5 Oktober 2022

Pandemi Corona yang terjadi hampir dua bulan ini membuat resah masyarakat. Masyarakat memiliki kekhawatiran yang cukup tinggi terhadap virus ini, mereka tidak mau tertular. Oleh karena itu masyarakat memiliki sikap yang protektif terhadap penyebaran virus ini.

Kita sering mendengar berita di sosial media tidak sedikit Tenaga Kesehatan (NaKes) mendapat penolakan dari lingkungan. Hal ini disebabkan karena NaKes adalah orang yang sangat rentan tertular virus Corona karena merekalah yang menangani langsung para penderita Corona. Di lansir dari DetikNews.com Bidan pemilik kos di Grogol, Sukoharjo tempat tiga perawat RSUD Bung Karno (RSBK) Solo mengelak disebut melakukan pengusiran. Namun, pemilik kos bernama Siti Mutmainah itu membenarkan jika meminta tiga perawat itu pindah melalui pesan WhatsApp.

“Dengan berat hati kami mohon mbak-mbak pindah ke tempat yang lebih aman, untuk keamanan bersama. Dan balasannya, ‘ya bu, nggak apa-apa, nanti barangnya kami ambil’. Tidak ada pemaksaan,” kata Siti Mutmainah di kantor Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Selasa (28/4/2020). Siti mengaku memiliki dasar untuk meminta ketiga perawat pindah. Utamanya bahwa suami Siti mengalami gangguan kesehatan yang menuntut tidak boleh stres.

Miris sekali kondisi di atas, menjadi NaKes bak buah simalakama. Di satu sisi merekalah yang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan korban yang terpapar virus Corona, namun disisi lain mereka mendapatkan penolakan dari lingkungan tempat tinggalnya. Dimana peran negara? Seharusnya merekalah yang menjamin tempat tinggal para NaKes agar tidak dikucilkan oleh lingkungannya. Mereka tidak mendapatkan perlindungan dari negara. Negara seolah lupa bahwa mereka adalah para pahlawan di tengah pandemi Corona saat ini. Itulah wajah penguasa saat ini yang sesungguhnya, mereka berlepas tangan atas urusan rakyatnya. Rakyat membutuhkan bantuan penguasa, namun mereka tak berdaya. Tidak melakukan apa-apa, akibatnya tidak sedikit NaKes yang terlantar di lingkungannya.

Hari ini rakyat butuh bantuan riil dari penguasa. Rakyat jangan hanya dimanfaatkan suaranya untuk kekuasaan politik yang fatamorgana.

Jaminan Kesehatan dalam Islam
Islam adalah agama yang sempurna, mengatur dari masalah individu sampai masalah negara. Pendidikan dan kesehatan adalah kebutuhan asasi setiap rakyat yang wajib disediakan oleh negara. Keduanya termasuk masalah pelayanan umum dan kemaslahatan hidup terpenting. Pengadaan dan jaminan terhadap kedua kebutuhan mendasar ini akan ditanggung sepenuhnya oleh negara baik untuk orang kaya maupun miskin, baik muslim maupun non muslim. Baitul Maal yang akan menanggung pembiayannya.

Di dalam Islam, jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat adalah tanggung jawab negara yang wajib diberikan secara gratis (cuma-cuma), alias tidak membayar sama sekali. Negara tidak boleh membebani rakyatnya untuk membayar kebutuhan layanan kesehatannya. Ketentuan ini didasarkan pada Hadis Nabi saw., sebagaimana penuturan Jabir ra.:

بَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أُبَيْ بِنْ كَعَبْ طَبِيْبًا فَقَطَعَ مِنْهُ عِرْقًا ثُمَّ كَوَّاهُ عَلَيْهِ

Rasulullah saw. pernah mengirim seorang dokter kepada Ubay bin Kaab (yang sedang sakit). Dokter itu memotong salah satu urat Ubay bin Kaab lalu melakukan kay (pengecosan dengan besi panas) pada urat itu (HR Abu Dawud).

Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw., yang bertindak sebagai kepala negara Islam, telah menjamin kesehatan rakyatnya secara cuma-cuma, dengan cara mengirimkan dokter kepada rakyatnya yang sakit tanpa memungut biaya dari rakyatnya itu (Taqiyuddin An Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur, II/143).

Selain negara memberikan jaminan kesehatan pada rakyatnya, negara juga memberikan jaminan kesejahteraan kepada tenaga medis. Hal ini kita bisa temukan pada saat Islam diterapkan. Seorang dokter di negara Islam mendapatkan bayaran tinggi. Misalnya, ada seorang dokter Kristen di masa kekuasaan Islam, Ibn Tilmidz, memiliki pendapatan tahunan yang jumlahnya lebih dari 20 ribu dinar.

Ada pula kisah tentang Muhadzdzab al-Din Ibn al-Naqqasy. Ia merupakan seorang dokter dari Baghdad, Irak, pada abad ke-11. Ia pernah pergi ke Kota Damaskus untuk mencari pekerjaan. Sayangnya, ia belum berhasil mendapatkan pekerjaan yang diharapkannya. Al-Naqqasy kemudian memutuskan untuk bergegas ke Mesir yang saat itu di bawah kekuasaan Dinasti Fatimiyah. Ia menemui seorang dokter kepala di istana dan mengutarakan maksudnya. Gayung pun bersambut, ia mendapatkan pekerjaan di sana.

Lalu, al-Naqqasy mendapatkan imbalan tiap bulan sebesar 15 dinar. Ia pun mendapatkan apartemen lengkap dengan perabotannya, seperangkat pakaian mewah, dan seekor keledai terbaik.

Penulis : Siti Masliha, S.Pd (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Editor azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: