30 September 2022

Dimensi.id-“Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah bersabda, “Jika umurmu panjang, maka kamu akan mendapati suatu kaum yang di tangan mereka alat seperti ekor sapi, mereka di pagi hari berangkat dengan murka dari Allah dan pulang di mala hari membawa kemarahan dari Allah.”  (HR. Muslim)

Imam An Nawawi –rahimahullah- berkata, “Yang dimaksud dengan pembawa cemeti adalah pasukan kepala polisi dan yang sejenisnya.” (Syarh Shohih Muslim 17/190)

Akan ada di akhir zaman nanti para polisi yang berangkat di pagi hari membawa murka Allah dan pulang di sore hari membawa kemarahan dari Allah.” (HR. Thobroni)

Dua hadits di atas menjelaskan tentang tercela dan terlaknatnya polisi di akhir zaman, apa sebab? Hal ini dijelaskan oleh Qadhi Iyad, beliau berkata, “Mereka dimasukkan ke dalam neraka kemungkinan karena kezaliman, penyiksaan yang mereka lakukan dan kesemena-menaan terhadap manusia dengan memukul menggunakan cemeti dan sejenisnya. Bisa juga mereka dimasukkan ke dalam neraka karena kemaksiatan yang menjerumuskan mereka ke dalam neraka, seperti kekufuran dan selainnya.” (Ikmalul Muallim Syarh Shohih Muslim 6/332)

Polisi, Riwayatmu Kini

Perilaku polisi zaman sekarang sudah mirip dengan deskripsi hadits di atas, sebagaimana yang terjadi pada Seorang pemuda bernama Qidam AlFariski Mofance (20 tahun), warga Desa Tambarana Kecamatan Poso Pesisir Utara tewas di tangan aparat pada Kamis (09/4).

Ironisnya, Qidam AlFarisi (22) dituduh dan diberitakan di media terlibat jaringan MIT (Mujahidin Indonesia Timur), seperti dilansir oleh laman berita online radarsulteng.id pada Jumat, (10/4)

Pada 2016, ada kasus Siyono yang disiksa hingga meninggal dunia karena tuduhan terorisme. Selain Siyono, masih ada sederet nama lain yang diduga menjadi korban kekerasan aparat kepolisian, seperti Andika Bagus Setiawan, siswa kelas 2 MAN Jamsaren, Solo, Jawa Tengah, yang dianggap terlibat dalam jaringan teroris. Andika ditemui orang tuanya dalam keadaan babak belur di tahanan Januari 2016 silam.

Membela Pemimpin Zalim

Mengomentari hadits-hadits di atas, penulis kitab Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih berkata, “Mereka adalah orang-orang yang berada di sekitar orang-orang zalim, bekerja kepadanya laksana serigala dan mereka mengusir manusia dari orang zalim itu dengan menggunakan pukulan.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih 6/2301)

Hari ini terbukti dengan dikriminalisasinya beberapa aktivis yang kritis terhadap penguasa. Sebut saja, Habib Rizieq Syihab, Jonru Ginting, Ustadz Alfian Tandjung, Ustadz Al Khaththath, Ahmad Dhani, Kiflan Zein, dan yang terbaru Ali Baharsyah. Tuduhannya macam-macam, mulai dari tuduhan ujaran kebencian hingga makar.

Pada kasus Ali Baharsyah, ia ditangkap setelah dilaporkan oleh Ketua Cyber Indonesia Muannas Alaidid ke Bareskrim Polri pada Rabu (1/4) lalu. Ali Baharsyah dilaporkan atas tuduhan penyebaran ujaran kebencian dan hoax soal kebijakan darurat sipil dalam penanganan virus Corona (COVID-19).

Ali Baharsyah juga dijerat dengan Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tentang ujaran kebencian dan SARA. Ali juga dijerat Pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penguasa.

Dari kasus-kasus di atas bisa disimpulkan bahwa hadits-hadits yang menjelaskan buruknya polisi di akhir zaman lebih karena berdirinya mereka dalam membela para tiran nan zalim. Pembelaan mereka terhadap tiran nan zalim menjadikan mereka meninggalkan nilai-nilai agama, melupakan tugas asal mereka dalam mengawal syariat Islam dan keamanan umat.

Pembelaan terhadap para tiran pulalah yang kadang membuat mereka tega menghilangkan nyawa muslim, menyiksa dan memenjarakan orang-orang yang dianggap mengganggu sang tiran. Kiranya inilah yang menjadikan mereka terlaknat sepanjang hari dan diancam neraka oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-.

Kepolisian dalam Islam

Kepolisian adalah alat utama negara dalam menjaga keamanan. Dalam negara Islam (Khilafah), urusan keamanan negara ditangani oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang dipimpin oleh Direktur Keamanan Dalam Negeri.

Untuk menjalankan tugasnya itu, polisi harus mempunyai karakter yang unik, seperti keikhlasan, akhlak yang baik, seperti sikap tawadhu’, tidak sombong dan arogan, kasih sayang, tindak tanduknya baik, seperti murah senyum, mengucapkan salam, menjauhi perkara syubhat, bijak dan lapang dada, menjaga lisan, berani, jujur, amanah, taat, berwibawa dan tegas.

Sehingga pada dasarnya profesi sebagai polisi berpotensi menjadi sarana ketaatan kepada Allah seperti yang dilakukan oleh ‘polisi-polisi’ Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-. Namun, jika tidak berhati-hati juga berpotensi menyeret seseorang ke dalam neraka  sebagaimana ramalan Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-terhadap polisi akhir zaman. Wallahu a’lam bish-shawab.[ia]

Penulis : Al Azizy Revolusi (Editor dan Kontributor Media)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: