3 Oktober 2022

Dimensi.id-Sudah hampir dua bulan lamanya wabah covid-19 masuk ke Indonesia, tepatnya sejak pertama kali diumumkan oleh Presiden pada 2 Maret 2020 dan kemudian meluas penularannya secara masif dengan angka pertambahan kasus yang signifikan setiap harinya. Hingga hari ini, Rabu 29 April 2020 dilaporkan telah ada 9.511 kasus virus corona di Indonesia dengan jumlah kematian sebanyak 773 orang. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN.

Tak dapat dipungkiri bahwa virus ini disambut dengan tangan terbuka dan justru dipersilakan masuk oleh otoritas negeri ini. Bagaimana tidak, saat pertama kali diumumkan kemunculan virus ini di Wuhan ibukota Provinsi Hubei di Tiongkok, pemerintah kita tak bersiap dan melakukan tindakan pencegahan. Alih alih menanggapinya dengan berkelakar dan ironisnya, mereka membuka lebar keran pariwisata, berharap income dari turis asing yang besar kemungkinan datang ke negeri ini dengan membawa serta makhluk tak kasat mata bernama corona virus.

Sikap pemerintah dalam menghadapi wabah dinilai lamban dan gagap. Aturan yg disahkan pemerintah pusat membuat bingung pemerintah daerah. Banyak kebijakan yang diambil namun tak solutif. Yang terbaru misalnya, seorang bupati memprotes surat edaran mentri yang mewajibkan penerima BLT tidak boleh lagi menerima bantuan sembako. Sementara penerima BLT yang merupakan rakyat miskin ini tak tahu kapan dana tersebut bisa cair padahal mereka sudah kelaparan.

Belum lagi aktivitas mudik yang terlambat diantisipasi oleh pemerintah. Kenyataannya sebanyak lebih dari satu juta pemudik telah tersebar ke daerah. Dan kini merata sudah penyebaran virus ini di seluruh provinsi di Indonesia. Fasilitas kesehatan tidak siap. Tenaga kesehatan tidak siap. Alat pelindung diri pun tidak tersedia.

Dalam situasi krisis seperti ini, Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan dalam sebuah konferensi pers secara virtual pada Selasa (14/04/2020) menyebutkan bahwa angka kematian tidak sampai 500 dari 270 juta rakyat Indonesia. Sungguh ucapan yang tak punya nurani dan empati, tak pantas diucapkan oleh seorang pejabat negara yang justru oleh rakyat dibekali amanah dipundaknya.

Dari sini kita dapat melihat dimana keberadaan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggungjawab mengatasi pandemi. Tak hanya rakyat biasa yang wafat namun juga tenaga medis, pejuang di garda terdepan yang bertarung nyawa setiap harinya tanpa dipersenjatai alat perang yang memadai oleh negara. Pun mereka yang harus berdiam diri dirumah, dihadapkan pada keadaan yang dilematis. Mati diluar karena corona, atau mati dirumah karena kelaparan. Di negeri yang konon sangat kaya ini, harga nyawa manusia sungguh amat murah.

Wajah pemerintahan kapitalisme memang hanya bertransaksi dengan rakyat dalam ukuran materi. Mereka tidak akan dengan tulus hati memperjuangkan dan memberikan perhatian terbesarnya demi melayani kemaslahatan rakyatnya. Mereka hanya memperhatikan kepentingan diri dan kelompoknya yang mendukungnya untuk naik ke kursi kekuasaan yakni kaum kapitalis.

Berbeda halnya dengan islam. Begitu besarnya penghormatan Islam terhadap nyawa manusia. Kita dapat membuka catatan sejarah yang jujur. Salah satunya adalah ketika khilafah utsmani mengirimkan bantuan berupa 3 kapal penuh makanan yang dikirimkan ke irlandia saat negeri itu dilanda kelaparan. Khilafah Utsmani pun mengirimkan bantuan kepada amerika saat negeri itu dilanda krisis stelah peperangan di abad 18. Padahal saat itu kondisi Khilafah utsmani sesungguhnya sedang tidak ideal baik secara ekonomi maupun politik. Namun bantuan itu diberikan semata2 karena islam memerintahkannya.

Dalam pandemi covid-19 ini, kita bisa melihat cacat yang mendasar pada sistem kapitalisme yang dipraktekan dalam kepemimpinan hari ini. Wajah asli mereka terlihat begitu jelas, bagaimana cara mereka menangani wabah dan strategi apa yang diterapkan. Tampak sekali bahwa pemimpin kita tak bersungguh-sungguh menempatkan nyawa rakyatnya sebagai prioritas

Sebabnya jelas, kepemimpinan hari ini tidak memiliki aqidah yang kuat. Dan tidak memiliki ruh idroqsillah billah dalam melaksanakan aktivitasnya. Tidak menyadari hubungannya dengan Allah, tidak merasa diawasi dan tidak menyadari bahwa jabatan yang diembannya adalah titipan Allah yang kelak akan ia pertanggung jawabkan di akhirat.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran : 26

Katakanlah (muhammad), “wahai tuhan pemilik kekuasaan, engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang engkau kehendaki, dan engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang engkau kehendaki, dan engkau hinakan siapapun yang engkau kehendaki. Di tangan engkaulah segala kebajikan. Sungguh, engkau maha kuasa atas segala sesuatu

Sungguh jelas tuntunan dari agama ini bagi mereka yang mau menggunakan akalnya untuk berpikir, matanya untuk melihat, dan telinganya untuk mendengar. Maka marilah kita kembali kepada Islam dan menerapkan seluruh syariatNya secara kaffah. Karena dengan menjaga syariat, kehidupan pasti akan terjaga. Dan hal itu hanya dapat terpenuhi dalam naungan daulah khilafah.

Penulis : Meutia Arum

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: