30 September 2022

Dimensi.id-Serba-serbi duka Corona semakin lama semakin bervariasi di Negeri pertiwi ini. merebak ke seluruh penjuru kota hingga ke pedalaman desa. makhluk yang ukurannya amat kecil, namun begitu besar peringainya hingga mewabah dan menakutkan hampir sebagian penduduk masyarakat Indonesia.

Bagaimana tidak, bahwa hingga saat ini korban meninggal karena wabah ini pun terus saja meningkat massif yang menjadikan adrenalin ketakutan masyarakat semakin menjadi. Namun, teramat tidak siap yang terjadi di Negeri pertiwi ini, baik secara pencegahan, penanganan, maupun menyiapkan masyarakat menghadapi duka badai corona ini.

 Seperti kesaksian seorang perawat yaitu Minarsih “tugas yang diemban ini tak sebanding dengan penderitaan dan ketakutan pasien yang terindikasi corona. “Setiap kali pasien dimasukkan ruang isolasi, wajah mereka sangat tegang dan depresi. Bahkan ada yang nyaris bunuh diri karena stres,” ungkap Minarsih. Sehingga peran Minarsih dan tenaga medis di ruang isolasi sangat dibutuhkan.

Melalui WA pula para pasien bisa saling berinteraksi dan mengenal satu sama lain, dan membangun semangat sembuh bersama-sama. Rekan Minarsih, Tri Sudaryati (54) memberikan kesaksian sama. Perawat senior ini bahkan mengalami tekanan mental di luar tempat kerjanya sejak merawat pasien corona. “Mereka mengucilkan saya karena dianggap bisa menularkan virus. Padahal tidak sesederhana itu,” katanya. (5/04/2020)

Berbeda yang terjadi di Daerah Semarang, sebagaimana “Meski sudah mendapat penjelasan dari tim medis hingga Wakil Bupati Semarang terkait keamanan dari potensi tertularnya virus tersebut, warga diketahui tetap bersikukuh melakukan penolakan. Terlebih, jenazah yang mereka tolak adalah seorang perawat yang sebelumnya telah berjibaku menyelamatkan pasien. (10/04/2020)

Badai corona, siapa yang mau terus-menerus ditimpa oleh musibah tersebut, baik masyarakatnya maupun Negara. Dimana, duka yang menimpa hampir seluruh segi kehidupan, dari segi pendidikan yang semakin sarat mendapatkan akses pertemuan yang berkualitas antara guru dan muridnya, dari segi perekonomian yang mengalami ketimpangan besar-besaran dari perekonomian menengah ke bawah seperti pemulung, pedagang kaki lima, tukang becak dan lainnya, hingga perekonomian menengah keatas. Selain itu dari segi bidang kesehatan, yang saat ini telah mengalami kesusahpayahan yang teramat besar dalam menghadapi wabah pandemi ini.

 Berbicara tentang duka yang mengguncang bidang kesehatan di Negeri pertiwi ini, yang menjadi garda terdepan melawan virus yang merebak di Negeri ini sejak pertama kali ia datang. Namun, begitu sarat pandangan pemerintahan Negara terhadap dukungan kekuatan pada bidang kesehatan dan jajaran tenaga medisnya untuk melawan pandemi ini bahkan sejak awal. Bagaimana tidak dikatakan terlambat, bahkan hingga saat ini APD, obat-obatan masih saja terbatas keberadaannya di rumah sakit hampir keseluruhan di Negara ini.

Lain sisi lain kenyataannya dengan kondisi masyarakatnya. Dimana, mereka juga mengalami suatu kondisi kecemasan yang menerpa pada mental sosial masyarakat. Bagaimana tidak, bahwa memang kenyataan yang terjadi adalah berita duka kematian terus menerus secara massif menghinggapi pemberitaan utama setiap harinya. dengan adanya demikian, bahkan tidak ada pemberitaan awal untuk siap siaga penanganan oleh pemerintahan bahkan sejak diinformasikan bahwa terdapat 1 korban meninggal di Indonesia, dilansir sejak awal maret bulan lalu.

Maka tidak salah, apabila masyarakat mengambil keputusannya sendiri untuk mencegah wabah tersebut menjangkiti daerah asalnya. dan salah siapa jika kerusuhan terjadi akibat ketidakpahaman masyarakat menghadapi pandemi ini. dimana, tidak ada satu kesatuan gerakan tegas yang menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama mencegah wabah ini semakin menyebar.

Analoginya seperti ketika kita berada pada bagian paling bawah kapal, dimana pada saat itu kita membutuhkan air, namun sumber air berada di bagian atas kapal. dan posisinya, akses bagian atas kapal dan bagian bawah kapal tertutup. kemudian, apa yang terjadi ketika penduduk bagian paling bawah kapal menuntut penduduk bagian atas kapal untuk memenuhi kebutuhan air. yang terjadi adalah kerusuhan. atau yang paling parah ketika solusinya tidak tepat yaitu melubangi kapal untuk mendapatkan air dilautan, yang terjadi kapal akan tenggelam.   

Sedangkan kini, duka corona masih bertahta pada tempatnya, sama halnya ketika datangnya wabah ke Indonesia tidak sekedar membawa musibah namun juga hikmah yang tersembunyi di dalamnya. baik menjadi pembelajaran bagi masyarakat maupun sebagai teguran bagi Negara dan pemerintahannya.

Sebagaima menjadi pembelajaran bagi masyarakat, maka mari kita coba mengingat lagi ketika Rasulullah saw bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا تَزَالُ الرِّيْحُ تُمِيْلُهُ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيْبُهُ الْبَلَاءُ

Perumpamaan seorang Mukmin bagaikan pohon yang selalu diterpa angin yang menggungcangkan dirinya. Seorang Mukmin akan senantiasa ditimpa dengan ujian (HR Muttafaq ‘alaih).

Kemudian, dengan janji Allah swt dalam firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Karena itu gembirakanlah orang-orang yang sabar (TQS al-Baqarah [2]: 155).

Dan saat inilah juga, sudah saatnya masyarakat saling mendukung satu sama lain, saling membantu untuk bersama-sama melawan wabah ini. dimana Rasulullah saw pernah mengingatkan:

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانًا وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. Padahal ia (orang yang kenyang itu) tahu (HR ath-Thabarani).

Sama seperti itulah ketika kita juga harus mengetahui sebab dan akibat yang terjadi, dimana akan menjadi tindakan tepat selanjutnya untuk menghadapi wabah pandemi ini. serta tidak sekedar reaksi gegabah yang menimbulkan kerusuhan sosial.

Dan tidak menutup kemungkinan pula, bahwa peran terpenting Negara untuk menjadi sumber informasi utama yang seharusnya menjadi satu kesatuan edukasi masyarakat utama yang juga sekaligus menjadi penggerakan utama secara serentak dalam menghadapi wabah pandemi ini. seperti yang telah Rasulullah saw ingatkan khusus pada pemimpin negeri:

فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Pemimpin masyarakat adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR Muslim).

Dan pemimpin yang bertanggung jawab dan mengurusi rakyatnya lah, yang masyarakat rindukan sampai saat ini. dan tiada lagi akan didapatkan kecuali ada pada Daulah Islamiyah yang merupakan satu kesatuan institusi Khilafah rosyidah.

Wallahu a’lam bishowab. [ia]

Penulis : Ayu Anggita (Mahasiswi)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: