5 Oktober 2022

Dimensi.id-Diakhir tahun 2019 menjadi awal maraknya wabah COVID-19, seperti yang kita ketahui bahwa wabah tersebut berasal dari Wuhan China yang menyebabkan ratusan orang harus kehilangan nyawanya, yang pada awal penyebarannya masih ditutup-tutupi oleh pihak pemerintah China.

Namun cepatnya penyebaran virus ini membuat perintah China kewalahan untuk menghadapinya, kini penyebaran virus tersebut sudah dapat dirasakan diberbagai negara, bukan hanya itu wabah ini juga berdampak pada perekonomian dunia.

Setidaknya 135 juta orang mengalami ancaman kelaparan. Proyeksi dari WFP  menunjukkan jumlahnya bisa meningkat dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya menjadi 270 juta orang. Jumlah ini diperkirkirakan masih bisa terus bertambah karena adanya sekitar 821 juta orang yang kurang makan. Sehingga, total warga dunia yang bisa mengalami bencana kelaparan melebihi 1 miliar orang.

Sebab, banyak orang yang kehilangan pekerjaan ataupun penghasilan akibat Covid-19. Pandemi Cocid-19 pun memberikan dampak kelaparan serius bagi orang-oranng yang tak bisa mendapatkan uang, mulai dari para buruh yang terancam di PHK hingga pedagang yang tidak leluasa menjajakan dagangannya, akibat dari penyebaran virus mematikan tersebut.

Jika dilihat dari segi terburuknya, bencana pangan ini bisa terjadi di sekitar 55 negara, 30 diantaranya adalah negara berekembang bahkan yang lebih parahnya lagi 10 negara diantaranya bahkan sudah memiliki lebih dari 1 juta penduduk diambang kelaparan.

David Beasley, Direktur Program Pangan Dunia (World Food Programme/ WFP), mendesak pemerintah disetiap negara agar bertindak secepatnya demi menghentikan ancaman kelaparan yang bisa menimpa 265 juta orang di dunia akibat pandemi Covid-19. “saat mengalami pandemi Covid-19, kita juga berada ditepi jurang pandemi kelaparan,” kata Beasley kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) seperti dilansir (NN pada Rabu, 22 April 2020).

Beasley menyebut terjadinya konflik, resesi ekonomi, dan penurunan jumlah bantuan serta jatuhnya harga minyak juga merupakan faktor yang memicu terjadinya kelangkaan pangan. “kita tidak sedang membicarakan orang-orang akan tidur kelaparan,” ungkap Beasley dilansir oleh The Guardian. “kita berbicara tentang kondisi ekstream, status darurat tentang orang-orang yang benar-benar sedang berbaris menuju ambang kelaparan. Jika kita tidak memberi makanan kepada orang-orang, mereka akan mati.

Satu hal yang pasti adalah sistem kesehatan yang masih kurang mumpuni disejumlah negara berkembang tidak akan mampu mengatasi korban wabah Covid-19, dari bencana ekonomi yang terjadi selama pandemi, akan menjadi tekanan besar terhadap sumber daya pangan.

Bahkan sebelum krisis Covid-19 terjadi Beasley sebelumnya telah menghimbau negara-negara donor untuk meningkatkan pendanaan bantuan pangan bagi negara miskin. “saya sudah mengatakan bahwa 2020 akan menjadi tahun terburuk sejak perang dunia kedua, berdasarkan apa yang kami perkirakan pada tahun lalu,” lanjutnya.

Ya ini memang benar adanya, sudah dapat kita lihat keadaan sekarang ini di sebagian negara sudah mulai mengalaminya, tidak terkecuali di Indonesia sendiri. “Peringatan dari FAO agar betul-betul kita perhatikan, bahwa pandemi Covid-19 ini bisa berdampak pada kelangkaan pangan dunia atau krisis pangan dunia. Ini betul-betul harus kita perhatikan,” kata Jokowi dalam rapat terbatas secara online, Senin (13/4) .

Sebanyak 22 juta penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan kronis ini jumlah sebelum terjadinya pandemi COVID-19. Jumlah tersebut sekitar 90 persen dari total jumlah penduduk miskin Indonesia, yakni 25 juta jiwa. Hal tersebut terungkap dalam laporan penelitian yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) bersama International Food Policy Research Institute (IFPRI) bertajuk  Policies to Support Investment Requirements of Indonesia’s Food and Agriculture Development During 2020-2024.

Lantas apa solusi yang di berikan negara atas bencana ini? miris melihat mereka yang mencuri hanya karena kelaparan bukankah ini pukulan yang keras bagi pemerintah saat ini? ini menunjukkan tata kelola pangan tak hanya harus serius tapi juga harus cekatan, khususnya dikala pandemi seperti kekarang ini.

Coba kita berpikir ulang sejenak, disaat kita dalam kesulitan kelaparan apa yang kita lakukan, apakah kita memanggil kepala negara? ataukah kita justru memohon kekuatan dari Allah SWT agar mampu menghadapi cobaan ini? yang bahkan seorang Fir’aun saja mendadak mengingat Allah saat hendak tenggalam di laut merah, padahal selama hidupnya ia begitu congkak mengakui bahwah dialah Tuhan.

Di dalam negeri, politik pangan Islam mekanisme pengurusan hajat pangan seluruh individu rakyat. Yakni menjamin menjamin pemenuhan pangannya, baik untuk konsumsi harian ataupun menjadi cadangan pangan disaat bencana seperti wabah corona saat ini.

Terlebih jika Khilafah memberlakukan lockdown, maka pemerintah akan sepenuhnya mengambil alih jaminan kebutuhan pangan rakyat selama krisis. Inilah mengapa hanya aturan Allah pula yang layak kita gunakan dalam rangka memberi solusi tuntas bagi pencegahan serta penanganan krisis pangan dan kelaparan. Wallahua’lam Bish Showwab

Penulis : Khairani Kembaren

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: