3 Oktober 2022

Dimensi.id-Penyebaran COVID-19 di berbagai negara membuat perekonomian global semakin terpuruk. Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut kondisi ini merupakan yang terparah sejak 1930 silam.

IMF menyebut risiko resesi disebut berpotensi terjadi hingga 2021 jika pemangku kepentingan di berbagai negara gagal merespon pandemi ini dengan kebijakan yang tepat. Perekonomian global diprediksi akan berkontraksi pada 2020.

“Lockdown besar-besaran akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi global. Tingkat produk domestik bruto (PDB) masih dibayangi ketidakpastian,” kata IMF dikutip dari CNN, Rabu (15/4/2020). (Detik.com/17/4/20)

Berikut prediksi atau ramalan sejumlah lembaga internasional terkait pertumbuhan ekonomi dunia 2020: (cnbcindonesia.com/17/4/20)

JP Morgan memprediksi ekonomi dunia minus 1,1% di 2020

 EIU memprediksi ekonomi dunia minus 2,2% di 2020

Fitch memprediksi ekonomi dunia minus 1,9% di 2020

IMF memprediksi ekonomi dunia minus 3% di 2020

Bahkan Biro Statistik Nasional Negeri Tirai Bambu atau China sebagai kekuatan ekonomi nomor dua setelah AS, melaporkan ekonomi pada kuartal I-2020 terkontraksi alias tumbuh negatif -6,8% year-on-year (YoY). Ini adalah kontraksi pertama sejak China mencatat pertumbuhan ekonomi secara YoY pada 1992.

Lantas, bagaimana dampaknya pada perekonomian Indonesia?

Sebagai negara yang memiliki hubungan erat dengan China dan negara-negara yang terdampak Covid-19, perekonomian Indonesia tak pelak juga terancam melambat.

Dilansir dari laman CNBC Indonesia, Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati membenarkan kekhawatiran tersebut. Ia mengatakan, “China negatif 6% dan dunia negatif 3%. Ini shock yang besar, dalam hal ini tidak bisa menafikan shock ini pengaruh besar ke ekonomi kita. Untuk Indonesia baseline 2,3% di 2020,”

“Kalau ada shock yang jauh lebih besar, prediksi IMF ini kalau ada shock yang lebih maka ekonomi Indonesia kemungkinan tahun ini negatif 0,5%. Ini skenario berat.” Tambahnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan hal tersebut adalah ramalan yang agak mengerikan. “Dan kita semua harus bersiap-siap menghadapinya,” kata Sri Mulyani, Jumat (17/4/2020). (Cnbcindonesia.com)

Faktor penyebab krisis ekonomi 2020

Diklaim terparah dari krisis ekonomi 1930, setidaknya ada dua faktor utama penyebab krisis ekonomi saat ini menurut pakar ekonomi Islam Dwi Condro, pH.D. ada dua. Pertama, faktor penyebab langsung. Kedua, faktor tidak langsung.

Faktor pertama adalah efek wabah covid-19 itu sendiri yang saat ini melanda dunia. Mampu melahirkan kepanikan luar biasa bagi perekonomian global. Menyebarnya pandemi Covid-19 berpengaruh sangat besar bagi lumpuhnya perekonomian dunia sehingga membuat dunia tenggelam dalam krisis.

Kecepatan menyebarnya covid-19 di negara-negara di dunia membuat mereka gagap dalam merespon di bidang ekonomi. Sehingga resesi ekonomi pun sulit dihindari. Bahkan ada yang mengatakan bahwa virus ini membawa kiamat bagi kapitalisme.

Faktor kedua berasal dari karakter sistem ekonomi kapitalisme itu sendiri. Karakter sistem ekonomi kapitalisme rentan terhadap krisis. Hal ini dikarenakan pondasinya yang cukup lemah dengan berbasis pada sektor non riil. Bukan dari struktur ekonomi sesungguhnya atau sektor riil.

Dimana pilar pertumbuhan ekonominya bertumpu pada sistem mata uang yang berbasis trust dan bukan nilai instrinsiknya; sistem utang-piutang yang berbasis bunga (interest) dengan fix rate; serta investasi yang berbasis judi (speculation). Ketiga pilar tersebut dianggap bisa menumbuhkan ekonomi dengan cepat di satu sisi. Mamun di sisi lain, sesungguhnya pertumbuhannya semu. Ibaratkan balon udara yang cepat menggelembung tapi tidak berisi dan rentan meledak, hal ini biasa diistilahkan dalam ekonomi sebagai bubble economic.

Dari pemaparan di atas, terbukti secara nyata bahwa pertumbuhan ekonomi ala kapitalisme adalah pertumbuhan ekonomi yang palsu, seperti fatamorgana. Sebab pertumbuhannya hanya seputaran angka, kertas uang maupun kertas saham. Tidak ada kontribusi berarti kecuali hanya sangat kecil.

Denting kematian kapitalisme dan bangkitnya Islam

Seorang penulis dan kolumnis Indoprogress.com, Martin Suryajaya dalam tulisannya yang berjudul “Membayangkan Ekonomi Dunia Setelah Koroma” menyebutkan bahwa hari ini adalah episode katian ekonpmi dunia, kiamat bagi kapitalisme. Dan dia pun berpendapat bahwa setelah ini, negara-negara akan menjadi sosialis secara terpaksa dengan menasionalisasi sektor-sektor yang terdampak langsung dengan Covid-19.

Padahal jika ditelisik, kedua ideologi ini jelas memiliki riwayat kelam dalam pelaksanaan aturannya, apalagi di sistem ekonominya. Kapitalisme yang hanya memberi harapan semu dalam pertumbuhan ekonomi, dan sosialisme yang pada akhirnya hanya sibuk dengan kasta dan kelas-kelas. Dengan ini mana mungkin kita harus mengulang sejarah yang hanya merupakan realisasi dari mimpi-mimpi buruk sistem kehidupan manusia.

Jangan lupa bahwa diantara dua catatan sejarah hitam itu, ada sejarah emas yang pernah tercatat dan sangat relate-able dalam sistem kehidupan manusia. Terutama sebagai solusi menghadapi krisis ekonomi seperti saat ini. Ya, sistem itu adalah Islam.

Islam memiliki solusi yang sistemik untuk menghadapi krisis, yang dikenal dengan sistem ekonomi Islam. Setidaknya ada tiga pilar dalam sistem ekonomi Islam. Pertama, pembagian kepemilikan yang terbagi menjadi 3, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Pembagian ini akan menghilangkan hegemoni atau monopoli ekonomi.

Kedua, pengaturan pembangunan dan pengembangan ekonomi yang benar. Dengan berrumpu pada pembangunan sektor ekonomi riil, bukan non riil.

Ketiga sekaligus pilar terakhir, adalah distribusi kekayaan oleh individu, masyarakat dan negara. Yang secara global akan mewujudkan jaminan pemenuhan kebutuhan masyarakat baik kebutuhan asasinya (primer), serta kebutuhan pelengkapnya (sekunder maupun tersier).

Dengan demikian, tidakkah kita menginginkan sistem Islam mengatur aspek kehidupan? Tentunya hal ini tidak cukup hanya pada sistem ekonomi, tapi juga dituntut harus diikuti dengan sistem lainnya seperti sistem politik, pendidikan, kesehatan, keamanan dan lain sebagainya.

Dan realisasi perwujudan sistem Islam dalam sebuah negara, memerlukan peran masyarakat. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi pasca krisis, yakni proses pemulihan lamban seperti sebelum-sebelumnya terjadi di negeri ini, artinya tidak akan ada perubahan berarti. Atau masyarakat memiliki keinginan kuat untuk berubah dengan perubahan sistemik yang lebih baik. Dan posisi kita, tidak ada yang lebih baik dari pada mendukung perubahan sistemik yang lebih baik. Wallahu a’lam bisshowwab.

Penulis : Rina Indrawati, SE – Echonomic enthusiast

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: