3 Oktober 2022

Oleh: Iyan S (Ketua Gema Pembebasan Serang Raya)

Dimensi.id-Serang, CNN Indonesia — Seorang ibu rumah tangga di Serang, Banten, menghembuskan nafas terakhirnya, Senin (20/4) sore sekitar pukul 15.09 WIB, setelah menahan lapar dengan hanya minum air galon isi ulang selama dua hari. Ibu bernama Yulie Nuramelia (43) itu menahan lapar dua hari karena tak ada pemasukan akibat wabah virus corona (Covid-19). 

Ibu Yulie meninggalkan empat orang anaknya, salah satunya masih bayi. Suaminya, Mohamad Holik (49), hanya bekerja sebagai pencari barang rongsokan dan pemulung. 

Sejak muncul wabah corona, lapak yang bisa menampung barang rongsokan dari Holik tutup sehingga tak ada lagi pendapatan bagi keluarganya.

Salah Ambil Kebijakan?

Selain keluarga ibu yuli, mungkin banyak pula keluarga yang lain yang merasakan hal yang sama akibat dampak Corona yang tidak terekspos media.

Mungkin saja penyebab meninggalnya bu Yuli disebabkan oleh faktor lain. Namun rasa lapar selama dua hari bisa juga menjadi penyebab melemahnya daya tahan tubuh karena tidak adanya makanan yang bisa dikonsumsi.

Tidak adanya makanan yang bisa dikonsumsi bukan hanya salah kepala keluarga, tetangga, ataupun Saudara, karena kita tahu bahwasanya saat ini kita sedang mengalami Pandemik Corona, dan untuk memutuskan rantai penyebarannya semua orang mengurangi aktivitas di luar rumah termasuk mencari nafkah untuk penyediaan makanan.

Dikutip dari CNN. COM. Sejumlah elemen masyarakat terus mendesak pemerintah segera menerapkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan dalam langkah pencegahan penyebaran virus corona di Indonesia. Sesuai undang-undang ini, salah satu kewajiban pemerintah adalah memenuhi kebutuhan hidup dasar masyarakat, termasuk makanan bagi hewan-hewan ternak milik warga.

Ada beberapa alasan pemerintah tidak menerapkan UUD karantina kesehatan. Seperti yang diungkapkan oleh Mantan Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra. Yang dikutip dari Kompas.Com. Beliau menilai bahwa pemerintah tak mengambil opsi karantina wilayah sesuai Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan untuk mengatasi Covid-19 karena khawatir tak mampu menanggung kebutuhan masyarakat selama proses karantina berlangsung.

Ia juga menduga saat ini pemerintah tidak memilih menerapkan karantina wilayah karena khawatir dengan masalah ekonomi.

Padahal jika kita lihat sumber daya alam Negeri ini sangat berlimpah ruah. Pertambangan emas, perak, batu bara, minyak bumi, hutan yang luas, lautan yang luas dan lainnya. Ternyata kekayaan alam tersebut tidak dikelola oleh Negara dan hasilnya pun bukan untuk rakyat. Buktinya untuk mengatasi pandemi negara sampai harus menambah hutang luar negeri. Maka wajar saja ditengah pandemi kelaparan dan kemiskinan semakin meningkat.

Merebaknya kelaparan dan kemiskinan ini akibat dari sistem kapitalisme yang menyerahkan pengelolaan sumber daya alam kepada para korporasi asing maupun aseng.

Sistem Islam Mampu Sejahterakan Rakyat

Islam sebagai agam sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk di dalamnya juga telah mengatur sumber pendapatan dan pengelolaan keuangan negara. Dalam Kitab An-Nizhâm al-Iqtishâdi fî al-Islâm, Syaikh Taqiyuddin an-Nahbani (2004: 232) menjelaskan bahwa dalam Islam, negara (Khilafah) bisa memperoleh sumber-sumber penerimaan negara yang bersifat tetap yaitu dari: harta fa’i, ghanîmah, kharaj dan jizyah; harta milik umum; harta milik negara;‘usyr; khumus rikâz; barang tambang; dan zakat.

Dengan seluruh sumber di atas, pada dasarnya negara akan mampu membiayai dirinya dalam rangka mensejahterakan rakyatnya. Sebab, dari hasil-hasil SDA saja (jika sepenuhnya dimiliki/dikuasai negara), kas negara akan lebih dari cukup untuk mensejahterakan rakyatnya, dengan catatan tidak ada campur tangan pihak asing dalam mengelola sumber pendapatan negara.
Termasuk ketika masa paceklik atau pandemi seperti sekarang ini dengan pengaturan SDA tersebut tidak akan ada rakyat yang kelaparan.

Namun ini semua akan terwujud jika pemerintah mengatur negara ini dengan syariah Islam, termasuk dalam pengaturan ekonomi dan keuangan negara. Sebagai langkah awal, maka Kaum Muslim perlu mewujudkan institusi penegaknya, yakni Khilafah Islam, sebagai satu-satunya institusi yang bisa menegakkan syariah Islam di tengah-tengah manusia. Penerarapan syariat islam sekaligus merupakan wujud ketakwaan kita kepada Allah SWT . Dengan ini kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Pada akhirnya, kaum Muslim akan menuai keberkahan-Nya, dari langit dan bumi. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. [VP]

Editor : Azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: