30 September 2022

Dimensi.id-Politik dalam pandangan kapitalis tidaklah jauh dari saling menunjukkan kekuatan dan kekuasaan. Siapa saja yang menduduki sebuah jabatan dalam kursi pemerintahan, maka dialah yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang cukup kuat pada saat itu. Merupakan pemandangan wajar ketika para politikus dan partai saling berlomba dalam hal menjatuhkan dan mencari sekutu untuk memperkuat kubunya sendiri atau untuk kepentingan lainya.

Merupakan hal yang lumrah ketika melihat wajah para politisi dari berlainan partai wara-wiri di layar TV. Terkadang mereka akan mengucapkan berbagai kalimat menyanjung dan memuji, terkadang mereka akan menyuarakan dukungan mereka kepada salah satu politikus, dan terkadang kita dapat melihat mereka saling menjatuhkan satu sama lain. Maka, standar mereka dalam kegiatan mendukung dan saling menjatuhkan adalah karena adanya sebuah kepentingan.

Para politisi ini mempertontonkan ketidak hamonisan diantara mereka atau mempertontonkan keromantisan yang ada diantara mereka hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Misal, pada saat pemilihan presiden dan wakil presiden. Maka para politisi yang berada di berbagai partai akan saling berkoalisi membentuk kubu-kubu mereka dan memperlihatkan keharmonisan dan keromantisan yang terjalin diantara mereka.

Seolah-olah ikatan yang menghubungkan mereka adalah ikatan yang kuat dan tidak akan ada yang mampu menceraiberaikan mereka. Senyum akan mengembang, suara tawa renyah akan mereka perdengarkan dan kalimat-kalimat pujian yang memuji satu sama lain akan keluar dari mulut mereka. Hal itu semua bukan tanpa maksud, di satu sisi mereka menginginkan dukungan rakyat dan di sisi yang lain mereka haus akan kursi-kursi kosong yang ada di pemerintahan.

Dengan menjadi pendukung terkuat tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang menjadi pendukung akan kecipratan sedikit kemenangan. Kemudian dalam pemilihan Wapres dan capres yang akan mengeluarkan banyak dana, maka, salah satu solusi yang diambil adalah mendapatkan dana dari para pemodal. Maka, inilah wajah asli kapitalis dengan sistem demokrasi yang diterapkan diatas bumi Indonesia saat ini.

Kebobrokan sistem saat ini sudah sangat tampak dengan jelas, tidak ada lagi tabir yang mampu untuk menutupi kebobrokannya. Namun, sayang pemuja demokrasi dan penganut kapitalis yang sebagian besar dari mereka menduduki posisi strategis dengan meraup keuntungan yang besar -dalam artian merekalah sebenarnya yang berkuasa- tidak rela melepaskan sistem saat ini demi kekuasaan yang berada ditangan mereka.

Maka, mereka dengan seluruh upaya akan melakukan berbagai manuver untuk bisa mempertahankan kekuasaannya melalui para kaki tangannya, yaitu penguasa boneka.

Layaknya sebuah panggung sandiwara yang hanya menampilkan sebuah tayangan fiktif atau cerita fantasi, imajinatif atau drama panjang hasil karangan si pembuat naskah, maka, perpolitikan saat ini pun tidak jauh beda dengan hal tersebut. Di depan layar TV para politis yang memiliki kepentingan akan menampilkan kewibawaan dan karakter pemimpin mereka, seolah-olah mereka memang pantas dan mampu dalam menjalankan roda pemerintahan.

Tetapi, dibalik layar TV mereka tidak ada ubahnya seperti sekelompok singa kelaparan yang saling berebut makanan. Menipu rakyat dengan janji-janji kampanye adalah hal yang biasa bagi mereka. Memandang janji-janji itu hanya sebagai rayuan dan pemulus jalan mereka agar terpilih untuk menduduki kursi kekuasaan. Tidak perlu diragukan lagi kualitas akting mereka, bahkan mungkin kualitas akting mereka melampaui kualitas para artis profesional.

Dalam Islam politik diartikan sebagai riayah suunil ummah yang artinya adalah pengurusan umat. Inilah salah satu perbedaan mencolok dari arti politik dalam pandangan kapitalisme dan arti politik dalam pandangan Islam. Bahkan terdapat sebuah hadits yang artinya: “Barangsiapa ( dari umatku ) yang ketika bangun pagi tidak memikirkan nasib umat, maka dia bukan umatku (umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam)”. HR. Ahmad.

Hadis diatas menggambarkan pentingnya untuk seseoarang dalam memikirkan pengurusan umat, terlebih jika dia adalah seorang penguasa yang memegang tumpu kekuasaan di suatu negeri untuk memperhatikan pengurusan rakyat yang ada di dalam wilayah kekuasaanya. Maka, dalam pengangkatan seorang khalifah atau pemimpin negara yang akan memegang kekuasaan penuh harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan, yaitu laki-laki, muslim, merdeka, baligh, berakal, adil dan memiliki kemampuan. Seorang harusnya laki-laki dan muslim yang artinya di beragama Islam.

Yang dimaksud dengan merdeka adalah dia tidak berada dalam pengendalian atau pengaruh orang lain. Baligh dan berakal artinya dia bukanlah anak kecil dn mampu membedakan mana yang buruk dan yang baik, tentunya standar yang dipakai adalah standar Islam. Dan memiliki kemampuan artinya dia haris bisa menjalankan kepemimpinannya dan roda pemerintahanya dengan penuh tanggung jawab dan tunduk kepada Allah Swt. Ketundukan kepada Allah Swt., adalah jaminan baginya dalam melaksanakan amanah besar, yaitu pengirisan umat.

Tidak sendiri khalifah akan dibantu oleh pembantunya, yaitu muawin tafwidh yang akan membantu khalifah dalam urusan pengaturan umat dan muawin tanfidz yang akan membantu khalifah dalam urusan administrasi. Kemudian ada Amirul Jihad, Wali (gubernur), Qadhi (pengadilan), aparat administrasi negara dan majelis umat. Ikatan yang terjalin diantar mereka adalah ikatan shahih dimana semua itu berlandaskan Islam.

Maka, tidak akan terjadi sebuah drama atau sandiwara diantara para pemangku kekuasaan. Tidak akan juga ada aktivitas saling menjikati demi mendapatkan kedudukan di pemerintahan. Karena landasan yang digunakan adalah Islam dan para penguasanya oaham akan Islam. Paham amanah dan balasan atas semua kebijakan-kebijakan yang diambil akan membawakan mereka kedalam kebaikan atau siksaan.

Penulis : Siti Hartinah Ode, SH (The Voice of Muslimah Papua Barat)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: