3 Oktober 2022

Dimensi.id-Astagfirullah hal adzim, itulah kata yang saat ini paling tepat untuk senantiasa kita ucapkan dalam kondisi seperti ini. Karena sudah saatnya manusia bersimpuh dan memohon ampunan atas semua yang terjadi dan menimpa manusia di seluruh belahan dunia. Wabah virus corona/ COVID-19 yang menjadi pandem saat ini, membuat masyarakat menjadi “parno” dengan segala kejadian. Mulai dengan takut ke luar rumah, saling curiga dan bahkan ketakutan yang berlebihan membuat mereka melakukan aktivitas di luar kewarasan manusia.

Bagaiman tidak dikatakan demikian, paramedis kita yang bertempur melawan tentara tak terlihat ini merupakan pejuang garda depan dalam melawan pandemi ini, tetapi masyarakat justru bertindak diskriminatif dengan paramedis ini. Paramedis kita tak pernah menyerah untuk berjibaku merawat korban-korban yang jatuh terkena serangan covit-19 dan  mereka dengan sabar menahan kerinduan terhadap keluarga, menjaga jarak agar keluarga mereka tak terimbas virus ini.

Pedih hati ini saat melihat kabar berita ada masyarakat yang menolak pemakaman jenazah paramedi kita. Dengan alasan coronafobia, mereka tak membiarkan jenazah itu bersemayam dengan tenang. Kabar itu sempat viral, sontak  membungkam kata dari siapa pun yang mendengarnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merasa teriris hatinya tatkala mendengar kabar peristiwa penolakan pemakaman jenazah Covid-19. Penolakan tersebut dilakukan oleh sekelompok warga di daerah Sewakul, Ungaran, Kabupaten Semarang pada Kamis (9/4/2020).

Ganjar mengaku terkejut dengan peristiwa tersebut, terlebih saat mengetahui bahwa jenazah yang ditolak pemakamannya itu adalah seorang perawat yang bertugas di RSUP Kariadi Semarang.  Ganjar Pranomo, orang nomor satu di Jawa Tengah itu berpesan peristiwa penolakan jenazah ini jangan sampai terulang. (Kompas, 10/4/20)

Akan tetapi, ada yang lebih menyayat hati. Ini bukan lagi bicara masalah orang mati, tapi orang yang masih hidup. Akibat coronafobia, luntur sudah rasa kemanusiaan manusia. Sebagian mereka –masyarakat- tega mengusir para dokter dan perawat dari kosnya, hanya karena takut tertular virus. Sebagaimana yang terjadi pada beberapa paramedis di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta. (liputan6, 25/3/20)

Kondisi seperti ini bisa dialami masyarakat karena kurangnya sosialisasi. Banyak dari mereka tak memahami bagaimana Covid-19 bisa menular. Yang mereka tahu hanya “paramedis adalah kelompok yang paling rentan terpapar corona”. Apalagi dengan melihat prosesi pemakaman yang menurut mereka “aneh”, akhirnya melahirkan pemikiran-pemikiran negatif kepada para pejuang garda terdepan ini. Apabila tak diimbangi dengan penyuluhan yang pas, sosialisasi yang rata, serta penyediaan sarana kesehatan yang tercukupi, akan menimbulkan pemahaman yang tumpang tindih. Hasilnya rakyat berpersepsi dengan spekulasi sendiri.

Harusnya instansi yang terkait memberikan penyuluhan kepada masyarakat, sehingga dapat memastikan informasi itu sampai ke setiap telinga. Bukan hanya duduk dan diam tinggal menerima laporan saja. Inilah bukti lalainya pemimpin dalam mengecek apakah info itu benar-benar sampai pada masyarakat ataukah tidak.

Sangat disayangkan jika pemimpin yang ditugaskan mengayomi rakyat bertindak lalai. Jika hal ini dibiarkan, bisa saja akan ada banyak nyawa tak berdosa dikorbankan. Sebagai seorang pemimpin seharusnya ingat bahwa segala apa yang dipimpin akan diminta pertanggungjawabannya. Apalagi bagi pemimpin yang lalai, hidupnya tidak akan tenang di akhirat.

Sebagaimana Allah menyampaikan,

“Dan sesungguhnya, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS Al-A’raf: 179)

Sudah saatnya kita melihat kembali bagaimana Islam menyeimbangkan Informasi. Islam melalui pemerintahan Islam/khilafah akan berusaha menyelesaikan masalah ini. Khalifah yang akan dibantu oleh Muawin, Wali, Departemen Penyiaran, tokoh umat, serta surtoh ‘aparat keamanan’ akan memberikan penyuluhan, pengaturan, dan pembinaan kepada masyarakat. Agar mereka memahami makna menjaga kesehatan dan cara menghadapi pandemi ini.

Amanah yang diberikan untuk menjelaskan masalah wabah tentu akan dijalankan dengan baik. Mereka akan memeriksa hingga detail, sampai seluruh masyarakat paham dengan masalah ini. Sedangkan rakyat akan patuh dengan aturan yang telah ditetapkan khalifah. Karena mereka sadar bahwa kebijakan itu untuk kebaikan masyarakat.

Sehingga tidak akan ditemui masyarakat yang terkena “paramedisfobia”. Atau bahkan tidak percaya kepada petugas wabah dan kebijakan pemerintah. Walhasil, Islam mewujudkan pemimpin yang dicintai rakyatnya dan rakyat yang dicintai pemimpinnya.

“Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintaimu, kamu menghormati mereka dan mereka pun menghormati kamu. Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu.” (HR. Muslim)

Penulis : Diana Sari, S.Farm., Apt

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: