5 Oktober 2022

Dimensi.id-Tiga aktivis mahasiswa ditetapkan sebagai tersangka usai melakukan pencoretan sejumlah tembok di kota Malang dengan tulisan `Tegalrejo Bergerak’ dan menyerukan perlawanan terhadap pemodal rakus alias kapitalis. Prosedur penangkapan salah satu tersangka dikaitkan dengan kelompok anarko pun disebut bermasalah. Ketiganya telah ditahan di rutan Polresta Malang Kota sejak senin 20/4/2020 (cnnindonesia 23/4/2020).

Kepala Bagian Penerangan Umum (KabagPenum) Polri Kombes Pol Asep Adi saputra menjelaskan bahwa tulisan-tulisan tersebut diduga berbau unsur provokatif dan dilakukan pada properti milik orang lain (vandalisme).

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya, dan LBH Pos Malang pun meminta polisi membebaskan para tersangka dan mencabut tuduhan-tuduhan yang disangkakan. Menurut mereka, di tengah pandemi Covid-19 kepolisian telah melupakan prosedur penangkapan dan penahanan terhadap ketiga mahasiswa tersebut. Hal ini dikarenakan oleh penangkapan ketiga aktivis pers mahasiswa ini diproses secepat kilat tanpa memperhatikan langkah-langkah hukum yang ada. 

Kita memahami bahwa mengemukakan pendapat di muka umum termasuk kebolehan mengkritik penguasa, dimana salah satu metodenya mungkin melalui demonstrasi yang kerap dilakukan oleh sebagian masyarakat. Maka sejatinya ini adalah aktivitas yang legal dalam negara demokrasi. Hak ini telah dijamin melalui berbagai peraturan perundang-undangan.

Sementara itu, gagasan dari ketiga aktivis pers mahasiswa menentang kapitalisme merupakan bentuk kesadaran terhadap realitas yang ada. Kesadaran ini seharusnya diapresiasi bukan ditangkap. Kapitalisme nyata merusak dunia bukan hanya Indonesia, ini fakta yang tak terbantahkan. Baik negara kapitalis utama maupun kapitalisme pinggiran seperti Indonesia, dimana pertumbuhan justru digenjot dan eksploitasi sumber daya ditingkatkan, semua telah merasakan penderitaan karena penerapan kapitalisme.

Miliarder teknologi, Mark Benioff mengakui hal tersebut. Menurutnya kapitalisme memiliki sisi mengerikan karena membawa ketimpangan (inequality). Sisi mengerikan itu adalah bahwa kapitalisme bersandar pada asas kebebasan kepemilikan. Seorang pemodal (kapitalis) bisa menguasai apa saja berapapun jumlahnya, tidak ada batasan. Kapitalisme mangakomodir dengan sempurna keserakahan manusia. Yang kaya (kapitalis) akan semakin kaya sedangkan yang miskin akan semakin dimiskinkan.

Sistem kapitalisme merujuk pada sistem sosial-ekonomi yang individualistik dan liberal. Kepentingan individu ditempatkan diatas segalanya. Karena itu kapitalisme juga sering disebut dengan istilah free enterprise atau private enterprise. Menurut Milton H Spencer, hak milik privat atas alat-alat produksi dan konsumsi dengan tujuan menumpuk kekayaan individual menjadi karakter utama kapitalisme.

Konsep ini timbul dari pemikiran filsafat John Locke. Menurutnya kekayaan adalah hak alamiah dan terlepas dari kekuasaan negara. Privatisasi menjadi sebuah keniscayaan, apa saja boleh dikuasai oleh individu baik hutan, sumber daya alam, pulau hingga laut sekalipun.

Semakin banyak privatisasi semakin mengangalah kemiskinan rakyat. Pada akhirnya negara menjadi kapling-kapling para kapitalis yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Rakyat menyaksikan sendiri bagaimana lahan di seluruh Indonesia telah di kapling oleh para kapitalis baik untuk perkebunan maupun pertambangan.

Dari sisi sosial, kapitalisme yang bersandar pada sekulerisme akan melahirkan perilaku amoral  yang jauh dari nilai spiritual dengan berlidung di balik hak asasi manusia sebagai hak individual untuk berbuat apa saja. Kapitalisme lahir sekaligus dengan konsep self-destructive yang anti agama, inilah yang kelak menjadi sumber malapetaka sosiologis dunia modern di seluruh aspeknya.

Kapitalisme merupakan kejahatan sistematis dan terstruktur yang ditopang oleh konsensus konstitusi hasil konspirasi pengusaha dan penguasa yang hidup dalam jeratan pragmatisme. Dari akar masalah inilah lahirnya berbagai bentuk kemiskinan dan kejahatan di masyarakat arus bawah karena tekanan hidup yang semakin tidak adil. Demikian banyak regulasi dan perundangan yang dibuat semata-mata untuk mengakomodasi kepentingan para pemodal. RUU Minerba dan Omnibus Law misalnya dikebut demi menyelamatkan kapitalis.

Sistem kapitalisme mendudukkan para pemilik modal di atas negara. Kedaulatan negara berada di bawah kuasanya. Faktor-faktor ekonomi strategis dikuasai sepenuhnya oleh para kapitalis yang mampu mengendalikan berbagai kebijakan negara. Kedaulatan dan keadilan dalam negara kapitalistik hanyalah sekadar retorika semu, jika tak hendak dikatakan sebagai pembohongan publik.

Alih-alih penguasa akan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat sesuai amanah undang-undang, dengan sistem kapitalisme ini justru negara akan mudah tergadai dalam pusaran kepentingan para pemodal (kapitalis).

Investor miliarder Amerika dan pendiri BridgewaterRay Dalio bicara soal paradoks uang gratis atau free money dalam ekonomi global. Menurutnya, ketimpangan ekonomi telah menjadi darurat nasional. Dalam tulisan yang diterbitkan di LinkedIn dengan judul “Dunia Telah Gila dan Sistemnya Rusak”, Dalio menulis bahwa ada sejumlah indikator ekonomi termasuk suku bunga rendah yang menyebabkan sistem kapitalisme rusak dan tidak berkelanjutan.

Menurutnya, ada sejumlah masalah termasuk utang pemerintah yang makin menggunung dan melebarnya kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin. Menurut Dalio, orang yang kekurangan uang atau kelayakan kredit pada dasarnya tidak dapat mengakses modal. Hal ini berkontribusi pada melebarnya kesenjangan kekayaan, peluang, dan politik.

Pada bulan Desember 2019 , dalam unggahan di situs web Verso Books, Ashley Dawson—penulis Extreme Cities: The Rising and Promise of Urban Urban in the Age of Climate Change—mengulas beberapa kontribusi Donald Trump terhadap kehancuran Bumi oleh “hiper-kapitalisme”, sebagai “upaya untuk mengkriminalisasi protes lingkungan”.

Kini seluruh dunia merasakan dengan sempurna akibat keserakahan dan kejahatan kapitalisme melalui coronavirus yang telah menginfeksi secara global menjadi pandemi. Kemunculan virus ini diawali oleh perang dagang dan persaingan dua adidaya dunia saat ini, yaitu Timur dan Barat.

Ketika pandemi menginfeksi semesta, kedua kapitalis serakah ini tak menghentikan ambisi kotornya menguasai dunia. Pandemi menjadi peluang berlimpah bagi mereka dengan berlomba-lomba memproduksi vaksin corona agar dapat mengokohkan pengaruhnya di dunia, baik pengaruh politik maupun politik ekonomi.

Lalu mengapa kesadaran akan bahaya kapitalisme harus diberangus? Siapa yang dirugikan apabila propaganda ini terus berlangsung di masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi bola panas, yang akan menggoyang kesadaran rakyat untuk mencampakkan sistem yang telah berkarat ini.[ia]

Penulis : Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: