5 Oktober 2022

Dimensi.id- Selain Pemprovsu, Pemerintah Kota (Pemko) Medan juga sudah mengantisipasi efek perlambatan ekonomi pascakarantina rumah akibat pandemi Covid-19. Untuk itu, Pemko berencana akan membagikan 1.000 ton beras kepada masyarakat yang membutuhkan di Kota Medan.

Namun rencana itu belum dapat dieksekusi, akibat status bencana di Kota Medan Masih siaga darurat.

Rencananya memang mau membagikan 1.000 ton beras. Tapi ‘kan ada prosedurnya. Status kita saat ini yang hanya Siaga Darurat, nggak mengizinkan kita membaginya. Begitu aturannya. Kita harus menaikkan dulu status Kota Medan menjadi ‘Darurat Bencana’, baru bisa membagikan berasnya. Intinya, rencana harus dikaji dulu,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Medan, Endar Lubis, kepada Sumut Pos, Senin (30/3).

Hal tersebut tentu saja membuat kita sedikit mengerutkan kening, karena fakta nya yg terjadi ditengah-tengah masyarakat saat ini adalah sudah terjadi nya ketimpangan ekonomi yg merata.

Seperti yang dialami satu keluarga di medan denai.

MUDANEWS.COM, Medan – Kabar menyayat hati datang dari Medan Denai. 1 keluarga disebutkan sudah berhari – hari tidak makan. Mirisnya keluarga ini diusir dari kontrakan karena tak ada biaya untuk bayar sewa.

Tadi saya dapat kabar, ada keluarga disekitar jalan Rawa Cangkuk III, Medan Denai. Pasangan suami istri dengan 5 anak sudah beberapa hari tidak makan. Tinggal di kontrakan, karena sudah tidak sanggup bayar kontrakan, diusir oleh pemilik kontrakan,” kata Hamdan, Jumat (24/04/2020).

Menurut keterangan Hamdan, si Bapak yang bernama Junaidi Rahman ini sudah tidak berkerja lagi dikarenakan wabah covid-19 ini.

Dan adalagi kisah pilu seorang pria yang babak belur dihajar massa karena mencuri 1karung beras di medan.

KOMPAS.com – Seorang pria berinisial A (40), warga Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia, Medan, Sumatera Utara, tertangkap warga saat mencuri beras di warung dekat rumahnya.

Kejadian tersebut terjadi pada Sabtu (18/4/2020).Pria itu mengaku terpaksa mencuri beras lantaran kelaparan dan tak punya uang untuk belimakan.

Pasalnya, pria yang bekerja sebagai tukang bubut ini sudah tidak punya penghasilan setelah bengkel tempatnya bekerja sepi seiring dengan mewabahnya virus corona.

Dengan begitu banyak nya kasus kelaparan dan kesulitan ekonomi ditengah-tengah masyarakat kita akibat pendemi covid-19 ini, apakah Untuk penyaluran bantuan nya saja pemerintahan harus menunggu status darurat Bencana di tetapkan di kota medan??

Bukankah seharunya pemerintahan setempat sudah semestinya siap siaga dalam mengemansipasi kemungkinan terburuk yg terjadi ditengah-tengah masyarakat mengingat pendemi covid-19 ini sudah menyebar di 168 negar termasuk Indonesia.

KOMPAS.com – Penyebaran virus corona terus meluas. Hingga Rabu (25/3/2020) pagi, sebanyak 168 negara mengonfirmasi terjangkit virus corona atau covid 19.

Dan tentu saja setelah ini akan lebih banyak lagi kita jumpai kasus-kasus serupa di tengah-tengah masyarakat kita apabila pemerintah tidak cepat tanggap dalam menyalurkan bantuan ke tengah-tengah masyarakat,  Tanpa harus menunggu status darurat Bencana di tetapkan dikota medan.

Memang hal ini tidak mengherankan mengingat negara kita saat ini sedang menganut sistem kapitalis.

Yang mana para pejabat pemerintahan Hanya sibuk mengurusi kepentingan pribadi nya saja, dan tidak benar-benar serius dalam memikirkan nasib rakyat nya.

Sungguh sangat berbeda ketika islam diterapkan sebagai satu-satu nya sistem yg mengatur seluruh sendi kehidupan.

Seperti sebuah kisah yg masyur tatkala Umar bin Khatab menjadi khalifah yg memimpin seluruh negeri kaum muslimin.

 Umar bin Khattab,adalah  sosok kepala negara yang sangat peduli kepada rakyatnya. Umar bin Khattab menjadi khalifah dari tahun 634 sampai 644 Masehi.

Ada sebuah kisah teladan mengenai Umar sebagai khalifah yang patut ditiru para pemimpin era kini.

yang mana beliau sangat takut dengan azab dari Allah SWT tatkala mendapati rakyat nya ada yang kelaparan sehingga harus memasak batu.

Maka sang khalifah pun memikul sendiri bahan makanan tersebut sampai kerumah sang ibu yang kelaparan dan memasaknya.

Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggung jawabkan ini di hadapan Allah?

Begitulah kisah Umar bin Khattab yang takut masuk neraka karena menelantarkan rakyatnya.

Sungguh.. Apakah para pemimpin dinegeri ini tidak takut akan hari pembalasan Nanti..??

Mereka akan ditanya tentang jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya.

Maka sudah jelaslah bahwa sistem kapitalis ini, tidak Hanya menghasilkan pemimpin-pemimpin yg tidak takut kepada Allah.

Tetapi juga sudah pasti menghasilkan kebijakan-kebijakan yg sangat merugikan rakyat.

Hanya islam lah satu-satu nya solusi yg akan menuntaskan segala problematika umat.

Karena Hanya dengan islamlah akan terbentuk pribadi-pribadi yang taat, sehingga menghasilkan pemimpin-pemimpin yg adil karena ketakwaan nya kepada hukum Allah.[ia]

Penulis : Endang Sipayung

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: