3 Oktober 2022

Dimensi.id-MasyaAllah Ramadhan tahun ini memang berbeda, di tengah pandemi corona yang tidak tahu kapan end game nya, tidak mudah untuk di lewati masyarakat muslim di Indonesia. Tumpang tindihnya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sangat mengecewakan, gerak lambat pemerintah dalam penanganan pandemi sangat buruk, masyarakat dibuat resah dengan merebaknya kriminalitas, maraknya PHK dimana-mana, usaha-usaha kecil semakin tidak punya tempat, sumber penghasilan nyaris tidak ada dan bantuan digadang-gadang mendapat jatah anggaran 10T pun tak kunjung sampai ke dapur-dapur masyarakat.

Semakin menyakitkan untuk mendapat bantuan dari pemerintah masyarakat harus melakukan pengajuan terlebih dahulu dengan syarat-syarat pengajuan yang berbelit dan terkesan mengada-ngada, apakah rakyat harus mengemis-ngemis kepada negara yang memang seharusnya menjadi tonggak pertama masyarakat mengadu atas ketidak berdayaannya untuk memenuhi isi perut anak-anak mereka.

Walhasil ketika anjuran PSBB ataupun lockdown wilayah tidak digubris sebagian masyarakat, karena yang mereka hadapi bukan hanya wabah justru kelaparanlah yang menghantui mereka setiap harinya. Dan jika hal itu terus terkantung-kantung maka tidak menuntut kemungkinan kelaparan akan melanda negara ini.

Latarbelakang terciptanya suatu kebijakan adalah untuk menyelesaikan permasalahan umat dan untuk diselesaikan, bukan menimbulkan masalah baru, tapi kenyataannya dengan tumpang tindihnya kebijakan yang dikeluarkan malah sebaliknya tidak adanya koordinasi sinkronisasi dan keselarasan disetiap jenjang pengambilan keputusan antara pusat dan aparat-aparat bawahnya, akhirnya hanya sebuah wacana dan janji-janji palsu yang masyarakat terima setiap harinya.

Inilah wajah dari sistem kapitalisme, negara abai terhadap rakyat, dalam sistem ini rakyat harus menjadi miskin dulu untuk dapat bantuan dari Pemerintah dengan syarat sebagai bukti bahwa ia benar-benar miskin. Peran negara Kapitalis hanya sebatas fasilitator dan motivator, sementara urusan pemenuhan kebutuhan rakyat diserahkan kepada mereka sendiri.  

Sistem Kapitalisme memang di desain bahwa hanya segelintir orang yang berhak memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, sehingga kesenjangan antara sikaya dan simiskin semakin hari semakin besar.

Berbeda halnya dengan Sistem Pemerintahan yang diatur oleh Islam (Khilafah). Pada masa-masa wabah seperti saat ini, tentu rakyat tidak akan dibiarkan sendiri dalam memenuhi kebutuhannya, karena hal yang demikian adalah hak rakyat yang harus dipenuhi negara.

Negara wajib menjamin kebutuhan pokok rakyat, bahkan keamanan, kesehatan, juga pendidikan, yang sumber pembiayaannya diambil dari  harta milik umum berupa segala sumber daya alam yang tersedia berlimpah di negeri ini, yang seharusnya dikelola pemerintah dan hasilnya digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan rakyat

Negara juga akan hadir dalam setiap kondisi dan akan menjalankan fungsinya sebagai raa’in (pengatur dan pemelihara) dan junnah (pelindung). Melindungi keimanan setiap individu umat, ketaatannya juga keselamatan jiwanya.

Penulis : Indi Lestari

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: