5 Oktober 2022

Dimensi.id-Ditengah situasi pandemi yang belum berakhir, pemerintahan Indonesia akan meluncurkan Kartu Prakerja sebagai solusi mengatasi krisis ekonomi yang terjadi saat ini. Peluncuran kartu Prakerja ini sebagai salah satu cara pemerintah membantu masyarakat mendapatkan pelatihan pekerjaan mengingat banyaknya para pengangguran dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masal dampak dari wabah pandemi covid-19.

Kartu Prakerja juga merupakan salah satu janji Beliau saat kampanye dulu. Namun sangat disayangkan, peluncuran Kartu Prakerja ini sangatlah tidak cocok/ tidak tepat dan tidak bisa dipaksakan juga untuk kondisi saat ini. Jika dipaksakan pun apakah akan efektif dengan situasi saat ini ? Rasanya tidak. Karena yang dibutuhkan masyarakat adalah bantuan keuangan yang dapat dirasakan secara langsung untuk menompang kebutuhan hidup mereka sehari-hari

Seperti yang kita ketahui dampak dari wabah virus covid-19 ini itu berdampak pada semua kalangan. Dan seharusnya yang menjadi fokus utama pemerintah saat ini adalah menjamin dan memberi bantuan kepada rakyatnya secara merata dan tepat sasaran. Agar tidak ada lagi rakyatnya yang merasakan kelaparan selama wabah ini karena stok kebutuhan pokok mereka tidak terpenuhi.

Jika Kebijakan Kartu Prakerja ini sebagai cara menangani pengangguran maka harus dipertimbangkan lagi secara matang. Akan ditampung kemana peserta Kartu Prakerja yang telah mendapatkan pelatihan dan skill itu? Dan apakah dapat efektif mengingat lapangan kerja yang ada di Indonesia sekarang ini ?. Seharusnya ini juga dipikirkan dari awal agar kebijakan Kartu Prakerja ini tidak sia sia. Sayangkan jika dari dana triliunan itu tidak membuahkan hasil.

Mari kita lihat cara Baginda Rasullulah saw memberikan lapangan kerja yang dikisahkan dari Anas bin Malik ra, ada pemuda Anshor yang datang kepada Rasul untuk meminta pekerjaan. Namun Rasul menyuruh pemuda itu menjual barang yang di miliki dirumahnya.

Pemuda itu pun membawa barangnya kepada Baginda Rasul dan di lelangnya barang-barang itu oleh Baginda kepada sahabat-sahabatnya. Kata Rasulullah, “Saudara, terimalah uang ini. Lalu yang satu dirham kamu belikan makanan dan segera kamu berikan kepada keluargamu di rumah, sedangkan yang satu dirham lagi belikan sebuah kampak, dan bawalah ke sini segera”.

Pemuda Anshar itu segera menuruti perintah Rasulullah Saw dan menyerahkan sebuah kampak yang belum ada tangkainya kepada Beliau. Kampak itu Beliau terima lalu dibuatkan tangkai (gagang). Setelah tangkai terpasang, kampak itu Beliau serahkan kepada pemuda Anshar tadi seraya bersabda, “Sekarang carilah kayu bakar dan juallah ke pasar! Dan ingat, jangan sekali-kali datang menghadapku sebelum lima belas hari!”

Jika kita perhatikan dari kisah di atas, bahwa Rasulullah memberi solusi pekerjaaan kepada pemuda Anshor itu dengan didukung alat produksi dan pasar nya juga. Maka bagi pemerintah Indonesia pun seharusnya seperti itu, selain di dorong punya alat produksi berupa Kartu Prakerja sebagai pelatihan maka pasar jualnya kemana ?. Bukan malah menjadikan rakyatnya pasar bagi produk asing dan Unicron mitra pemerintah.

Krisis ekonomi yang terjadi saat wabah pandemik ini memang membutuhkan solusi yang tepat dan cepat agar tidak menimbulkan masalah baru lagi. Namun jika dilihat, Pemerintah Indonesia seperti asal asalan dalam membuat kebijakan untuk menangai krisis ekonomi di saat wabah pandemik ini. Padahal kriris ekonomi bisa dialami oleh setiap negara.

Daulah Islam juga pernah mengalami krisis ekonomi yang hebat pada masa Khalifah Umar bin Khaththab sampai roda perekonomian turun drastis dan akhrirnya khalifah Umar berhasil mengatasi masalah krisis ekonomi tersebut dengan kebijakan cepat, tepat, komprehensif serta berhemat dan bergaya sederhana.

Dalam pengoptimalan kebijakannya pun dengan mengerahkan semua struktur, pengurus negara dan semua potensi yang ada untuk dapat membantu masyarakat yang terdampak. Kami sangat rindu pemimpin seperti khalifah yang peduli kepada rakyatnya dengan memberikan solusi yang tuntas dan menyeluruh dalam menghadapi segala masalah. Bukan solusi tambal sulam apalagi hanya pencitraan. #Ramadhanterakhirtanpakhilafah

penulis : Elis Rahmawati

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: