5 Oktober 2022

Dimensi.id-Kita Tahu 8 Maret  lalu adalah  Hari perempuan Internasional , Tapi tak banyak yang mengetahuinya. Para Aktivis perempuan biasanya menggunakan momentum ini untuk  mengevaluasi  dan menguatkan  komitmen perjuangan mereka melawan ketidak adilan berbasis  gender yang dinilai belum berbuah keberhasilan. Kita tahu kaum perempuan  yang jumlahnya lebih dari setengah populasi dunia  ini masih belum sejahtera. Berbagai persoalan pun Terus Berbelit menghampiri kehidupan mereka hingga membuat  kondisi semakin terpuruk  serta jauh dari kata Mulia.

Maka tak heran  pada 8 maret banyak elemen masyarakat  dengan berbagai latar belakang melakukan aksi untuk membperingati  Internasional Womens Day (IWD). Aksi ini menjadi momen untuk mengingatkan pemerintah agar segera menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi kaum perempuan. Seperti Kemiskinan ,beban Ganda ,kekerasan,deskriminasi  dan marginalisasi yang kerap dihadapi kaum perempuan. Begitu pun dengan kapitalisasi dan eksploitasi, menjadi hal yang juga lekat dengan kehidupan sebagian perempuan. Hanya saja kalangan feminis tetap bersikukuh dengan teori bahwa biang keladi persoalan ini adalah akibat disparitas atau ketimpangan gender yang dikonstruksi oleh budaya dan agama.

Karena itu mereka gencar menawarkan gagasan perubahan budaya dan agama demi mewujudkan Kesetaraan Gender (KG) sebagai solusi masalah mereka. Dengan gagasan ini, kaum perempuan didoktrin untuk berpikir bahwa budaya dan agamalah yang bertanggung jawab atas penderitaan mereka. Dan karenanya mereka harus membebaskan diri dari kungkungan keduanya dan mengalihkan loyalitas pada sekularisme yang mengharamkan keterlibatan agama dalam mengatur kehidupan. Sekaligus menuntut kebebasan (hak) untuk melakukan dan meraih apa saja tanpa harus terhalang batasan-batasan syariat.

Menjadi keprihatinan kita hingga hari ini. Perempuan didera berbagai persoalan kemiskinan, akses pendidikan, pelecehan seksual dan segudang persoalan lainnya. Akibat covid 19 pun, menurut perspektif UN Women, para perempuan ini  yang akan merasakan dampak terbesar akibat dari virus corona, termasuk penerima upah harian, pemilik usaha kecil dan mereka yang bekerja di sektor informal.

Feminisme memandang persoalan ini diakibatkan keberadaan perempuan yang lemah dalam hierarki sosial. Untuk itu feminisme memperjuangkan emansipasi atau persamaan hak sepenuhnya antara kaum laki-laki dan perempuan. Baik itu di ranah politik, ekonomi, pendidikan dan juga sosial.

Harga diri mereka merasa lebih terangkat ketika bisa lebih banyak berkiprah di ranah publik dan bisa menghasilkan materi sebanyak mungkin. Sebaliknya, kebanggaan sebagai ibu sedikit demi sedikit terhapus sejalan dengan kian jauhnya mereka dari cara pandang dan sistem hidup yang dipenuhi nilai-nilai Ilahiah.

Ironisnya, tak sedikit muslimah yang tergiur dengan gagasan KG yang sejatinya hanya racun berbalut madu ini.

Perempuan juga masih menjadi korban terbesar dari kerusakan lingkungan (misalnya kekeringan / sulitnya air bersih membuat perempuan harus menanggung beragam kesulitan pekerjaan domestik seperti mengasuh anak, memasak, mandi, membersihkan rumah, memberi minum hewan peliharaan, dan rawan terhadap serangan penyakit seperti diare, kolera, disentri, tipus, kulit, ISPA, dan sebagainya). Polusi (baik udara, air, maupun tanah) membuat perempuan dan anak menjadi korban karena akses kesehatan juga terbatas terutama bagi perempuan kepala rumah tangga.

Ironisnya, keinginan untuk mensejahterakan hak perempuan dengan hal hal yang mereka dagangkan itu sebenarnya malah membuat perempuan lepas dari peran sebenarnya. Bagus memang kedengarannya namun membuat mereka berpaling agar melepas tanggug jawab mereka sebagai perempuan. Itulah memang rancangan alah kapitalis barat yang memanlingkan peran mereka agar tidak sempat lagi berfikir untuk mencetak generasi penerus Muhammad al-Fatih.

Secara fakta, banyak hal yang bisa membuktikan betapa imperialis kapitalis telah secara sengaja ‘memanfaatkan’ kalangan perempuan (muslim) untuk memuluskan jalannya skenario besar mereka menghancurkan Islam melalui penghancuran institusi masyarakat Islam. Mereka sadar betul bahwa ada korelasi positif antara penghancuran masyarakat dengan penghancuran kaum perempuan, karena perempuan merupakan separuh masyarakat dan berfungsi sebagai pilar penyangga masyarakat. Di sisi lain, mereka pun melihat bahwa upaya menjauhkan umat dari ideologi Islam masih belum berhasil sepenuhnya.

Selama ini, mereka memang telah berhasil menjauhkan umat dari aturan-aturan Islam menyangkut masalah politik, ekonomi, hubungan luar negeri, dan lain-lain. Akan tetapi masih ada sisa-sisa pemikiran Islam yang hingga kini tetap dikukuhi masyarakat, tetapi dianggap mengandung potensi bahaya bagi hegemoni mereka di masa depan. Yakni hukum-hukum yang menyangkut keluarga, yang pada saat ini menjadi satu-satunya benteng terakhir pertahanan umat Islam setelah benteng utamanya, yakni Daulah Khilafah Islam dihancurleburkan.

Dalam kerangka penghancuran keluarga muslim inilah perempuan muslim dimanfaatkan. Dimana seperti dahulu mereka menghancurkan Daulah Khilafah Islam, mereka pun menggunakan upaya peracunan pemikiran untuk menanamkan akidah sekuler di benak-benak perempuan muslim sebagai strategi utamanya (seperti ide kebebasan, HAM, dll). Targetnya adalah ’membebaskan’ mereka dari ’kungkungan’ peran-peran keibuan, atau setidaknya menghilangkan aspek strategis-politis peran keibuan, dengan cara menggambarkan peran tersebut sebagai peran tidak penting, menjijikkan, dan merupakan simbol ketertindasan yang layak disingkirkan.

Dengan dalih peduli terhadap nasib perempuan, mereka jual paket ‘kemajuan perempuan Barat’ dengan ide KG-nya yang rusak dan asumtif itu untuk dijadikan patron ideal bagi kemajuan perempuan muslim, sekaligus pada saat yang sama melakukan berbagai ’uji kritis’ terhadap aturan-aturan Islam yang dianggap mengukuhkan ketidakadilan terhadap perempuan, seperti masalah perwalian, nasab, pakaian, waris, kepemimpinan, nafkah, dan sebagainya. Tak lupa pula mereka tawarkan paket-paket tambahan berupa ‘program bantuan’, berikut kucuran dana yang sangat besar.

Dalam hal ini kaum perempuan muslim yang telah sengaja dimanfaatkan sebagai objek eksploitasi kapitalisme global, di mana dengan peracunan pemikiran. kaum muslimah digiring untuk menyukai bahkan mempertuhankan hedonisme. Sayangnya, sebagian muslimah pun terjebak dalam kebahagiaan dan kesejahteraan semu yang disuguhkan kapitalisme, yang sejatinya dibuat untuk menutup penderitaan dan kemiskinan hakiki yang diciptakannya.

Sungguh Miris Bukan?

Sudah Sepatutnya saat ini Perempuan Berhak mendapatkan Kesejahteraan tanpa adanya Iming imingan Kesetaran Gender. Yang Mana masalah perempuan dan berbagai problematika lainnya yang dihadapi adalah Masalah Seluruhnya dan tak hanya masalah Satu orang saja.

yaah, Perempuan khususnya Muslimah bisa mendapatkan kesejahteraan Lebih tanpa adanya iming iming jahat ala kapitalisme yang menyalahi Fitrah Manusia terkhusus perempuan yang mana padahal Allah SWT telah tetapkan kedudukan mereka dalam posisi yang mulia sebagai ummu wa Rabbatul Bait, ibu dan pengatur rumah tangga, penyangga kemuliaan generasi umat, dan arsitek peradaban Islam di masa depan.

Mulia Bukan ?

yah ,Mulia Disegala Sisi, Bahkan Perempuan Dinobatkan Jannah(Syurga)

Sudah saatnya umat negeri ini sadar, bahwa jalan terbaik adalah kembali ke jalan Islam. Jalan yang menjanjikan kemuliaan manusia sebagai individu maupun umat, melalui penerapan aturan Islam secara kafah dalam wadah Khilafah Islamiyah.

Aturan-aturan Islam inilah yang akan menyelesaikan berbagai persoalan manusia secara adil dan menyeluruh, termasuk masalah kemiskinan berikut dampak turunannya. Dalam sistem ini, para penguasa dan rakyat akan saling menjaga dan mengukuhkan dalam melaksanakan ketaatan demi meraih keridaan Allah. Tak ada pihak yang dirugikan, termasuk kaum perempuan.[ia]

Penulis : Nurul Hariani (Aktivis Muslimah Medan )

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: