5 Oktober 2022

Dimensi.id-Dilansir dari CNBC Indonesia (24/4), harga minyak mentah dunia saat ini sedang anjlok dan bahkan sempat bergerak minus. Saat ini harga minyak kembali beranjak berada di kisaran 21 US Dollar per barel. Jika kita kalkulasikan, 1 barel = 159 liter, dan dikonversikan ke dalam hitungan rupiah saat ini yaitu 1 dollar = 15,400 rupiah, maka harga 1 barrel adalah = 323,400 rupiah.

Artinya harga minyak mentah saat ini yang dijual seharusnya adalah 323,4400:159 liter= 2,0033 rupiah/liter.  Namun pada faktanya, pemerintah tidak kunjung menurunkan harga minyak dalam negeri. Hal ini bertolak belakang jika harga minyak dunia mengalami kenaikan, maka secara serta merta pemerintah akan menaikkan harga minyak dalam negeri.

Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan kebutuhan sekunder yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat hari ini. Di tengah pemberlakuan social distancing banyak dari kalangan masyarakat dari tingkat ekonomi sejahtera sampai yang paling miskin mengalami penurunan pemasukan keuangan. Namun kabar turunnya harga minyak dunia nyatanya tidak menjadi angin segar bagi masyarakat sebab pemerintah tak jua menurunkan harga minyak di saat-saat pemenuhan kebutuhan sedang sulit.

Ekonomi Faisal barsi mengatakan, dengan turunnya harga minyak mentah dunia ini, seharusnya harga BBM juga diturunkan agar masyarakat bisa menikmati harga murah. Beliau juga menilai adalah hak pemerintah jika tidak turut menurunkan harga BBM saat harga minyak dunia turun, namun jika nanti terjadi kenaikan harga minyak dunia, pemerintah harusnya sudah memiliki anggaran untuk menambal harga yang dijual ke masyarakat agar tidak terjadi kenaikan, dari keuntungan yang didapat pada periode ini.

Logika ini disampaikan sebab sepanjang sejarahnya ketika minyak dunia naik, maka hal itu menjadi alasan pemerintah untuk turut menaikkan harga jual BBM dalam negeri. Kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan di tengah ekonomi rakyat semakin senggang antara si miskin dan si kaya, kebijakan yang dikeluarkan selalu tidak pro terhadap rakyat kecil.

Sesungguhnya sistem ekonomi kapitalis-liberal adalah sumber masalah perekonomian rakyat. Mental kepemimpinan yang tidak sungguh-sungguh mengurusi urusan rakyat hanya mementingkan kesejahteraan para pemilik modal. Sedangkan di dalam sistem Islam, SDA seperti BBM berstatus milik umum yang pada hakikatnya pemberian dari sang Pencipta untuk digunakan secara kolektif dengan negara sebagai pengelola saja. Artinya tidak ada keuntungan khusus yang diambil oleh negara.

Adapun biaya yang dikenakan hanya senilai ongkos pengelolaannya saja, sehingga rakyat tidak akan merasa sesulit seperti sekarang ini. Pembagian kepemilikan harta hanya ada di dalam sistem pemerintahan Khilafah yang menerapkan hukum syara’, sehingga warga negara akan merasakan kesejahteraan dan pengurusan yang benar oleh penguasa. Wallahu’alam bish showab.

Penulis : Rahmah Khairani, S.Pd (Aktivis dakwah muslimah Medan dan Pendidik)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: