30 September 2022

Dimensi.id-Dampak penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) terus mengancam segala penjuru dunia. Indonesia bahkan ikut terkena imbas ekonomi yang ditimbulkan. Salah satunya adalah  ancaman kelaparan di tengah masyarakat.

Dilansir dari tempo.co, lembaga dunia World Food Programme (WFP) mengatakan bahwa masyarakat dunia menghadapi ancaman kelaparan besar-besaran dalam beberapa bulan lagi akibat resesi ekonomi yang dipicu pandemi Covid-19 atau virus Corona.

Saat ini ada 135 juta orang menghadapi ancaman kelaparan. Proyeksi dari WFP menunjukkan jumlahnya bisa meningkat dua kali lipat menjadi 270 juta orang. Jumlah ini bisa bertambah karena ada sekitar 821 juta orang yang kurang makan. Sehingga, total warga dunia yang bisa mengalami bencana kelaparan melebihi 1 milyar orang.

Bencana pangan ini bisa terjadi disekitar 55 negara jika melihat pada skenario terburuk. Eksekutif Direktur WFP, David Beasley, mengatakan ada sepuluh negara yang telah mengalami kelaparan dan menimpa sekitar satu juta warga.

Indonesia sendiri sebelum adanya pandemi ini setidaknya terdapat 22 juta orang yang menderita kelaparan kronis. Jumlah tersebut sekitar 90 persen dari total jumlah penduduk miskin Indonesia, yakni 25 juta jiwa. Hal tersebut terungkap dalam laporan penelitian yang dilakukan oleh Asia Development Bank (ADB) bersama Internasional Food Policy Research Institute (IFPRI) bertajuk Policies to Support Investment Requirements of Indonesia’s Food and Agriculture Development During 2020-2045.

Bayangkan saja, jika dalam kondisi normal saja penduduk Indonesia masih hidup dalam ancaman kelaparan, lalu bagaimana dengan situasi pandemi saat ini?. Tentu kondisi ini akan lebih parah dalam kondisi wabah ketika perhatian pemerintah minim (setengah hati). Hal tersebut terbukti dengan ditemukannnya kasus-kasus kelaparan dibeberapa daerah akibat kesulitan mendapatkan makanan.

Negeri ini memang telah lama mengalami krisis persoalan bangsa yang tidak kunjung usai. Seperti melemahnya ekonomi, kemiskinan, PHK, pengangguran, kesehatan, pendidikan yang merupakan rentetan persoalan yang terus saja menghantui negeri ini. Ditambah lagi dengan adanya wabah Corona sehingga menambah keterpurukan. Dalam hal ini, peran pemerintah sebagai lembaga yang mengatur urusan rakyatnya pun cenderung abai dan tidak sigap.

Inilah fakta yang terjadi di negeri kita saat ini. Kemudian, sudah sadarkah kita bahwa semua ini adalah bukti dari sistem yang tidak dapat menyejahterakan rakyat?. Jangankan Indonesia, Negara Adiya seperti Amerika saja tidak dapat menjamin kesejahteraan rakyatnya.

Maka dari itu, sudah saatnya pemerintah Indonesia dan juga negara-negara kapitalisme di dunia ini mengaku kesalahannya dalam membangun ketahanan dan kedaulatan pangan serta dalam menangani masalah kelaparan. Masalah krisis ketahanan pangan dan kelaparan merupakan buah dari sistem neoliberalisme kapitalisme.

Sebab, penerapan ideologi kapitalis ini tidak akan pernah dapat menghantarkan Indonesia pada kesejahteraan hidup. Walaupun memang negara ini menyimpan banyak hasil kekayaan alam yang luas biasa berlimpah yang diberikan oleh Allah SWT. Justru dengan penerapan sistem kapitalis ini menjadikan yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan menjadi semakin miskin.

Hal tersebut berbeda dengan sistem Islam atau yang disebut juga dengan Khilafah. Negara dalam pandangan Islam memiliki tugas untuk melakukan kepengurusan terhadap seluruh urusan rakyatnya. Islam mewajibkan negara menjamin setiap kebutuhan rakyat mulai kebutuhan dasar individu seperti sandang, papan, dan pangan, hingga kebutuhan dasar publik lainnya baik dalam kondisi normal maupun dalam kondisi krisis akibat wabah. Sehingga masalah ancaman kelaparan tidak ada dalam kamus Khilafah.

Lantas, bagaimana kebijakan pangan Khilafah untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya?. Jawabannya ada dalam politik pertanian Khilafah yang diarahkan untuk peningkatan produksi pertanian dan kebijakan pendistribusian yang adil, merata dan sesuai dengan ketentuan syari’ah.

Jelaslah sudah bahwa hanya Islam lah solusi pasti dari setiap persoalan yang terjadi saat ini. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb

Penulis : Uray Herlindawati (Aktivis Muslimah Ideologis Khatulistiwa)

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: