30 September 2022

Dimensi.id-“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al A’raf [7]: 96)

1. Corona Menjadi Pandemi

Di penghujung 2019 kita dikejutkan dengan merebaknya wabah virus di kota Wuhan, Cina. Dan menyebar hingga ke beberapa kota sekitarnya. Semua negara masih merasa aman, karena wabah ini terjadi hanya di satu negara.

Menginjak tahun 2020 ternyata virus ini muncul keluar negara asalnya, hingga Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, menyatakan wabah virus corona sebagai darurat kesehatan global, karena wabah terus menyebar ke sejumlah negara di luar China.

Terhitung sudah menginjak empat bulan berlalu namun belum ada tanda-tanda wabah corona ini berakhir. Dimuat pada laman John Hopkins University and Medicine, Coronavirus Resources Center, sejak akhir Desember 2019 hingga Jumat (16/4/2020), virus Covid-19 telah menyebar dari pusat wabah pertama di Wuhan-Cina ke 185 negara lainnya, dengan total penderita positif Covid-19 terkonfirmasi 2.214. 861 kasus dan 150.948 kasus di antaranya meninggal.

Sedangkan peringkat tertinggi yang menduduki penyumbang pengidap covid-19 terbesar adalah Amerika Serikat (683.786), Spanyol (188.093 kasus), Italia (172.434 kasus),  Perancis (147.121 kasus), Jerman (139.041 kasus), Inggris (109.769 kasus) dan China (83.760 kasus).

Ironisnya, 6 negara besar dunia memiliki kasus terbesar dibanding negara asal virus corona. Dan mereka merupakan yang memiliki adikuasa sebagai negara maju.

Kekuatan militer, kecanggihan teknologi serta ekonomi yang diusung negara kapitalis ini ternyata dibuat tidak berdaya dengan adanya wabah corona. Instrumen yang dipandang lebih kredibel mengurusi kesehatan dunia, yakni Lembaga Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO) dan lembaga dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), namun ternyata tidak demikian faktanya. Instrumen politik yang digunakan berupa International Health Regulation 2005 (IHR-2005) yang dirumuskan bagi tujuan membendung penyebaran penyakit secara global, Ketidakmampuan ketiganya  begitu kasat mata.

Hal ini menunjukkan wabah corona telah membuka aib negara sekulerisme-kapitalisme di tengah kejumawaan mereka  atas ketidakmampuan mereka melindungi kesehatan dan menyelamatkan nyawa rakyatnya. Termasuk negara Indonesia yang berkiblat pada mereka.

2. Rapuhnya Penanganan Negara

 Meski memunculkan kekhawatiran setiap negara namun hal ini tidak memberikan sikap penangan yang tepat. Setelah merebaknya dan muncul kasus pertama di negara masing-masing negara, pemerintah hanya memandang sebelah mata. Sekedar menutup akses keluar masuknya turis yang berasal dari China. Sedangkan penanganan dalam tidak dihiraukan karena mengira virus Corona hanya terjadi di kota Wuhan saja tidak di belahan lain dunia.

Namun faktanya virus corona semakin merebak ke beberapa wilayah. Berbagai kepustakaan ilmiah yang mengulas tentang wabah sudah menggarisbawahi pentingnya kesiapan setiap negara dalam menghadapi epidemi baru. Melalui International Health Regulation (2005), WHO bersama semua negara anggotanya juga telah bersepakat menjalankan traktat internasional ini untuk meningkatkan kapasitas negara menghadapi wabah melalui pendekatan cegah, deteksi, dan respons. Namun memandang sebelah mata terhadap lockdown.

Rapuhnya penanganan di sistem kapitalis terbukti saat ini Amerika Serikat misalnya, meski dinilai memiliki sistem kesehatan yang baik, namun juga tidak mampu menyembunyikan kelemahannya.

Dinyatakan dalam laman washingtonpost.com, “Wabah virus corona yang sedang merebak di Amerika Serikat sedang menelanjangi kesenjangan yang serius pada kemampuan sistem kesehatan untuk merespons epidemi, kemampuan rumah sakit dan dokter untuk melakukan apa adanya perencanaan gawat darurat harian, bahkan mereka tetap ragu-ragu tentang bagaimana mengatasi krisis tempat tidur.”

Sementara itu Itali, sistem kesehatan berbasis asuransi kesehatan wajib (Universal Health Coverage) yang dinilai terbaik, kondisinya juga sama buruknya.

Dinyatakan dalam laman nytimes.com, Seorang Wali kota di Itali mengeluhkan bahwa para dokter memutuskan tidak merawat pasien yang sangat tua, dan membiarkan mereka mati. Sementara itu, di kota lain pasien penderita Covid-19 dipulangkan. Di tempat lain, seorang perawat pingsan dalam kondisi masih menggunakan masker, sebagai simbol beban berat yang ditanggung para staf medis.

Penanganan yang terkesan gagap ini merupakan sikap negara kapitalis karena dihadapkan pada dampak pandemi yang meluas hingga menyentuh dalam berbagai sektor. Terutama sektor ekonomi global yang menjadi prioritas utama mereka.

Ekonomi memang terganggu karena Bank Dunia menyatakan pandemi Covid-19 merusak pertumbuhan ekonomi di Cina, Asia Timur, dan Pasifik dengan memproyeksikan tingkat pertumbuhan hanya 2,1 persen.

Wabah di China berdampak jatuhnya tatanan ekonomi global sehingga AS mengira mampu menjadi penggantinya membuat berbagai rencana yang mampu menyaingi di tengah kemerosotan China di dunia. Meski virus corona telah masuk ke dalam wilayahnya AS dengan percaya diri mampu mengembalikan tatanan ekonomi yang kirisis tersebut.  Namun pada faktanya saat ini AS pun dibuat kelimpungan dalam penanganan kesehatannya.

Ternyata rival AS tidak mau kalah, Inggris membuat strategi. Negara ini telah mengembangkan tes deteksi virus corona (SARS-CoV-2) secara massal dan murah berwujud perangkat yang bisa digenggam seharga US$120 (Rp1,9 juta) yang dikembangkan peneliti Brunel University London, Lancaster University, dan University of Surrey.

 AS  menyalahkan China yang terkesan menutupi penyebaran wabah di kota Wuhan.  Sehingga membuat AS seperti kalang kabut ketika virus itu merangsek ke negaranya. Namun AS tidak melakukan tindakan preventif bahkan tetap memberlangsungkan aktivitas bisnis.

AS mengalokasikan lebih dari 53% dari anggaran belanja sektor kesehatan pada perusahaan asuransi yang telah menguras porsi besar dari anggaran belanja. Sedangkan perusahaan farmasi mendapat porsi 15% dari anggaran belanja.

Bisa dikatakan lebih dari 75% anggaran belanja ini dikuasai oleh perusahaan yang hanya mencari keuntungan. Ia memperjualbelikan kesehatan manusia melalui spekulasi anggaran belanja di pasar modal, juga melalui kepemilikan hak cipta produksi obat dan berakibat pada lonjakan harga obat serta biaya berobat.

Lagi-lagi menyerahkan urusan umum yaitu  kesehatan kepada para kapital atau swastanisasi. Hal ini nampak mengambil keuntungan dibalik kesempitan. Mengeruk keuntungan di tengah pandemi seperti bermain-main dengan banyak nyawa. Kapitalis pun melahirkan pemimpin anti kritik. Meski yang dilakukannya menuai kritik.

Presiden AS Donald Trump me-retweet panggilan untuk memecat Dokter Anthony Fauci setelah Ilmuwan terkemuka penyakit menular di negara itu mengatakan bahwa banyak nyawa bisa diselamatkan jika Amerika ditutup lebih cepat selama wabah virus corona yang baru.  Dokter Anthony Fauci yang merupakan Penasihat Kesehatan Pemerintah As dalam 6 Administrasi Kepresidenan sejak tahun 1984 berusaha menjelaskan komentar yang tampaknya telah membuat marah Presiden Donald Trump karena memberikan kritik bahwa Trump lambat menanggapi Pandemi tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia?

Seperti tidak belajar dari beberapa negara yang menjadi kiblatnya, Indonesia terkesan lebih lamban. Dipastikan terus bertambahnya korban yang bermula hanya 2 orang hingga saat ini ter update (kamis, 16/04) jumlahnya sudh mencapai 5.516 orang positif sebagaimana ynag telah disampaikan oleh Juru bicara penanganan Corona, Achmad Yurianto.

Di saat negara lain menutup keluar masuk turis atau peringatan perjalanan, Indonesia justru memberikan diskon pesawat terbang dan pariwisata, dan bebasnya devisa. Serta membebaskan pajak hotel dan restoran, untuk melawan dampak ekonomi dari wabah virus corona. Dana yang dikeluarkan pun tidak tanggung-tanggung,  Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menyebutkan pemerintah menggelontorkan insentif Rp 443,39 miliar untuk Insentif itu. Tak cuma untuk maskapai, pemerintah juga menggelontorkan subsidi kepada pemerintah daerah berupa hibah Rp3,3 triliun untuk pembebasan pajak hotel dan restoran terhadap pengusaha

Hal ini buah dari ketidakseriusan rezim bahkan bermula terkesan menutupi data kenyataan yang ada dan menganggap remeh penyebaran corona bahkan Menkes dengan entengnya menyebutkan tidak lebih berbahaya dibandingkan virus influenza.

Karena entengnya dalam memandang virus corona, alhasil kebijakan yang dikeluarkan pun menghasilkan tambal sulam. Memacu kepada kebijakan WHO,  rezim menolak lockdown atau karantina wilayah, dimana hal ini banyak diajukan oleh pemerintah daerah. Alasan penolakan karena lockdown akan membawa konsekuensi bagi pemerintah. Karena berdasarkan UU No. 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan Kesehatan, salahsatu kewajiban pemerintah adalah memenuhi kebutuhan hidup dasar masyarakat, termasuk makanan bagi hewan-hewan ternak milik warga.  

Sekarang melakukan alternatif lain yaitu diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bahkan akan mengeluarkan kartu pra kerja. Bukankah ini akan memunculkan polemik baru, di tengah was-wasnya masyarakat karena dihadapkan pada pembebasan 30.000 napi.

Dari bidang kesehatan pun tak kalah pelik, satu sisi tim medis sedang berada di garda terdepan dalam penanganan Virus corona, mengalami kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) bahkan setiap orang tim media hingga pasien rawat inap dibebankan biaya untuk membeli APD.[]

Namun ironisnya menteri keuangan, Sri Mulyani, mengatakan tetap mengeskpor APD ke negara lain tanpa mengurangi kebutuhan dalam negeri untuk menangani covid-19. Karena Indonesia salahsatu penghasil APD terbesar juga telah memiliki kontrak pemenuhan suplai APD ke beberapa negara seperti Korea Selatan dan Jepang.

Karut marut yang terjadi merupakan bukti bobroknya kapitalisme, yang memang sejak asasnya rusak maka akan menghasilkan kerusakan. Allah SWT berfirman dalam

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar Rum [30]: 41),

Negara kapitalis hanya melihat bagaimana mencari keuntungan sebesar-besarnya. Sistem ini telah melahirkan para pemimpin rakus yang hanya mementingkan keuntungan ekonomi bahkan dibanding dengan nyawa manusia. Rakyat hanya dijadikam komoditi pasar untuk mengeruk keuntungan, negara berlepas dari tanggung jawab dalam hal memelihara dan melindungi.

Adanya wabah virus corona ini menunjukkan pada dunia bahwa negara sekuler kapitalis manapun begitu lemah di hadapan makhluk Allah yang lebih kecil. Dan bahwasanya peradaban yang dibangun atas asas sekulerisme yang mengenyahkan eksistensi Allah SWT sebagai pengatur kehidupan, justru berbahaya dan harus dihentikan.

Dunia saat ini membutukan adanya sistem kredibel yang mampu dan kuat, dan itu hanya ada ketika Islam diterapkan menjadi Ideologi dalam sistem Khilafah. Kredibilitasnya telah terbuktikan dalam sejarah.

3. Kebutuhan Dunia pada Khilafah

Islam merupakan diin yang diturunkan Allah Subhanahuwata’ala kepada Rasulullah saw. Dengan membawa aturan lengkap untuk seluruh aspek kehidupan manusia. Begitupula dalam mengatasi wabah.

Berbeda dengan konsep kapitalisme, Islam dengan sistemnya Khilafah melahirkan pemimpin yang memiliki paradigma shahih yang hanya menerapkan aturan-aturan dan mengeluatkan kebijakan hanya berlandaskan dari sumber Islam (Al-Quran, As-sunmah,Ijma shahabat dan Qiyas) yang akan menempatkan kepentingan hak rakyat di atas kepentingan ekonomi. Mengutamakan keselamatan jiwa.

Keberadaan negara sebagai pelaksana syariat secara total dalam wujud sistem kehidupan Islam. Negara yang berfungsi  sebagai pemelihara dan pelindung. Akan memberikan upaya preventif dalam penanganan wabah.

Terbukti keberhasilan Khilafah dalam peradaban Islam telah tercatat sejarahnya setidaknya menghadapi tiga wabah yang terjadi di Dunia Islam. Pertama: Wabah di Amwas wilayah Syam (kini Suriah) di tahun 639 M yang telah menimbulkan syahidnya dua sahabat Nabi saw., yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah dan Muadz bin Jabal. Kedua: Wabah ‘Black Death’ yang mengepung Granada, benteng terakhir umat Islam Andalusia pada abad ke 14. Ketiga: Wabah smallpox pada Abad 19 yang melanda Khilafah Utsmani.

Keberhasilan Khilafah dalam menghentikan wabah tidak lepas dari kebijakan efektif seperti beberapa langkah berikut:

a. Tidak meninggalkan dan tidak memasuki wilayah wabah (Lockdown syar’i)

Saat wabah Amwas di Syam  (639 M) dan wabah ‘Black Death’ Granada Andalusia (abad ke 14) kaum Muslim dihadapkan pada pertanyaan, “Apakah menghindar dari wabah berarti lari dari takdir Allah?”

Saat itu Abu Ubaidah bin Jarrah ra., sebagai komandan pasukan jihad di Syam, bertemu dengan Khalifah Umar bin Khaththab ra. di Sargh. Khalifah berniat untuk membawa kembali Abu Ubaidah ke Madinah. Abu Ubaidah menolak dan mengingatkan apakah Sang Khalifah ‘lari dari takdir Allah’?

Dijawab oleh Khalifah Umar bahwa ‘kita lari dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain’. Beliau lalu menjelaskan pilihan seorang penggembala yang membawa kambingnya ke lembah yang hijau ketimbang ke lembah yang tandus. Pilihan Khalifah Umar ra. dan pilihan Abu Ubaidah ternyata mendapatkan legitimasi dari Hadis Nabi saw. Abdurrahman bin Auf bertutur: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِه بِأرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ  بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

Jika kalian mendengar suatu negeri dilanda wabah, jangan kalian memasukinya. Jika wabah itu terjadi di negeri yang kalian berada di dalamnya, janganlah kalian keluar darinya (Muttafaq ‘alayh).

Dari sisi ilmu dan kebijakan kesehatan masyarakat modern, apa yang Rasulullah saw. sampaikan adalah upaya preventif untuk mengisolasi penularan wabah penyakit agar tidak meluas.

Hikmah dari keputusan Abu Ubaidah bin Jarrah ra. dan Muadz bin Jabal ra. yang memilih untuk tetap tinggal di wilayah yang sedang mengalami wabah terlihat dari fatwa Ulama Granada (Abad 14), Abu Said Ibn Lubb, saat terjadi wabah di Granada terhadap pertanyaan, “Jika kita meninggalkan area yang terkena wabah, siapa yang mengurus Muslim yang sakit dan meninggal?” (Hopley R, 2010).

Pertanyaan ini penting. Pasalnya, kewajiban Muslim untuk saling tolong-menolong, merawat yang sakit dan mengurus jenazah. Karena itu pilihan Abu Ubaidah dan Muadz bin Jabal—keduanya adalah pejabat Negara Khilafah—untuk tidak meninggalkan wilayah Syam merupakan cerminan rasa tanggung jawab mereka untuk mengurus warganya dan bersabar bersama mereka.

Kalaupun mereka akhirnya meninggal dunia dalam pengurusan tersebut, mereka layak mendapatkan pahala syahid sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللهِ

Orang yang mati syahid ada lima, yakni: orang yang mati karena tha’un (wabah); orang yang mati karena menderita sakit perut; orang yang mati tenggelam; orang yang mati karena tertimpa reruntuhan; dan orang yang mati syahid di jalan Allah (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pada tahun 1428 terjadi wabah di Kota Bursa, salah satu kota penting Khilafah Utsmani. Anggota keluarga Khilafah Utsmani, yaitu tiga saudara laki-laki  dan sepupu Sultan Murad II, juga ada yang meninggal. Ini juga menunjukkan bahwa mereka bertahan dan tidak meninggalkan kota.

Sultan Muhammad al-Fatih dalam kampanye militer pada tahun 1464 paska pembebasan Konstantinpel juga menghindari wilayah Balkan yang sedang mengalami wabah.

Perilaku para bangsawan Khilafah Utsmani ini selaras dengan sabda Nabi saw., yaitu tidak lari ketika wabah terjadi, dan menghindar dari wilayah yang sedang terkena wabah (Marien G, 2009).

Keputusan untuk tetap tinggal atau tidak memasuki wilayah wabah juga tidak diartikan ‘tinggal berdiam diri menunggu ajal’ atau ‘menghindar dan membiarkan’. Namun, tetap harus dipikirkan upaya untuk meminimalisasi jumlah korban yang jatuh dari populasi yang terjebak wabah.

Adapun kebutuhan logustik dan pelayanan kesehatan seperti obat-obatan, alat kesehatan  tim medis dan pasien merupakan tanggung jawab penuh Khalifah untuk memenuhinya.

b. Mencari tahu mekanisme penyakit.

Setiap ciptaan Allah SWT memiliki khasiat (spesifikasi) yang tetap. Air akan mendidih pada suhu 100C di permukaan air laut, dan mendidih di suhu yang lebih rendah beberapa derajat ketika berada di puncak Gunung Ceremai. Demikian pula spesifisitas virus yang beragam dan menimbulkan penyakit yang juga beragam dampak mortalitas (kematian) serta morbiditasnya (kesakitan); juga bisa diobservasi khasiat atau qadar yang Allah telah tetapkan padanya (Tentang qadar, lihat: QS al-Furqan [25]: 3).

Memahami qadar atau khasiat yang ditetapkan Allah SWT pada mekanisme terjadinya penyakit berhasil diobservasi oleh ilmuwan Andalusia saat itu, yaitu Lisanuddin ibn al Khatib, dalam bukunya, Muqni’at as-Sâ’il ‘an al-Maradh al-Hâ’il (Tanggapan Meyakinkan Atas Pertanyaan Tentang Penyakit yang Menakutkan). Dinyatakan, antara lain: Adanya penyakit menular dibuktikan berdasarkan pengalaman dan laporan yang bisa dipercaya. Baju, tempat minum, anting-anting penderita adalah media penularan penyakit di rumah-rumah; juga datangnya penumpang kapal dari wilayah yang telah terpapar wabah menularkan penyakit kepada warga kota pelabuhan yang awalnya sehat, dan tetap sehatnya warga yang terisolasi dari paparan penyakit.” (Hopley R, 2010).

Ibn al-Khatib juga melaporkan bahwa manusia yang tidak pernah bertemu dengan penderita ternyata tidak pernah terkena penyakit. Tidak ada juga penyakit di penjara manakala para tawanan terisolasi dari dunia luar yang sedang mengalami wabah.

Dengan demikian observasi mekanisme penyakit menular (melalui Sains) tidak bertentangan dengan wahyu. Pasalnya, mekanisme tersebut masih mematuhi khasiat atau qadar yang Allah SWT telah tetapkan. Ibn Rushd, yang juga merupakan ilmuwan Muslim Andalusia, dua abad sebelum wabah terjadi menyatakan bahwa dalam konteks teknis atau observasi alam, ketika ada kesan bertentangan dengan teks hadis, maka penafsiran teks hadis perlu disesuaikan karena keduanya tidak mungkin bertentangan.

Muhammad ibn al-Lakhm ash-Shaquri adalah murid dari Ibn Khatib. Ia memberikan nasihat praktis bagi warga yang harus tinggal di wilayah wabah seperti penggunaan alat makan yang terpisah dan pembersihan dengan cuka pada alat tersebut sebelum dan sesudah penggunaannya. Cara mereka berpikir menunjukkan adanya pengakuan terhadap Allah sebagai Zat Yang telah menetapkan khasiat pada makhluk-Nya. Secara bersamaan mereka juga proaktif (bukan pasrah) melakukan observasi yang bisa menghasilkan rekomendasi kesehatan secara praktis (Hopley R, 2010).

Pengetahuan ini ternyata membantu populasi di Granada untuk bisa kembali bangkit dari wabah Black Plague Abad 14. Mereka pun berhasil menyelesaikan proyek pembangunan Istana Alhambra. Pada periode waktu yang sama, di Kota Siena, Italia, yang sedang merenovasi Katedral Siena, terhenti proyeknya akibat wabah yang sama. Merela tidak pernah bisa menyelesaikan renovasi tersebut seusai wabah berakhir hingga kini (Ober & Aloush, 1982).

c.  Pengembangan dan Produksi Vaksinasi

Sementara itu, keseluruhan konsep-konsep sahih Islam dalam wujud sistem kehidupan Islam khususnya sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam dengan kekuasaan yang tersentralisasi dan administrasi desentralisasi, meniscayakan negara memiliki kemampuan logistik yang memadai untuk membuat daya imunitas tubuh masyarakat berada pada puncaknya. Seperti penggunaan riset teknologi yang pernah dilakukan

Wabah smallpox yang melanda Khilafah Uthmani pada Abad  19 membangkitkan kesadaran di kalangan penguasa tentang pentingnya vaksinasi smallpox (cacar). Sultan memerintahkan pada tahun 1846 penyediaan fasilitas kesehatan untuk vaksinasi terhadap seluruh anak-anak warga Muslim dan non-Muslim. Namun, wabah smallpox kembali terjadi pada tahun 1850 akibat banyaknya orangtua yang tidak menginokulasi anak-anak mereka. Sultan menyatakan bahwa tindakan para orangtua yang lalai mengantar anak-anak mereka ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksinasi telah melanggar syariah dan hak anak. Padahal Sultan telah menyiapkan banyak sekali faskes serta dokter dan profesional kesehatan lainnya (Demirci T, 2008).

Catatan sejarah tersebut tertulis dalam tinta emas peradaban Islam. Dimana negara berperan dalam melindungi keselamatan rakyatnya tanpa terbatas ras, status sosial, ataupun keyakinannya. Tidak mengenal sekat-sekat negara bangsa dan egois kedaerahan yang diharamkan Islam.

Yang tak kalah penting adalah sistem ekonomi dan sistem politik Islam akan menjadikan negara memiliki kemampuan finansial yang luar biasa. Ekonomi mandiri yaitu melalui politik anggaran berbasis baitulmal dengan anggaran yang bersifat mutlak.

Baitulmal adalah institusi khusus pengelola semua harta yang diterima dan dikeluarkan negara sesuai ketentuan syariat. Bersifat mutlak, maksudnya adalah ada atau tidak ada kekayaan negara untuk pembiayaan pelayanan kemaslahatan masyarakat –termasuk penanggulangan wabah–, maka wajib diadakan negara.

Dalam baitul mal terdapat tiga pos pemasukan, yaitu pos fa’i dan kharaj, pos kepemilikan umum, dan pos shodaqoh. Saat Khilafah dilanda wabah maka, keperluan masyarakat akan dibiayai dari pos fa’i dan kharaj serta pos kepemilikan umum.Biaya pengembangan pelayanan kesehatan dan pengembangan teknologi seperti pengembangan dan produksi vaksin diambil dari pos kepemilikan umum.

Bila dari pemasukan rutin tidak terpenuhi, diatasi dengan pajak temporer yang dipungut negara dari orang-orang kaya sejumlah kebutuhan anggaran mutlak.

Inilah gambaran prinsip sahih Islam, pelaksanaannya secara kaffah oleh Khillafah akan menyelesaikan secara sistemis dan segera berbagai persoalan hari ini, sebagai keberkahan yang dijanjikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

4. Khatimah

Demikian krisisnya kondisi dunia saat ini hingga jatuhnya banyak korban dan dampak kemanusiaan lainnya merupakan fakta bobroknya Sistem sekulerisme-kapitalisme. Karena sistem kapitalisme hanya akan melahirkan kebijakan dan orang-orang yang hanya haus pada materialistik bukan kepada penyelamatan jiwa. Sudah saatnya dunia beralih pada tatanan kehidupan shahih berasal dari wahyu, solusi efektif dalam penanganan wabah akan terealisasi dengan baik dalam sistem yang shahih. Dalam naungan  Khilafah Islamiyah.

Kepada pars pejuang Agama Allah, terus  gaungkan perjuangan dalam penegakkan Khilafah sebagai satu-satunya sistem yang akan menerapkan Islam kaffah. Jangan pernah berhenti meski dihadapkan pada cobaan kesakitan, ketakutan karena Allah akan memberikan kemenangan, sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَ رْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur 24: Ayat 55)

Wallahu a’lam bi ash-shawab[ia]

Penulis : Ummu Rara (Ibu Rumah Tangga, Penggiat Literasi)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: