5 Oktober 2022

Dimensi.id-Jika penguasa bermental pengusaha, apapun akan dilakukan, asalkan dapat merauk untung. Tidak peduli apakah merugikan rakyat atau tidak, apakah zalim atau tidak, yang terpenting mereka puas. Dilansir oleh Tirto.id, bahwa Pemerintah dan DPR terus membahas Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (sebelumnya bernama Cilaka atau Cipta Lapangan Kerja) yang disusun dengan metode omnibus.

Dalam rapat kerja pada hari Selasa (15/4/2020) kemarin, hanya dua partai yang menyatakan menolak melanjutkan pembahasan. Sisanya, dengan berbagai alasan, memilih sebaliknya. Sejak awal dirancang pemerintah, RUU Cilaka sebenarnya telah mendapatkan penolakan tegas dari masyarakat, terutama serikat buruh.

Peraturan itu dianggap menghapus banyak hak-hak buruh yang tertuang dalam UU 13/2003 tentang ketenagakerjaan. Pun pembahasannya tidak transparan. Pihak yang lebih banyak didengar sekaligus diakomodasi kepentingannya adalah pengusaha. Penolakan semakin menguat karena pembahasan peraturan ini ternyata masih dilanjutkan saat pandemi COVID-19.

Ratusan masyarakat telah meninggal karena virus yang belum ditemukan obatnya itu. Ketua Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Nining Elitos mengatakan satu-satunya alasan DPR-pemerintah tetap membahas peraturan ini adalah karena mereka “tuli dan buta.” “Kalau mereka tidak tuli dan buta,” kata Nining kepada reporter Tirto, Rabu (15/05/2020), “sejak awal masyarakat menolak.” 

RUU Cilaka tetap dibahas di DPR menunjukan DPR lebih mementingkan nasib pengusaha dan investor dibanding maslahat rakyat. Rakyat menjerit pun seolah mereka tidak mendengar. Makin sulitnya hidup rakyat pun rezim tetap tidak bergeming. Bahkan saat pandemi, disaat rezim harusnya fokus kepada penuntasan wabah, rezim masih tetap serius dengan ambisi mengejar dunia dengan menyenangkan pengusah. Dunia telah membutakan mata hatinya, bahkan fitrahnya nyaris sirna.

Hal ini pun, semakin menambah masalah baru, rakyat memprotes kebijakan tersebut. Menjadikan masyarakat enggan mengikuti aturan dari rezim. Bahkan kepercayaan terhadap rezim pun makin lemah. Tidak mungkin rakyat tunduk jika terus diinjak haknya. Ibarat semut yang terinjak, “Dia akan berupaya menggigitnya, walaupun sadar kematian diujung tanduk, tetapi setidaknya tidak mati dalam kepasrahan karena lemah dan bodoh. “Semua yang terjadi, semakin karut marut masalah di negeri tercinta ini.

Sangat berbeda dengan Islam. Islam menjadikan pemimpin itu dipatuhi karena periayahan yang sempurna. Di masa khalifah Umar bin Khattab, ketika beliau kedatangan tamu, beliau bertanya,” Apakah kepentingannya terhadap khalifah itu urusan umat”? Jawab dari tamu beliau, “Tidak, ini urusan pribadi,” Akhirnya Umar bin Khattab ra, mematikan lampu, karena takut akan mengambil hak rakyatnya atau harta milik negara.

Sehingga sikap khalifah demikian, menjadikan umat simpati dan terkagum-kagum terhadap akhlak beliau. Otomatis sikapnya yang demikian, membuat khalifah Umar bin Khattab ditakuti dan dipatuhi setiap perintahnya. Dengan kepatuhan yang sempurna, sehingga antara masyarakat dan khalifah saling tolong menolong dalam ketaatan kepada Allah Swt. Sehingga dapat merealisasikan firman-Nya :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

(Q.S.4:59)

Wallaahu a’lam bishshawab

Penulis : Sumiati (Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: