3 Oktober 2022

Dimensi.id-Pandemi virus corona atau yang popular disebut COVID-19 sedang melanda dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Jumlah orang yang sudah diperiksa spesimen terkait Covid-19 sejauh ini telah mencapai lebih dari 14.500, kenaikan lebih dari 3.000 dalam satu hari, menurut juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona.

Pada saat saya menulis artikel ini, jumlah spesimen yang diperiksa sampai Senin (06/04) tercatat 11.242 spesimen. Organisasi Pendidikan, Keilmuwan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO menyebut hampir 300 juta siswa di seluruh dunia terganggu kegiatan sekolahnya dan terancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan. Untuk menekan penyebaran corona, sejak 16 Maret 2020 pemerintah memutuskan agar siswa-siswi belajar dari rumah.

Tak hanya itu, dampak corona terhadap pendidikan yaitu Presiden Jokowi telah menetapkan bahwa UN dibatalkan. Dari kebijakan tersebut, diharapakan dapat mengurangi penyebaran corona. Adanya sistem belajar di rumah yang diterapkan oleh pemerintah, mulai menuai pro dan kontra di kalangan orang tua siswa.

Salah seorang guru di SMA Negeri 1 Sumedang Nunung Julaeha, menilai “Kondisi tersebut dimungkinkan terjadi karena siswa mengalami kebosanan akibat harus mengisolasi diri di rumah dalam jangka waktu yang panjang. Jika kesulitan dalam belajar” lanjut Nunung, seharusnya siswa maupun orang tua dapat langsung berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk diberikan arahan.

Belajar dirumah ditengah kondisi wabah ini memerlukan kerjasama penuh dari orangtua, sekolah, dan pemerintah. Orangtua yang mendidik dan mendampingi anak belajar di rumah. Tidak hanya itu, orangtua pun harus menjaga mood anak agar tetap mau berkegiatan dan menghabiskan waktu di rumah. Pihak sekolah yaitu guru tetap memantau siswa yang belajar di rumah, kemudian siswa maupun orangtua menjalin kerjasama yaitu langsung berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk diberikan arahan.

Praktiknya, proses belajar mengajar di rumah banyak kesulitan yang ditemui serta tak sedikit orang tua dan siswa yang mengeluhkan kerepotan dalam kegiatan ini. Mulai dari kurangnya komunikasi, internet yang belum memadai, serta tugas yang terlalu banyak.

Sampai Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima aduan terkait anak-anak yang stres akibat diberi banyak tugas secara online. Begitulah terjadinya, jika pemerintah abai maka membawa petaka. Pemerintah yang tidak cepat tanggap dan tidak sigap dalam menangani hal ini, mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang memberikan solusi hanya pada saat itu saja. Tidak memberikan solusi sampai pada akar permasalahan.

Maka kita membutuhkan riayah negara di tengah wabah ini. Islam merupakan agama yang sempurna dan paripurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, dari mulai bangun hingga tidur, bahkan saat tidur Islam mengaturnya. Soal wabah, Islam sudah memberi teladan dan arahan yang jelas. 

Kesigapan Islam menangani wabah sebenarnya sudah dicontohkan pada masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab. Saat wabah tha’un melanda negeri Syam, Khalifah Umar mengumpulkan sesepuh Quraisy untuk dimintai pendapat apakah Khalifah perlu meneruskan perjalanan ke Syam atau kembali ke Madinah. Beliau menganalisa penyebabnya hingga menemukan metode untuk memutus penyebaran wabah. Beliau memisahkan antara orang sakit dengan yang sehat. Kemudian, beliau melakukan isolasi wilayah yang saat ini dikenal dengan istilah ‘lockdown’.

Metode lockdown sudah dipraktikkan di masa Islam. Sebagaimana hadis Rasulullah saw tentang lockdown, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Itulah yang dilakukan negara sebagai penjaga dan pemelihara, yang menerapkan Islam. Khusus dalam bidang pendidikan, maka saat wabah belum terjadi, Islam akan menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai, menggaji para tenaga pendidik secara layak, menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

Sehingga pada saat wabah terjadi, pendidikan tidak terbengkalai. Serta perlu difahami bahwa penerapan arah pendidikan islami yang akan menghantarkan pada tujuan yaitu untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang sempurna, yang paham hakikat eksistensinya di dunia ini serta tidak melupakan dunia akhirat. Serta menekankan keimanan kepada Allah, juga menciptakan seorang Muslim yang benar.

Wallahu a’lam bishawwab[ia]

Penulis : Fitria Zakiyatul Fauziyah Ch (Siswi SMAN 1 SUMEDANG)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: