3 Oktober 2022

Dimensi.id-Wabah pandemi Corona masih berlangsung di seluruh dunia. Cina yang sudah membuka lockdownnya pun bersiap menghadapi lockdown jilid dua, begitu pun Korea. Di tengah wabah ini, muncul suara-suara sumbang yang menyatakan bahwa umat muslim, sengaja menyebarkan covid 19 di tengah komunitas masyarakat non muslim.

Suara sumbang ini menyeruak setelah Jama’ah Tabligh dari seluruh dunia menyelenggarakan acara di ibukota India, Delhi. Tagar anti muslim pun bermunculan. #coronajihad,  #biojihad,  #muslimmeaningterrorist, bertebaran di media sosial. Bahkan, sebuah kuil di India melarang jama’ahnya untuk membeli susu dari petani muslim. New York Times melaporkan seorang pemuda muslim diserang dan diintimidasi saat membagikan makanan pada warga miskin.

Sangat memalukan, ketika wabah corona dieksploitasi untuk kepentingan pribadi, kepentingan politik. Akibatnya, semakin runcing dan tajamlah konflik agama yang terjadi, khususnya di India. Diskriminasi dan serangan kepada kaum muslim pun meningkat. Karena saat ada isu muslim di satu negeri, muslim minoritas di negeri lain pun ikut waspada jadi korban islamophobia.

Tuduhan pada Islam dan kaum muslim sungguh sangat konyol dan tidak mendasar. Faktanya, Islam justru mewajibkan kaum muslim untuk memakan makanan yang halal dan thayyib, mengharamkan memakan kelelawar dan sejenisnya.

Islam pun sangat menghargai nyawa seseorang. Tak diperbolehkan untuk menghilangkan nyawa orang seenaknya, walaupun non muslim. Allah berfirman, “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya . Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS Al-Ma’idah [5]: 32).

Inilah wajah buruk sekulerisme kapitalisme. Mereka yang berkoar-koar toleransi, tapi garang dan antipati pada Islam. Inilah bukti sekulerisme kapitalisme gagal menjaga keharmonisan rakyat. Dalam sekulerisme kapitalisme, kedaulatan ada di tangan rakyat. Rakyat melalui para wakil rakyatlah yang membuat aturan kehidupan. Padahal, isi satu kepala bisa berbeda dengan yang lainnya. Isi kepala rakyat pun beragam, tapi terbatas. Sehingga wajar jika peraturan yang dibuat pun sering kali menimbulkan perbedaan, pertikaian dan membawa pada kesengsaraan.

Berbeda dengan Islam, dalam Islam kedaulatan ada di tangan pembuat hukum Syara’, yakni Allah swt. Sehingga aturan diserahkan pada Allah. Manusia tinggal menerapkannya dalam kancah kehidupan. Kenapa? Karena Allahlah Pencipta kita, Pemilik alam semesta beserta seluruh isinya. Allah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita, bahkan melebihi orangtua kita ataupun diri kita sendiri.

Apapun perkataan kebencian mereka, apapun makar mereka, janji Allah akan tetap terlaksana. Islam akan kembali berjaya dengan atau tanpa Ridho mereka.

Wallahu’alam bish shawab.

Penulis : Fatimah Azzahra, S. Pd

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: