5 Oktober 2022

Dimensi.id-Empati, sepertinya sudah terkikis dari masyarakat negeri ini. Negeri yang dulu sangat dikenal dengan negeri yang penuh keramah tamahan dan gemar gotong royong, kini nilai-nilai tersebut sudah mulai tergerus.

 Hal ini dapat dilihat, dalam situasi yang sangat genting, karena masifnya penyebaran wabah Covid yang sudah memakan banyak korban, masyarakat kita dengan tega menolak jenazah korban tenaga kesehatan, padahal mereka sudah berjuang digarda terdepan dalam upaya menyelamatkan pasien terjangkit covid, seperti halnya yang menimpa pada perawat di RSUP dr Kariadi Semarang yang jenazahnya harus mendapat penolakan warga ketika akan dimakamkan, terjadi pada Kamis (9/4/2020)

Perlakuan masyarakat terhadap jenazah perawat dari rumah sakit dr. Kariadi, sungguh sangat mengiris hati, seakan jenazah korban Covid adalah suatu aib, sehingga harus mengalami penolakan dan perlakuan tidak manuawi. Sikap dzalim masyarakat,  suatu bukti akan hilangnya rasa empati dalam diri manusia. Dan ini merupakan bagian dari bencana kemanusian yang sesungguhnya.

Begitupun dengan perlakuan masyarakat pada para nakes, yang bersikap diskriminatif. Dengan mengusir mereka dari kontrakan, bahkan ada yang sampai dilempari batu ketika mereka lewat. Sungguh kejadian yang sangat miris. Dan hal ini, hanya terjadi di negri +62 yang mindset masyarakatnya masih sangat rendah.

Mereka menelan informasi secara mentah-mentah, tanpa menelaah terlebih dahulu, dan pemimpin masyarakat, menjadi pelaku provokator penolakan. Penyakit Covid memang menular, namun bukan berarti masyarakat harus memperlaukan para nakes, pasien covid, dan keluarganya seperti hewan buas.

Jika masyarakat mendapatkan informasi yang benar, tentang apa itu covid, bagaimana cara penularannya, bagaimana menjaga daya tahan tubuh dengan baik, dan bagaimana cara berinteraksi dengan pasien yang terjangkiti covid tanpa harus mengucilkan mereka, pastinya masyarakat  tidak akan bersikap semena-mena pada para nakes, pasien covid, maupun keluarga yang terjangkiti covid.

Siapa yang harus disalahkan disini? Tentunya adalah Negara. Keabaian Negara yang tidak siap menangani wabah ini, membuat berita covid semakin simpang siur, blunder, masyarakat mengambil kesimpulan sendiri-sendiri, dan bersikap semaunya dalam memperlakukan korban.

Edukasi adalah bagian terpenting, dari penyelesaiaan masalah ini. Namun adakah saat ini edukasi yang dilakukan pemerintah pada rakyatnya? Jika informasi yang disampaikan ke masyarakat sangat akurat, dan memberikan informasi yang benar, tentu pengusiran, pengucilan, bersikap diskrimatif, tidak akan terjadi. Selain itu, peran Negara dalam penanganan wabah harus respontif, maka respon negatif dari masyarakat tidak akan terjadi.

Namun di negri +62, peran pemerintah dalam menangani wabah Covid, luar biasa mengkhawatirkan. Mereka seperti sengaja membiarkan masyarakatnya di genocida dengan pindemi. Hal ini terbukti, dengan ketidak mampuannya dalam menyelamatkan tenaga nakes dalam memberikan bantuan APD secara masif, padahal APD tameng utama para nakes dalam bertugas menyelamatkan pasien covid.

APD yang tidak layak, membuat mereka sangat rentan terpapar virus. Akhirnya para pahlawan nakes, satu persatu tumbang, karena kelelahan dan juga serangan virus mematikan.

Pada tanggal (16/4/2020), dr Halik Malik mengatakan PB IDI telah menerima laporan sebanyak 24 dokter  yang dikabarkan meninggal akibat COVID-19. Jumlah tersebut merupakan laporan yang diterima Halik per hari. Di kutip dari detik.com

Jumlah kematian tersebut akan terus bertambah ketika wabah pindemi berada pada puncaknya. Hal ini, sudah dipastika rumah sakit akan banyak kehilangan perawat dan dokter, mengingat mereka sangat riskan tertular, sementara APD yang digunakan sangatlah tidak layak dipakai.

 Bantuan dari pemerintah sangat tidak mencukupi kebutuhan para nakes yang ada diseluruh tanah air. Para Nakes hanya menanti bantuan masyarakat yang bahu membahu mengumpulkan donasi, untuk dibelikan APD, dan kebutuhan-kebutuhan yang bisa menjaga mereka dari serangan virus.

Saat Negara tidak siap menghadapi bencana, maka nasib rakyat akan terkatung-katung. Tidak memiliki kepastian. Dan seandainya penanganan dilakukan, tidak tepat sasaran.

Sikap diskriminatif masyarakat itu terjadi, karena sudah tidak adanya pemimpin yang  bisa menjadi teladan. Bahkan sikap para pemimpin tersebut, memberikan tontonan, dengan perilaku yang tidak bisa dicontoh, melalui sikap dan pernyataannya.

Wabah seperti ini bukan hanya terjadi di dunia modern seperti sekarang, bahkan di zaman Khalifah Umar bin Khatab, wabah yang mirip dengan Covid-19 ini pernah terjadi.

Pada masa Khalifah Umar bin Khatab pernah di uji dengan dua musibah, yaitu  bencana kekeringan yang terjadi di Madinah selama 9 bulan, sehingga menimbulkan banyak rakyat kelaparan. Sedang bencana yang ke dua adalah wabah thaun. Wabah yang di ceritakan oleh Ibnu Katsir, pernah menyerang wilayah Syam yang telah menghantarkan kematian sebanyak 30 ribu rakyat. Dan penyakit ini menyerang beberapa sahabat, seperti Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, dan Suhail bin Amr yang menyebabkan mereka wafat.

Namun, meskipun kepemimpinan Umar di uji dengan bencana, beliau berhasil mengatasinya dengan baik. Selain keimanan yang sangat kuat, yang ditujukan oleh Khalifah Umar serta para sahabat tatkala menghadapi wabah, sebagai pemimpin Khalifah Umar juga hadir menunjukan tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang mampu meriayah rakyatnya dengan baik. Dan kepemimpinan seperti inilah yang dibutuhkan kita saat ini, pemimpin yang mampu memadukan antara Akidah dan Syariah.

Dan untuk saat ini, point paling penting adalah menyelamatkan jiwa rakyat, bukan menyelamatkan ekonomi yang menguntungkan para pemodal.[]

Penulis : Ani Herlina (pendidik, dan anggota  di Akademi Menulis Kreatif.)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: