30 September 2022

Dimensi.id-Ku lihat ibu Pertiwi sedang bersusah hati, air matanya berlinang, mas intan mu terkenang. Hutan gunung sawah lautan. simpanan kekayaan. Kini ibu sedang susah merintih dan berdoa.

Suara.com – Asan Sopian, seorang kepala keluarga di Batam, Kepualuan Riau, terpaksa menjajakan ponsel miliknya yang rusak dari rumah ke rumah demi membeli beras di tengah wabah virus corona covid-19.  Seorang ayah dari lima orang anak yang masih kecil-kecil dan hidup dalam keprihatinan. Ason sopian menjual handphone rusak itu hanya untuk membeli beras 1 kg. Ia berkeliling ke sejumlah penjuru rumah warga di Batam.

Kasus kelaparan selanjutnya di lansir dari,  Kompas.com – Seorang Bapak yang jatuh dari sepeda dan menahan kesakitan di jalan. Menurut informasi dari Polisi ternyata diketahui  bapak tua itu jatuh karena sakit asam lambung dan kelaparan. Setelah mendengar hal itu warga langsung memberi makanan Nasi , Roti dan minuman botol.

Yuyun Cahyaningsih (37) mengaku sudah empat hari menahan lapar karena tidak bisa mencari nafkah bagi keluarganya di tengah wabah virus corona. Sedangkan sang suami, yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh harian lepas, sedang meringkuk sakit dan tidak bisa membiayai kehidupan istri dan dua orang anaknya.

Kedua anaknya, terpaksa puasa sejak Senin, 30 Maret 2020, hingga kemarin, Kamis, 2 Maret 2020. Bahkan beras pun tak ada di rumah mereka. “Jadi saya enggak punya pemasukan gara-gara corona ini. Kan enggak boleh keluar, jadi orang-orang ngegosok sendiri. Anak saya seminggu puasa, Senin sampai Kamis,” kata Yuyun saat Relawan Banten Melawan Corona (RBMC) di kediamannya, Jumat, 3 Maret 2020.

Bagaikan ayam mati di lumbung padi begitulah pepatah yang mewakili berita kelaparan di atas begitu memilukan hati. Lihat saja ada yg jatuh di jalan karena menahan lapar, ada yg terpaksa menjual hp dengan harga 1 kg beras, ada yang terpaksa berpuasa selama 4 hari berturut-turut. Sungguh mengenaskan ketidak stabilan panga. Ketimpangan ekonomi semakin nampak.

Mirisnya kasus kelaparan di atas, sangat menyayat hati siapa saja yang menyaksikan dan mendengar. Entah berapa banyak keluarga yang sedang mengalami sakaratul maut akibat menahan rasa lapar. Sebelum covid 19 menjalar ke bumi pertiwi, rakyat sudah banyak yang menderita gizi buruk akibat kelaparan, apalagi setelah wabah ini menyerang dan menghalangi segala bentuk aktivitas di luar rumah sudah pasti makin bertambah rakyat yang kelaparan.

Rakyat yang malang, di tengah wabah corona covid 19, tak sedikit rakyat indonesia yang mengalami kelaparan.  Kasus di atas sudah sangat mewakili keadaan rakyat yang ekonominya menengah ke bawah.

Padahal Indonesia adalah negara yang terkenal dengan Kekayaannya. Mulai dari dalam perut bumi, gas, minyak, emas, tambang batu bara, dan lainnya, di tambah lagi dengan laut yang luas, apa lagi Indonesia terkenal dengan negara agraria terbesar di dunia. Kurang apa lagi untuk memenuhi kebutuhan sandang, papan, terutama pangan seluruh rakyat?

Sekali lagi ini menunjukkan bahwa negara hari ini tidak berdaulat dalam mengelola seluruh SDA yang ada. Buktinya, rakyat Indonesia tidak bisa mendapatkan fasilitas lockdown berupa pangan yang harusnya di berikan oleh negara kepada rakyat secara gratis.

Sebenarnya bukan Indonesia miskin atau tak mampu lockdown, justru Indonesia sangat mampu untuk menerapkan lockdown tetapi dengan syarat, seluruh SDA, baik gas maupun non gas harus di kelola oleh rakyat dan negara. Seluruh tambang-tambang yang ada harus dikelola oleh negara dan hasilnya di berikan kepada rakyat.

Tapi yang terjadi hari ini adalah hampir seluruh kekayaan Indonesia diprivatisasi oleh asing. Dengan Undang-Undang yang di buat pemerintah memudahkan mereka mengolah SDA tanpa batas, sehingga hak rakyat atas SDA di negeri nya tak lagi di dapatkan karena pemerintah telah melegalkan berbagai macam bentuk kepemilikan kekayaan alam kepada asing.

Akibat kerakusan para elit politik berwatak kapitalis, seluruh  hajat hidup rakyat dikorbanka tak satupun tersisa demi kepentingan pribadinya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa rezim hari ini ini sedang berselingkuh secara terang-terangan di depan mata rakyat. Tanpa malu mereka menggadaikan satu demi satu kekayaan alam yang seharusnya diperoleh oleh umat. Dan tanpa rasa iba, mereka membiarkan rakyat mengais sisa-sisa rupiah yang tak seberapa untuk menyambung hidup.

Tentu kita seluruh rakyat Indonesia sudah tidak tahan lagi di pimpin oleh penguasa penghianat saat ini. Kita pasti ingin merasakan hidup tenang dengan ketersediaan SDA yang  benar-benar digunakan untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga negara. Tapi yang menjadi benalu penghambat kebangkitan umat hari ini adalah rezim yang menerapkan aturan demokrasi.

Demokrasi yang sebenarnya adalah kedaulatan dari rakyat yang mempunyai kekayaan (kapitalisme) untuk melobi penguasa agar mau menerapkan aturan-aturan yang menguntungkan mereka. Dan ini terjadi di seluruh negeri negeri kaum muslimin.

Muslimahnews.com – Bila kita memasuki mesin waktu menuju masa yang Rasulullh Saw sebagai kepala Negara yang begitu insaniah dilanjutkan oleh para khulafaur Rasyidin, sehingga kesejahteraan hidup benar-benar dirasakan setiap individu masyarakat. Satu orang saja mengalami kelaparan segera diatasi. Seperti  tindakan Khalifah Umar Bin Khattab.

Puncak kesejahteraan masyarakat dapat disaksikan sepanjang dunia dalam naungan peradaban Islam. Berlangsung selama 13 abad dan meliputi  hamper dua pertiga dunia. Produksi berlimpah dan memenuhi kebutuhan semua populasi. Hal ini digambarkan oleh sejarahwan Barat cowell, dalam catatannya, bahwa keterampilan muslim Spanyol dalam irigasi dan terasering, menghasilkan produktivitas pertanian jauh di luar kecerdasan. Tidak hanya itu, kebutuhan air bersih, rumah, dan penerangan terpenuhi begitu mengagumkan.

Kalau di telusuri kembali sejarah Keagungan Islam selama 13 abad lamanya, maka akan di dapati kejayaan, Keagungan, kesejahteraan umat saat itu. Saat umat di pimpin dengan aturan Islam, semua merasa aman dan tentram. Kebutuhan sandang, pangan dan papan di jamin oleh negara.

Sudahlah, hentikan pengharapan kepada demokrasi yang hanya semakin mendzolimi, semakin memperparah keadaan bangsa. Indonesia butuh kekuatan baru yang mampu menjaga hajat hidup rakyat agar bisa terpenuhi semua hak-hak rakyat. Mau menunggu berapa rakyat lagi yang harus mati kelaparan karena gagal y sistem hari ini menjaga nyawa rakyat. Sudah saatnya mempertimbangkan solusi Islam untuk diterapkan di Indonesia di dunia umumnya.[ia]

Penulis : Anggi Rahmi

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: