5 Oktober 2022

Dimensi.id-Pandemi Covid-19 sampai saat ini masih menghantui seluruh dunia, khusunya Indonesia. Entah virus itu adalah tentara Allah ataukah konspirasi dari beberapa oknum yang menginginkannya, wallahu ‘alam kita tidak tahu. Yang jelas layaknya kita sebagai umat islam harus bisa menyikapinya sesuai tuntunan Allah. Bahkan banyak masyarakat yang terkena imbas dari pandemi ini, karena itu banyak masyarakat yang berharap akan diberi bantuan berupa bahan pokok. Namun, tak semua bantuan tersebut diberi secara merata.

Ambil saja salah satu contoh di kota Padasidimpuan yang terletak di Sumatera Utara. Ratusan penarik betor (becak bermotor) mengeluhkan karena tidak mendapatkan bantuan. Mereka menggereduk Kantor Wali Kota Padangsidimpuan, mempertanyakan dan meminta kejelasan tentang bantuan dari Pemkot, lantaran kondisi ekonomi yang kian hari kian sulit di tengah wabah virus ini. (17/4/2020)

Dalam aksi tersebut para massa tertahan aparat yang berjaga-jaga untuk pengamanan dan memastikan situasi agar tetap kondusif. Suwardi (65) salah satu warga penarik betor berkata bahwa mereka datang ke kantor Wali Kota bukan untuk rusuh, tetapi ingin mempertanyakan hak mereka sebagai masyarakat yang juga terkena imbas dari pandemi ini.

Sudah hampir 2 bulan pandemi ini menghantui Indonesia. Dan sampai saat itu juga semua aktivitas baik dari segi pendidikan hingga pekerjaan menjadi terganggu, belum lagi para pekerja harian yang harus susah payah mencari makan dari pekerjaan harian mereka. Seperti para penarik betor yang  rata-rata pengahsilannya Rp. 20.000 per harinya, belum lagi mereka mempunyai keluarga yang ditanggung. Dan selama pandemi ini mereka sedikitpun belum tersentuh bantuan dari Pemkot Padangsidimpuan.

Belum lagi ada kasus penimbunan seperti masker, handsinitizer hingga bahan pokok, semakin sulitlah mereka untuk mendapatkan bantuan. Padahal nyaranya mengharapkan batuan pemerintah yang mengadopsi Kapitalisme sekulerisme seperti panggang jauh dari api, tak terharapkan, mustahil. Hitung-hitungan, untung rugilah yang menjadi prioritas utama pemerintah kapitalisme bukan keselamatan dan kebutuhan rakyat.

Memang benar kondisi Indonesia dari hari ke hari sampai sekarang semakin kacau. kita memang tidak menginginkan hal itu terjadi namun bagaimana lagi jika yang diterapkan adalah sistem kapitalis. Korupsi semakin menggurita, sementara penegakan hukum semakin jauh dari harapan.

Di sisi lain para pejabat dan elit politik saling sikut dan sibuk memikirkan kedudukan politiknya daripada memperhatikan secara serius bagaimana memperbaiki kehidupan rakyat, ditambah lagi datangnya pandemi covid-19 ini. Keadaan tersebut menggambarkan para pemimpin kita tidak amanah dan tidak mampu mewujudkan sistem yang menjamin kesejahteraan masyarakat.

Dalam islam, pemerintah adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat. Nabi SAW bersabda: “Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan ia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadits Nabi SAW tersebut, seharusnya fungsi pemerintahan adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat. Ini berarti dalam menghadapi wabah juga pemerintah harus bisa mengupayakan agar masyarakatnya terjamin kehidupannya.

Memang benar, kita harus membangun kepedulian sosial di tengah-tengah masyarakat dengan ukhuwah Islamiyah, juga dalam keadaan pandemi ini harus segera dituntaskan, di sinilah peranan negara tidak akan pernah dilepaskan. Tanpa peranan negara mustahil pandemi ini bisa diatasi.

Penulis : Habsah (Aktivis Muslimah Dakwah Community)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: