3 Oktober 2022

Dimensi.id-Walaupun  PSBB diberlakukan,  masih saja ada masyarakat yang tidak taat,  terbukti jalanan masih ramai dan tidak sedikit mereka yang tidak menggunakan  masker.  Social distancing pun dilangar karena masih banyak kerumunan yang tidak bisa dihindari.  

Pemberlakuan PSBB tidak berjalan dengan baik sehingga pandemi covid-19 akan bertahan lebih lama tanpa batas waktu yang tidak bisa ditentukan . Kenapa banyak rakyat yang tidak taat untuk mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap tinggal di rumah saja dan memberlakukan social distancing dengan menjaga jarak satu sama lain ketika keluar rumah dan tentunya mengikuti semua protokol kesehatan agar tidak terinfeksi virus corona.

Alasan pertama, PSBB dilakukan setengah hati. Meskipun PSBB diyakini akan bisa memutus mata rantai penyebaran covid-19,  namun masih ada pejabat yang tidak sepakat dan mementahkan keputusan untuk memberlakukan PSBB.  Dengan berbagai alasan ekonomi,  kendaraan bermotor yang beboncengan masih diperbolehkan.  Transportasi umum masih belum bisa mengikuti aturan social distancing seperti yang dianjurkan oleh pemerintah. 

Bahkan, penumpang KRL masih ramai mengangkut penumpang tanpa harus mengikuti aturan jaga jarak.  Susah memang jika aturan dibuat setengah hati,  hasilnya tidak maksimal seperti yang diharapkan.  Bahkan ada yang berpendapat bahwa pemberlakuan PSBB tidak akan membuahkan hasil sesuai dengan tujuannya yakni memininalkan interaksi sosial agar bisa memutus mata rantai penyebaran covid-19 dan tentunya dana yang tidak sedikit akan terbuang percuma.

Kedua,  peraturan tidak diikuti dengan prosedur yang jelas dan tegas dalam pelaksanaannya tidak akan berjalan efektif karena hanya dianggap sebagai anjuran yang boleh untuk dilanggar.  Tanpa sanki yang jelas,  peraturan yang diberlakukan selama PSBB terkesan hanya anjuran sehingga mereka yang merasa tidak nyaman akan memilih untuk tidak mengikuti aturan.  Sebagai contoh yang terbiasa tidak pakai masker akan memilih untuk melepasnya dengan alasan tidak terbiasa dan tidak nyaman saat memakainya.  Harus ada petugas yang mengawasi dan juga ada tindakan tegas bagi yang melanggar aturan,  jika tidak peraturan dibuat hanya untuk dilanggar karena hanya dianggap sebagai anjuran.

Ketiga, peraturan yang hanya dilandasi nilai manfaat,  dan tidak menyentuh keyakinan umat tidak akan bisa membangun kasadaran umat untuk patuh dan mengikutinya. Mereka merasa tidak perlu mengikutinya karena mereka bukan korban atau terdampak langsung oleh pandemi ini.  Rakyat yang tidak terdampak cenderung tidak mau taat karena mereka merasa tidak perlu melakukan anjuran pemerintah yang tidak bersumber dari dalil yang diyakini benar. 

Apalagi mereka merasa ada sentimen negatif dengan melarang kegiatan keagaman,  namun mereka masih melihat banyak orang keluar rumah dan tidak sedikit ditemukan kerumunan di ruang publik dengan mengabaikan protokol kesehatan untuk memininalkan interaksi sosial.  Berbeda jika keputusan diambil dilandasi oleh dalil yang bersumber dari keyakinan umat. 

Mereka dengan suka rela mengikuti keputusan yang diambil oleh pemimpinnya karena konsekwensinya adalah pahala bagi yang mengikuti dan dosa bagi yang melanggarnya meskipun mereka belum terdampak oleh pandemi ini.  Namun didalam sistem sekularisme yang menjauhkan agama dari kehidupan lebih menjunjung tinggi nilai manfaat dari pada halal dan haram sesuai dengan keyakinan umat.

Keempat, tidak dijaminnya kebutuhan dasar atau pokok,  sehingga masyarakat terpaksa harus keluar untuk bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga.  Working from home hanya berlaku  bagi pegawai atau PNS yang gajinya tiap bulan.  Bagaimana yang penghasilannya harian atau dihitung setiap masuk kerja.  Atau bagi mereka bekerja di perusahaan yang tidak memberlakukan working from home. 

Rakyat terpaksa harus keluar rumah untuk bekerja atau membeli sesuatu agar mereka bisa tetap makan.  Pemerintah harus menjamin kebutuhan pokok dan dasar rakyatnya,  sehingga PSBB bisa berjalan efektif dan diharapkan bisa segera menghentikan pandemi covid-19. Rakyat jangan hanya dipertontokan aksi pencitraan dan janji-janji manis. Abainya pemerintah terhadap pemenuhan kebutuhan rakyat selama pandemi menjadi penyebab gagalnya PSBB untuk menghentikan pandemi covid-19 di negeri ini.

Hanya solusi Islam dalam sistem Islam yang efektif untuk menghentikan pandemi covid-19. Lockdown atau karantina wilayah adalah solusi Islam yang dilakukan sepenuh hati untuk melindungi rakyat.  Semua kebutuhan rakyat selama karantina wilayah akan ditanggung dan dijamin negara jadi rakyat tidak perlu keluar rumah karena kebutuhan hidup selama lockdown terpenuhi. 

Peraturan dibuat secara tegas dan adil bagi seluruh rakyat.  Dan yang lebih penting umat dengan kesadarannya sendiri akan taat untuk mengikuti pemimpinnya karena peraturan didasarkan pada dalil yang bersumber dari keyakinan mereka,  disamping pemimpin dalam sistem Islam selalu berpihak pada rakyat dan setiap keputusan yang diambil adalah untuk kebaikan rakyat.  Hanya solusi Islam dalam sistem Islam yang akan efektif menghentikan mata rantai penyebaran covid-19.[ia]

Penulis : Moch Efendi

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: