30 September 2022

Dimensi.id-Belum genap dua pekan bulan suci membersamai kita. Namun banyak hal silih berganti menjumpai. Pandemi yang belum tahu kapan akan berhenti, pemutusan hubungan kerja bagi karyawan, melambungnya harga bahan pangan tertentu, dan masih banyak yang lainnya. Kini, kita dihadapkan oleh
sebuah kepastian yang akan menemui kita. Ialah kelaparan yang akan menjadi ancaman nyata selanjutnya dan mengintai ratusan jiwa penduduk di dunia.

Direktur Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFD), David Beasley, menyebut 265 juta
penduduk dunia terancam kelaparan sebagai dampak dari pandemi virus Corona. “Kita berbicara
tentang kondisi ekstrem, status darurat –tentang orang-orang yang benar-benar sedang berbaris
menuju ambang kelaparan. Jika kita tidak memberikan makanan kepada orang-orang, mereka akan
mati. ” kata Beasley seperti dilansir The Guardian.

Menurutnya, sejumlah negara merespons dampak perubahan cuaca ekstrem dengan kebijakan yang
didorong oleh kepanikan. Seperti larangan ekspor di negara-negara produsen pangan, pada sisi lain ada
permintaan impor besar-besaran dari negara kaya untuk mengamankan stok pangan mereka. Kondisi ini
telah meningkatkan kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan pangan dunia.

Kekhawatiran dan peringatan lembaga-lembaga pangan dunia itu soal ancaman kelaparan, telah
disebarkan ke seluruh negara, termasuk Indonesia. Bukan tanpa alasan jika Presiden Jokowi pun
mengingatkan ancaman krisis pangan sebagai dampak dari pandemi virus Corona. Ia menjelaskan,
mungkin panen pada musim ini masih baik. Namun, Jokowi mengingatkan panen di semester kedua
nanti bisa saja bermasalah. Hal inilah yang harus menjadi perhatian seluruh kepala daerah.
(kumparan.com, 27/04/2020)

Hampir semua negara di dunia koleps oleh makhluk kecil Corona. Keberadaannya membuat perubahan
yang signifikan di segala lini kehidupan manusia. Melihat prediksi oleh WFP tentu mempunyai alasan
nyata. Prediksi tersebut tentunya akan terjadi dalam kehidupan manusia, begitupula dengan di negeri
ini.

Guncangan hebat tentunya akan menghantam dari segala sektor kehidupan manusia. Jika kita tidak
siap dan mampu serta mempunyai cara jitu, maka tak mustahil prediksi tersebut akan terealiasasi nyata
dalam kehidupan kita. Ibarat kata, tinggal menunggu saatnya tiba.

Mungkin semua orang tentunya akan merasa cemas dan bingung menghadapi serangan pandemi
Corona ini, yang berimbas di segala lini kehidupan. Panik menjadi salah satu realisasi nyata yang
ditimbulkan oleh sebagian masyarakat. Karena sejatinya rakyat kecil yang selalu menjadi korbannya.

Dalam hal ini, wajar saja jika rakyat merasa cemas dan bingung. Pasalnya penguasa nampak setengah
hati dalam mengayominya. Ditambah minimnya edukasi menambah buruk keadaan. Karena dampak
yang akan dirasa adalah masalah ketersediaan pangan yang ada dan mampukah menopong alias
memenuhi seluruh yang dibutuhkan oleh rakyat negeri ini? Itulah kiranya polemik yang bercokol dalam
pikiran seluruh manusia. Akankah krisis pangan tersebut benar-benar akan terjadi?

Sistem kapitalis sekuler yang saat ini diterapkan telah membuat jurang antara si kaya dan miskin makin
dalam. Kesenjangan itu begitu tampak adanya, apalagi saat ini dilanda oleh pandemi Corona. Pada
kenyataannya si kaya mampu untuk memenuhi kebutuhan pangannya, bahkan mereka mampu
menyetoknya. Sehingga yang kaya akan mampu menjalani dan melewati masa-masa sulit seperti
sekarang.

Namun, apa yang terjadi dengan si miskin? Tentunya ia harus bekerja keras dengan
menumpahkan segala cara agar mampu bertahan hidup. Pasalnya, untuk memenuhi kebutuhan pokok
sehari-harj saja sudah kembang-kempis, apalagi di masa pandemi ini. Banting tulang tentunya menjadi
gambaran nyata bagi mereka. Amat beruntung jika mereka masih bisa menjemput rezeki di masa
pandemi ini, karena sebagian besar pekerjaan akan sulit dilakukan, bila berdagang pun akan kesusahan
karena rendahnya daya beli masyarakat.

Inilah buah dari sistem kapitalisme sekuler, darinya lahir kesenjangan sosial yang begitu kentara.
Bahkan, sistem ini gagal untuk menjamin pemenuhan kebutuhan individu rakyat secara merata dan
kesejahteraan jauh panggang dari api. Tak pelak, beginilah potret kesenjangan sosial yang lahir dari
sistem kapitalis. Kapitalisme terbukti gagal menjamin kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan rakyat
secara merata. Krisis pangan seperti ini tak akan pernah teratasi selama sistem kapitalisme diterapkan.
Bukan saat terjadi wabah saja, tetapi dalam kondisi normal pun kapitalisme berhasil merenggut jutaan
jiwa akibat krisis pangan yang tak pernah terselesaikan.

Krisis pangan, ketimpangan sosial, terombang-ambingnya perekonomian, menjadi tanda-tanda
kehancuran peradaban rusak di bawah naungan hegemoni kapitalisme. Wajah buruknya kini mulai
tersibak dengan nyata. Keguncangan di segala lini kehidupan akibat wabah telah membuka mata kita
bahwa kapitalisme merupakan sistem yang benar-benar tak layak dijadikan sebagai sistem pengatur
kehidupan.

Akan sangat berbeda kala Islam hadir dalam kehidupan manusia dan diterapkan secara sempurna-
menyeluruh. Pemimpin yang ada mengedepankan rasa takutnya kepada Allah Swt. sebagai buah dari
iman dan taqwanya. Ia tak akan pernah melakukan aktivitas melanggar hukum syara.

Seorang pemimpin dalam sistem Islam ialah Khalifah. Khalifah akan memastikan bahwa setiap individu
per individu kebutuhannya terpenuhi secara sempurna. Ia bertanggung jawab penuh atas segala persoalan rakyatnya. Tentunya hal ini akan berbeda individu yang satu dengan lainnya. Apalagi di masa
pandemi seperti sekarang ini tentunya akan sangat jauh berbeda.

Namun ketika standarnya adalah hukum syariat, maka setiap individu juga akan mengedepankan sikap qana’ah dan tidak malah aji mumpung. Inilah bedanya kepribadian rakyat di bawah naungan Khilafah, yang sudah pasti akan sulit ditemukan dalam sistem kapitalisme-sekuler. Para pejabat daerah juga tak terpikir untuk mengorupsi dana bantuan untuk rakyat. Mereka justru berusaha amanah untuk mendistribusikan bantuan tersebut. Sebagaimana sabda Nabi saw.

“Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan
Ahmad).

Kebijakan politik dalam hal pangan menjadi sesuatu yang menjadi pembahasan penting. Sebab, hal
tersebut menjadi tanggung jawab dari khalifah. Menjamin pemenuhan kebutuhan pangan seluruh
individu rakyat menjadi syarat yang wajib dipenuhi. Kemudian menjaga agar cadangan pangan untuk
persediaan kala datang bencana alam, paceklik atau pandemi seperti sekarang ini.

Islam mempunyai cara jitu dalam penanganan maupun mitigasi bencana, bencana krisis pangan atau
kelaparan misalnya insyaAllah akan mudah diatasi segera. Dalam sistem Islam tidak akan dapat
ditemukan rakyat yang kelaparan. Semua itu karena negara menjamin kebutuhan rakyatnya dengan baik
tentunya dengan adanya baitul maal. Seluruh harta yang ada di dalamnya secara sempurna akan
disalurkan kepada rakyat.

Dalam Daulah Islam tidak terlepas dari pengadopsian hukum Islam secara kafah dan menyeluruh. Segala
lini kehidupan manusia telah diatur sepenuhnya oleh Allah Swt. Karena hanya Allah yang mengerti akan
semua hal di dunia ini, termasuk manusia. Sehingga ketika syariatnya diterapkan maka kata sejahtera
tentulah akan didapati secara sempurna.

Sebagaimana pernah tergambar di muka bumi selama hampir 13 abad lamannya dan dua per tiga negara berada di bawah kepemimpinan Islam. Kala itu, rakyat tidak mengenal ketimpangan dan kesenjangan sosial, yang ada hanya kata sejahtera. Begitu pula dengan krisis pangan, maka insyaAllah negara akan dengan cepat menanggulanginya. Semoga masa itu akan segera terwujud kembali di dunia ini. Wallahu a’lam bishshawab

Penulis : Mulyaningsih, S. Pt (Pemerhati masalah anak, remaja, dan keluarga serta member AMK)

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: