3 Oktober 2022

Dimensi.id-Diskriminasi terhadap umat muslim ternyata tak mengenal waktu dan tempat. Di saat dunia tengah berjibaku melawan pandemi Covid-19, ada saja pihak-pihak yang sengaja mengambil kesempatan untuk menebarkan kebencian dan fitnah terhadap Islam dan kaum muslim. Parahnya lagi, ini tidak hanya terjadi di negara Barat, seperti Inggris atau Amerika Serikat, tetapi juga di Asia, yakni India.

Sebagaimana telah diberitakan The Guardian, bahwa kelompok supremasi kulit putih menebar fitnah dan kebencian terhadap umat muslim. Mereka menyebar foto dan meme di Facebook dan Twitter saat kaum muslim salat di masjid Inggris. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa warga muslim telah melanggar phisical distancing dan menyebarkan virus corona.

Hal serupa juga dilakukan oleh kelompok supremasi kulit putih di Amerika Serikat. Sebagaimana diberitakan Huffington Post, kelompok tersebut telah menghembuskan rumor bahwa lockdown di kota-kota Amerika Serikat akan dicabut menjelang ramadan agar kaum muslim bisa beribadah di masjid. Padahal, kata mereka, gereja-gereja saja ditutup.

Bahkan, teror dan fitnah juga menjalar sampai ke Asia, tepatnya di India. Kelompok Hindu sayap kanan menjadikan kaum muslim sebagai kambing hitam penyebaran virus corona. Terlebih, salah satu klaster penyebarannya terjadi di markas Jamaah Tabligh yang telah melanggar aturan berkumpul. Kesempatan ini mereka gunakan untuk mendiskreditkan umat muslim dengan menggunakan tagar #coronajihad, kemudian memfitnah, bahwa umat muslim sengaja menyebarkan virus corona guna membunuh mereka. (today.line.me, 12/4/2020)

Islamofabia atau rasa ketakutan dan kebencian terhadap semua yang berbau Islam, seperti lingkaran setan yang tidak ada ujung pangkalnya. Umat muslim nyaris  tak pernah sepi dari diskriminasi dan fitnah. Bahkan, saat dunia tengah menghadapi pandemi Covid-19 pun, umat muslim lagi-lagi menjadi tertuduh sebagai penyebar virus.

Beberapa alasan yang melatarbelakangi munculnya islamofobia di dunia Barat antara lain: Pertama, masuknya imigran Timur Tengah ke Eropa, Australia, Amerika Serikat dan Selandia Baru secara besar-besaran. Kedua, meningkatnya kebencian di kalangan warga kulit putih terhadap umat muslim di negara Barat. Ketiga, adanya prasangka yang menyamakan kaum muslim dengan aksi-sksi teror. Terakhir, banyaknya politisi sayap kanan yang rasis, antiimigran dan islamofobia.

Kebencian dan permusuhan tersebut diwujudkan dengan berbagai cara untuk mendiskreditkan Islam dan kaum muslim. Hingga memunculkan aksi-aksi kekerasan, diskriminasi, bahkan pembunuhan terhadap umat muslim sebagai wujud islamofobia. Islamofobia adalah penyakit akut masyarakat sekuler yang terus mengampanyekan antidiskriminasi dan kesetaraan. Namun fakta di lapangan berbicara lain. Selalu saja muncul kasus-kasus islamofobia oleh kelompok terorganisasi bahkan dijadikan sebagai bahan kampanye para politisi.

Kondisi ini menjadi bukti kuat kegagalan sistem kapitalisme yang diemban Barat dalam menciptakan keharmonisan masyarakat. Bagaimana tidak, kapitalisme sebagai sistem hidup mayoritas negara di dunia, telah menjadikan kedaulatan berada di tangan rakyat. Hal ini tentu saja memberi peluang bagi rakyat untuk membuat aturan. Dan meniscayakan para pemilik modal menguasai aset-aset negara melalui undang-undang yang dibuat, sehingga keadilan untuk rakyat semakin sulit diwujudkan.

Alhasil, munculnya berbagai tindakan diskriminasi terhadap umat muslim menjadi hal biasa sebagai imbas dari buruknya periayahan sistem kapitalisme dalam mengurusi keberagaman. Termasuk gagal menciptakan keselamatan rakyat di kala wabah mendera.

Kegagalan Barat dalam menciptakan keharmonisan masyarakat jelas bertolak belakang dengan Islam sebagai sistem hidup. Islam hanya menjadikan syariat kafah sebagai aturan bernegara. Karena itu, pemimpin pun akan menerapkan syariat Allah Swt. yang membawa rahmat.  Sebagai agama paripurna, Islam terbukti berhasil menciptakan keadilan dan kesinambungan agar tidak terjadi gesekan di tengah masyarakat. Terlebih, kesigapan sistem Islam dalam menghadapi wabah telah terbukti keberhasilannya belasan abad  yang lalu.

Ketika menghadapi wabah, negara akan mengambil kebijakan yang cepat, tepat dan konsisten dalam rangka menyelamatkan nyawa rakyat baik muslim maupun nonmuslim. Di antaranya, penetapan lickdown di daerah wabah, mencari tahu mekanisme penyakit untuk mengantisipasi pencegahan penyakit, serta pengembangan dan produksi vaksin. Nyawa rakyat tetap menjadi prioritas dibanding ekonomi. Sebagai pengatur urusan rakyat, penguasa benar-benar menempatkan kedudukannya sebagai raa’in dan junnah.

Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya al-Imam (khalifah) itu bagaikan perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaan(nya).” (HR. al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)

Kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap anggota masyarakat yang harus dipenuhi oleh negara. Karena itu, negara akan mewujudkannya tanpa diskriminasi, baik muslim maupun nonmuslim. Negara pun akan melindungi umat muslim dari pelecehan dan fitnah. Bahkan nonmuslim pun akan mendapat keadilan yang sama tanpa diskriminasi.`Keadilan yang tercipta di dalamnya menjadi bukti kuat bahwa Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Sehingga kasus-kasus diskriminasi seperti saat ini tidak akan terjadi.

Wallahu a’lam bishshawab[ia]

Penulis : Sartinah (Pegiat Opini, Member Akademi Menulis Kreatif)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: