3 Oktober 2022

Dimensi.id-Ia yang memiliki hak untuk mengkritik, memiliki hati untuk menolong” (Abraham Lincoln). Dirasa tepat kutipan kata dari Abraham Lincoln ini, bersamaan dengan arti bahwa ber-amar ma’ruf nahi munkar bisapun berupa kritik yang membangun. Itulah sejatinya pribadi yang akan semakin maju dan berkembang. Namun yang menjadi persoalan adalah penerimaan dari pihak yang dikritik tersebut, terlebih pihak yang menerima kritik adalah pihak yang berkewenangan juga memiliki kuasa.

Seperti apa yang sedang viral di negeri kita Indonesia yang tercinta saat ini, tak jarang para penguasa enggan menerima kritik yang membangun, padahal sejatinya kritik difungsikan sebagai tolak ukur untuk diri agar berubah ke arah yang lebih baik lagi. Pun begitu, kritik merupakan teguran kasih sayang kepada yang bersangkutan agar bisa memperbaiki kesalahan.

Beberapa pekan kebelakang kita disuguhi berita, bahwa ada seorang pemuda bernama Alimudin Baharsyah alias Ali Baharsyah  kini harus mendekam di balik sel tahanan Bareskrim Polri lantaran menghina Presiden. Selain itu dirinya juga diduga melakukan ujaran kebencian, SARA, serta tindak pidana pornografi (dikutip dari www.detiknews.com).

Kasus tersebut adalah kasus yang kesekian kalinya perihal ujaran kebencian dalam hal penyampaian kritik kepada pemerintah di negeri kita tercinta ini. Seolah menyampaikan keluhan, aspirasi, pandangan politik, nasihat kepada pihak berwenang adalah hal yang pantang untuk dilakukan.

Padahal konon katanya Negara ini adalah Negara demokrasi, bebas menyampaikan pendapat sebagai bentuk aspirasi, namun pada kenyataannya “jauh panggang dari api” kebebasan tersebut hanya dimiliki oleh pihak yang berdampingan dengan penguasa, dan tidak berlaku pada pihak yang berseberangan.

Dalih pasal berlapis pun menjadi runutan dari tuntutan yang menghinggapi para aktivis islam, seperti halnya Ali Baharsyah, HRS, serta aktivis Islam lainnya. Jadi  dapat disimpulkan bahwa aktivis islam dilarang mengkritik kebijakan.

Ironis memang kondisi rezim saat ini, meski jelas sudah banyaknya ketimpangan serta kemunduran dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, perekonomian, keamanan, kesehatan, kesejahteraan, dan lain sebagainya, namun upaya masyarakat untuk memberikan kritik dan saran dianggap sebagai bentuk tindakan makar, meski hanya lewat ucapan dan tulisan. Sedemikian paniknya rezim ini.

Padahal telah dicontohkan oleh para pemimpin terbaik pada zaman keemasan Islam, para pemimpin pilihan terbaik di rezim terbaik. Berpegang teguh pada sunnah Khulafaur Rasyidin adalah perintah nabi kita tercinta. Para Khalifah yang memegang tampuk kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah ini memanglah manusia-manusia istimewa yang dijamin surga.

Sahabat-sahabat Rasul yang utama, pemimpin-pemimpin yang paling layak diteladani. Seluruh ulama dan kaum Muslimin yang Allah tunjuki pada jalan yang lurus, pasti sepakat pada pendapat bahwa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Utsman bin Affan dan Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah sebaik-baik rezim.

Selalu ada banyak kebaikan yang bisa kita petik dari jejak kepemimpinan mereka. Di antara banyaknya keutamaan mereka dalam memimpin adalah, mereka rezim yang suka dikritik. Khalifah Abu Bakar selaku pemimpin pertama negara Islam pasca wafatnya Rasulullah menerima amanah Khalifah dengan berat dan penuh ketakutan pada Allah. Dalam pidato pertamanya pasca menerima bai’at, ia berpidato dengan sebuah pidato yang masyhur,

“Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik di antara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. ‘Orang lemah’ di antara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya.

‘Orang kuat’ di antara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah di antara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan Shalat semoga Allah Subhanahu Wata’ala melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua.” (dikutip dari www.muslimahnews.com).

Dari penjelasan di atas tentu kita akan mampu menyimpulkan rezim terbaik adalah rezim yang lapang dada menerima kritik dari rakyatnya, dan kesemuanya dapat terlaksana apabila tertancap keimanan yang luar biasa didalam jiwa. Berjalan sesuai alur serta aturan dari Sang Maha Pencipta, serta utusanNYA yang mulia Rasulullaah SAW. Sistem Islam sebagai pedoman dan aturan hidup menyeluruh dalam setiap lini kehidupan adalah solusi tuntas problematika kehidupan yang dialami negeri ini. WaAllahu’alam biash-shawaab.[ia]

Penulis : Novi Purnawati (Ibu Rumah Tangga)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: