5 Oktober 2022

Dimensi.id-Polemik kartu pra kerja masih menuai kontra di masyarakat. Kebijakan kartu pra kerja di nilai salah sasaran karena tidak semua masyarakat mendapat bantuan, bahkan dikatakan bahwa para artis juga akan menerima bantuan ini. Kartu pra kerja juga di nilai tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat kalangan bawah yang kehilangan pekerjaan dan membutuhkan biaya untuk makan. Karena peserta yang mendapat kartu pra kerja hanya akan di berikan pelatihan online dan tidak diberikan pekerjaan yang tetap.

Di saat carut marut kebijakan kartu pra kerja, banyak pihak yang malah mencari keuntungan pribadi di tengah bahayanya wabah corona. Seperti yang dilakukan stafsus milenial presiden Andi Taufan Garuda Putra yang menitipkan surat perusahaannya ke camat seluruh Indonesia dengan membuat surat berkop Sekretariat Kabinet.

Surat itu berisi permintaan kepada para camat agar perusahaanya, PT. Amartha Mikro Fintek (Amartha) diikutsertakan dalam giat melawan Covid-19. Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menganggap bahwa Taufan telah melakukan abuse of power atau menyalahgunakan kekuasaan dan kewenangan.

Belum usai permasalahan stafsus Ade Taufan muncul lagi kasus dari stafsus milenial yang lain yaitu Adamas Belva Syah Delvara, CEO dari Ruang guru yang mengantongi proyek fantastis sebesar Rp 5,6 triliun dari Kementerian Perekonomian. Ruangguru ditunjuk sebagai aplikator untuk program Kartu Prakerja.

Menurut anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS, Nasir Djamil proyek bombastis dari pemerintah yang didapatkan Stafsus Presiden itu sebagai bagian dari praktik nepotisme karena secara tidak langsung Presiden telah mengajarkan contoh yang tidak baik kepada rakyat Indonesia. ini  tidak etis bagi presiden memberikan proyek kepada staf khususnya.

“Seharusnya dana yang akan dialokasikan harus diprioritaskan untuk masyarakat yang secara ekonomi mengalami kesulitan. Pelatihan online itu bukan saja tidak penting dan mendesak, melainkan patut dipertanyakan karena Ruangguru itu milik Staf Khusus Presiden Jokowi,” ujar Nasir, Kamis (16/4).

Stafsus Tidak Ideal, Kapitalisme Gagal

Stafsus milenial seharusnya mencontohkan teladan yang baik kepada milenial lainnya. Pemuda yang seharusnya menjadi agen perubahan yang membawa kebangkitan umat bukan malah menjadi agen perusahaan yang mencari keuntungan pribadi saat rakyat lainnya dalam kesusahan. Ini semakin membuktikan bahwa rezim kapitalisme telah gagal mendidik para milenial. Nyatanya rezim kapitalisme yang selalu mencari keuntungan tidak akan pernah berhasil membawa perubahan yang hakiki. Semua di pandang dengan materi , mencari keuntungan dan membiarkan rakyat kecil dalam kebuntungan.

Jika stafsus milenial saja sudah berani mencari celah keuntungan dan merugikan rakyat, bagaimana mungkin akan memberikan teladan bagi pemuda lainnya untuk menjadi orang yang peduli tanpa pandang materi? Pemuda binaan rezim kapitalisme sangat jauh berbeda dengan pemuda binaan Islam. Pemuda dalam Islam bagaikan seorang nahkoda yang memiliki tugas dan misi mengarahkan perahu agar dapat membawa penumpang ke tempat tujuan dengan selamat.

Mereka mengemban risalah dakwah dan mampu mengarahkan perahu yang membawa amanah dakwah, sehingga dapat berjalan terarah, tidak tersesat dan sampai tujuan dengan selamat. Bukan malah membawa umat pada keterpurukan seperti saat sekarang.

Banyak contoh pemuda pada masa Islam yang menjadi pejuang kebangkitan Islam. Ada Salman  Al-Farisi seorang pencetus ide pembuatan parit untuk menghadang puluhan ribu musuh yang tak sebanding jumlahnya dengan kaum muslimin pada waktu itu. Khalid bin Walid, panglima yang sangat cerdas dalam mengatur strategi dalam peperangan sehingga ia terkenal sebagai sosok pemuda yang tak pernah kalah dalam berperang walaupun umurnya masih sangat balia namun semangat kepemudaannya selalu ia kobarkan.

Ali bin Abi Thalib, Muhammad Al- Fatih dan Usamah bin Zaid. Ali bin Abi Talib adalah pemuda yang selalu menemani dan melindungi  Rasulullah sedangkan Muhammad Al-Fatih adalah seorang panglima perang pasukan muslim untuk mengalahkan satu imperium yang telah berdiri kokoh selama 11 abad yaitu Byzantium. Selain itu, ada Usamah bin zaid yakni pemuda yang dipercayai oleh Rasulullah dalam usia 18 tahun kemudian dilanjutkan dengan Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq.

Ali bin Abi Thalib, Muhammad Al- Fatih, dan Usamah bin Zaid adalah tiga pemuda Islam yang mempunyai kesaamaan. Pertama, mereka memiliki pemahaman yang baik tentang islam dan menjadikan pemahaman tersebut sebagai pedoman dalam hidupnya. Kedua, rasa cinta terhadap islam dan kemampuan dalam menyebarkan dakwah islam sangat tinggi. Ketiga, mereka adalah pemuda yang telah megikuti peperangan dalam usia muda.

Pemuda mempunyai potensi besar untuk perubahan. Maka sangat sesuai apabila tugas tugas besar diamanahkan ke tangan para pemuda. Sejarah telah membuktikan betapa para pemuda telah mampu mensukseskan berbagai agenda besar serta mampu mewarnai dunia.

Pemuda memiliki andil besar dalam sejarah kebangkitan peradaban. Maju mundurnya bangsa tergantung pada kondisi para pemudanya. Jika pemudanya memiliki ketaatan, jiwa besar, dan jiwa kepemimpinan, maka bangsa itu akan maju, besar dan mampu memimpin peradaban dunia. Sebaliknya, jika pemudanya lebih mencintai dunia dan materi, maka masa depan bangsa itu akan suram.

Dalam Islam pemuda dibekali ilmu dan pembentukan mental yang sehat dan kuat, ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang mantap, kehidupan pemuda jauh dari kesenangan dunia. Kehidupan masyarakat yang bersih ini juga bagian dari tatsqif jama’i yang membentuk karakter dan kepribadian generasi muda era khilafah. Peran negara, masyarakat dan keluarga begitu luar biasa dalam membentuk karakter dan kepribadian mereka. Selain kesadaran individunya sendiri.

Pemuda benar-benar menyibukkan diri dalam ketaatan. Hanya dengan cara seperti itu, mereka tidak akan sibuk melakukan maksiat. Dengan menyibukkan diri dalam ketaatan, waktu, umur, ilmu, harta dan apapun yang mereka miliki menjadi berkah. Dunia tak menjadi tujuannya namun impiannya adalah mendapat naungan di akhirat. Berkumpul dengan para Nabi dan RasulNya.

MasyaAllah, oleh karena itu bangkitnya peradaban tidak bisa melalui tangan pemuda binaan sistem kapitalisme tapi melalui binaan sistem Islam yaitu dalam naungan khilafah Islamiyah. Mari kita sama-sama berjuang menciptakan pemuda milenial yang ideal pejuang agama Allah.[ia]

Penulis : Vega Rahmatika Fahra, SH

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: