5 Oktober 2022

Dimensi.id-Tahun 2020 ini adalah tahun yang beda dari tahun-tahun sebelumnya. Di 3 bulan pertama saja bencana banjir besar-besaran terjadi di Jakarta dan sekitarnya hingga prediksi Jakarta akan tenggelam. Bukan hanya nasional, tapi di internasional pun ini menjadi tahun yang mengenaskan. Di Australia terjadi kebakaran besar, gempa juga dirasakan di Turki dan Karebia. Itu baru di 3 bulan pertama.

Dan yang sekarang sedang menjadi kasus terbesar adalah pandemi korona yang menimpa bukan hanya Indonesia tapi dunia. Sungguh semua ini terjadi bukan serta merta sebuah kebetulan. Ini semakin membuktikan maha besarnya tuhan kita Allah Swt. Semua peristiwa ini semakin menampakkan kekuasaanNya, dan membuat kita bercermin bahwa kita hanyalah hamba yang lemah, sangat lemah.

Jangan menganggap enteng dan menganggap remeh. Seharusnya hal ini adalah ajang bagi kita untuk semakin membuat hati kita peka dan sensitif terhadap tanda-tanda kekuasaanNya. 2020  menjadi tahun muhasabah, meningkatkan iman kita dan mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta Segala Sesuatu.

Ramadhan tahun ini adalah ajang yang sangat tidak boleh di sia-siakan walaupun Ramadhan padap 2020 akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi keutamaan yang ada pada Ramadhan tidak berubah, maka maksimalkan diri kita untuk mendekat padaNya karena Allah telah menampakkan sesuatu yang menggemparkan. Harus dengan apa lagi Allah tampakkan agar kita Kembali kepadaNya? Tidakkah pandemi ini cukup?

Ini bukan soal Allah yang tega, justru kasus korona terjadi pun disebabkan ulah manusia yang banyak melanggar syariatNya. Allah telah memberikan rincian mana makanan yang boleh dimakan dan mana yang tidak. Coba saja jika manusia mau taat sungguh Allah akan memberkahi negeri kita ini. Inilah akar permasalahan, bahwa manusia banyak lalai dan bangkang. Semua kerusakan diawali ulah tangan manusia yang melawan syari’at islam yang peraturan islam sudah secara rinci di jelaskan sebagai petunjuk bagi manusia.

Allah SWT telah menciptakan alam semesta beserta isinya dengan ukuran-ukuran dan Qadar yang jelas, setiap benda dan makluk ciptaanNya memiliki khasiatnya masing-masing. Semua sudah ada aturannya masing-masing dalam syariat Islam.  Dan dengan manusia mengetahui hal tersebut tentunya akal manusia mampu untuk berfikir dan harusnya manusia lebih berhati-hati terhadap apa yang mereka kerjakan dan perbuat, termasuk terhadap apa yang mereka makan.

Pada faktanya syariat Allah juga dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Terbukti bahwa makanan yang Allah haramkan pun berbahaya dan bisa mengganggu kesehatan.contohnya kelelawar sang induk dari tersebarnya korona saat ini. Allah SWT berfirman:”Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”(QS. Al-A’raf 7: Ayat 56)

Semua sudah terjadi, dan apa yang sudah terlewati tak usah disesali. Karena sebenarnya ada banyak pelajaran dan hikmah dari semua peristiwa. Belum tentu tanpa Allah timpakan ujian seperti saat ini kondisi akan lebih baik dari sekarang. Yang biasanya jarang kumpul dengan keluarga, sekarang saatnya untuk menikmati tiap detik waktu bersama.

Bahkan yang lupa shalat pun mengupayakan untuk solat 5 waktu. Yang sudah dekat dengan Allah semakin menambah kedekatan kepadaNya. Sangat amat banyak hikmah yang patut disyukuri. Segala kesalahan yang sudah terlewati jadikan bahan evaluasi.

Lihatlah betapa baiknya sang rabbi, berapa sering Ia dilupakan, syariatNya dilalaikan, para hamba sibuk dengan segala urusan sampai menggadaikan aturan-aturan tuhan, Allah Swt. Berapa banyak yang minum khamr, berjudi, narkoba, dan pelanggaran-pelanggaran besar lainnya tapi Allah hanya timpakkan ujian tak seimbang dengan apa yang sudah kita perbuat. Allah hanya menurunkan virus kecil tak terlihat.

Allah belum saja terbangkan gunung-gunung, jatuhkan langit, balikkan tanah, dan perkara besar lainnya yang semestinya sudah ditimpakkan karena perlakuan kita kepadaNya. Karena kasih sayang dan kemurahan Allah kita masih diberi kesempatan, Allah hanya menguji dengan makhluk kecil tak kasat mata untuk kita sadar dan kembali. Allah ingin kita kembali lalu kapan hati ini mau peka dengan segala tanda-tanda kekuasaanNya?

Memasuki bulan Ramadhan ini marilah kita perbanyak amalan dan yang terpenting rekatkan ukhuwwah. Saling menolong, saling berbagi. Mengingat dengan adanya kasus pandemi ini perekonomian semakin merosot terkhusus mereka kelas bawah. Yang memiliki rezeki lebih ringankan tangan kalian untuk berbagi. Umat Muhamad saw. bukanlah umat yang egois, yang mementingkan diri, menjadi baik sendiri tanpa peduli pada sesama.

Hati seorang Muslim seharusnya tergerak untuk menolong saudaranya yang kesusahan. Karna tak sedikit umat yang kesulitan mencari nafkah, terbelit hutang, serta terancam kelaparan. Namun demikian, pihak yang paling bertanggung jawab terhadap rakyat tentu adalah pemimpin.

Mereka harus bekerja keras bahkan meninggalkan kehidupan mewah nya untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya. Adanya negara, harus lebih mengutamakan jiwa seorang muslim ketimbang dunia dan seisinya. Jadi pentingnya pemimpin atau khalifah yang benar-benar mengurusi urusan umat dengar syariat islam. Inilah yang di ingatkan Nabi saw..:”Pemimpin masyarakat adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR. Muslim).

Semoga Allah SWT menyelamatkan umat Muhammad saw., mengganti para pemimpin zalim dengan yang sungguh-sungguh berkhudmat mengurus urusan umat dengan menegakkan dan menerapkan Syariat-Nya yang agung di muka bumi.

Penulis ;

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: