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ. قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: حَجٌّ مَبْرُورٌ

Nabi saw. pernah ditanya, “Amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya?” Beliau ditanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah?” Beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji mabrur.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

 Itulah mengapa, dalam banyak riwayat, para sahabat sering begitu antusias saat ada panggilan jihad dari Rasulullah saw. Apalagi pada Bulan Ramadhan. Mereka selalu bersemangat menjemput mati syahid. Mereka bahkan rela meninggalkan apapun, termasuk momen yang paling penting dalam hidup mereka, seperti malam pengantin, sebagaimana yang dilakukan oleh Sahabat Hanzhalah ra. Ia segera meninggalkan istrinya yang baru beberapa jam sebelumnya ia nikahi, lalu berlari demi menjemput syahid di medan jihad.

 Bahkan di akhirat kelak, orang-orang yang mati syahid berangan-angan dihidupkan dan dipulangkan kembali dunia karena berhasrat untuk kembali terbunuh sebagai syahid sepuluh kali karena merasakan sendiri keutamaan orang-orang yang mati syahid saat ditempatkan di surga-Nya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Meraih Pahala Setara Jihad fi Sabilillah

 Memang, berbeda dengan Palestina yang masih dijajah Israel, misalnya, atau sejumlah negeri Muslim lain yang diperangi kaum kafir, Indonesia saat ini bukanlah medan jihad. Indonesia adalah wilayah damai. Karena itu siapapun yang melakukan aksi kekerasan—yang disebut sebagai terorisme—di negeri ini tidak bisa dianggap sebagai jihad.

Jika demikian, bagaimana caranya supaya kita bisa meraih pahala yang setara dengan jihad? Rasulullah saw telah mengajari kita satu hal: dakwah dan amar makruf nahi mungkar, khususnya kepada penguasa zalim. Itulah amal yang pahalanya setara dengan jihad. Bahkan oleh Rasul saw disebut sebagai jihad yang paling utama:

 أَلَا إِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِر

Ingatlah, sungguh jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata-kata kebenaran di hadapan penguasa zalim (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

 Beliau pun bersabda:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ، فَنَهَاهُ وَأَمَرَهُ، فَقَتَلَهُ

Pemuka para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan seseorang yang berdiri tegak di hadapan penguasa zalim; dia memerintah dan melarang penguasa zalim tersebut, lalu penguasa zalim itu membunuh dirinya (HR al-Hakim dan ath-Thabarani).

 Alhasil, selain fokus dan bersungguh-sungguh meraih keutamaan Lailatul Qadar di sepertiga malam terakhir Ramadhan, marilah kita terus menggelorakan semangat dakwah dan amar makruf nahi mungkar, khususnya kepada para penguasa zalim, agar mereka mau menghentikan kezaliman mereka. Jika mereka tidak terima dan malah membinasakan kita, justru di situlah kita—insya Allah—meraih pahala mati syahid, yang keutamaannya melebihi keutamaan menghidupkan Lailatul Qadar. WalLâhu alam bi ash-shawwâb

Penulis : Nurul Hariani (Mahasiswi Prodi PGMI UINSU)

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: