5 Oktober 2022

Dimensi.id-Corona masih hangat diperbincangkan sampai dengan seperempat tahun ini. Efek dari penyebaran virus mematikan ini masih berbuntut panjang. Mulai dari jumlah korban yang kian hari semakin meningkat, hingga penolakan terhadap kehadiran paramedis yang diketahui sebagai orang pertama yang punya risiko tinggi tertular virus ini.

Miris, di tengah kondisi krisis akibat coronaeffect ini, setiap orang seharusnya punya rasa empati yang tinggi, bukan sebaliknya. Saling acuh dan egois  menjadi pemandangan akhir-akhir ini. Tidak hanya kepada para korban, bahkan paramedis yang sukarela berjuang di barisan terdepan untuk menyelamatkan pasien covid 19 – pun kena getahnya.  Alih-alih mendapat penghormatan, paramedis ini justru diperlakukan tidak menyenangkan. Seperti yang dialami dokter dan perawat di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur. Mereka diusir dari tempat kos yang disewa (liputan 6.com).

Belum usai kasus penolakan paramedis di lingkungan tempat tinggalnya. Publik kemudian digegerkan oleh berita penolakan jenazah positif covid 19. Kasus penolakan pemakaman jenazah covid ini terjadi di daerah Sewakul, Ungaran Kabupaten Semarang. Dilansir dari kompas.com, penolakan jenazah covid 19 dilakukan oleh sekelompok warga yang takut tertular oleh virus tersebut. Jenazah yang mereka tolak adalah perawat yang seharusnya dihormati karena sudah mengambil risiko besar dalam menangani pasien covid 19.

Inilah yang disebut sebagai coronafobia yang menjadikan masyarakat punya kekhawatiran berlebih hingga mengikis rasa kemanusiaan. Munculnya coronafobia ini disebabkan karena minimnya informasi dan edukasi yang diberikan oleh pemerintah sehingga masyarakat bertindak menerabas batas adat dan agama. 

Bisa dibayangkan betapa sedihnya keluarga korban.  Semasa perawatan pasien covid 19, paramedis siap pasang badan.  Jauh dari keluarga dan tidak bisa sesering mungkin pulang. Demi menjaga keselamatan  anggota keluarga yang lain. Ditambah lagi  saat wafatnya, masyarakat tak mau menerima mereka karena takut menularkan virus berbahaya itu. Inilah rentetan coronafobia yang bermuara kepada paramedisfobia, sungguh ironi.

Kejadian ini adalah side impact kegagalan sistem kapitalisme dalam melindungi jiwa manusia. Tidak hanya bagi yang hidup. Bahkan yang sudah wafatpun ikut terkena imbasnya. Sistem yang mencengkram dunia hampir satu abad  ini, telah mencetak individu masyarakat yang hanya memikirkan dirinya sendiri  tanpa peduli orang-orang di sekitarnya.

Sangatlah kontras dengan apa yang pernah terjadi di masa silam. Siapa yang tidak kenal dengan sosok gagah berani. Bahkan jin pun akan mengambil jalan berbeda jika berpapasan dengannya. Dialah Umar bin Al-Khattab radiyallahu ‘anhu yang tiba-tiba menangis dan kelihatan sangat terpukul. Beliau mendapatkan Informasi dari salah seorang ajudannya tentang peristiwa di Iraq. Seekor keledai tergelincir kakinya dan jatuh ke jurang akibat jalan yang dilewatinya rusak dan berlubang.

Kematian seekor hewan saja menjadikan khalifah Umar menangis. Beliau takut akan hisabnya di akhirat tersebab matinya keledai tadi karena jalanan rusak yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin.  Bagaimana dengan pemimpin saat ini?.  Ratusan nyawa sudah jadi korban. Bahkan sampai ada penolakan jenazah. Hujjah apa yang akan disampaikan kelak di hadapan Allah?.

“Imam (khalifah) laksana penggembala. Dan dia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al-Bukhari).

Kesempurnaan Islam tentu tidak hanya ditopang oleh pemimpin yang amanah, seperti Umar. Tetapi juga kontrol masyarakat  dan ketaqwaan individu yang hidup di dalamnya.  Masyarakat  akan  melakukan muhasabah kepada penguasa jika lalai dalam mengurusi urusan rakyat.

Kisah di atas bisa diambil pelajaran, bahwa pemimpin Islam sangat concern terhadap urusan umat. Walaupun saat itu dari Iraq ke Madinah jarak tempuhnya cukup jauh dan hanya menggunakan transportasi seadanya. Tetapi informasi yang diterima oleh Umar akurat.

Jika dibandingkan dengan kecanggihan teknologi dan transportasi saat ini, tentu akan lebih mudah bagi rakyat mengakses informasi tentang penanganan pasien terjangkit covid 19 sekaligus penanganan jenazah covid dari awal hingga pemakaman yang  tentu SOPnya (standar opersional dan prosedur) berbeda dengan jenazah yang lain.

Pilar ketiga dalam Islam adalah ketaqwaan individu. Individu dalam Islam akan ridha dengan segala ketetapan Allah. Maka adanya virus yang secara kasat mata tak tampak ini, akan menjadikan setiap individu semakin taqarrub kepada Allah SWT. Allah yang mengendalikan kehidupan virus dan Allah yang dapat menghentikan laju persebarannya. Maka hanya kepada Allah satu-satunya tempat bersandar dan meminta pertolongan. Sikap ini akan melahirkan ketenangan dalam jiwa dan tidak panik berlebihan.[ia]

Penulis : Rian Handayani

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: