30 September 2022

Dimensi.id-Para peneliti berlomba untuk menemukan vaksin guna memerangi virus Corona yang menjangkiti hampir seluruh warga dunia. Hingga saat ini belasan perusahaan telah dan akan memasuki tahap akhir pengujian vaksin ini, yaitu tes pada manusia (12/4/2020).

Para ilmuwan AS di Kaiser Permanente Washington Research Institute, Seattle, melakukan suntikan pertama dalam tes eksperimental penemuan virus vaksin Corona Covid-19. Percobaan ini merupakan awal dari serangkaian studi yang diperlukan untuk menemukan vaksin virus Corona (28/3/2020).

Suntikan percobaan yang dilakukan para ilmuwan Seattle ini bukan satu-satunya vaksin potensial untuk virus Corona. Sebab ada lusinan kelompok riset di seluruh dunia yang berlomba untuk membuat vaksin Covid-19. Tidak hanya Amerika, China, Jerman dan Israel mengklaim bahwa mereka telah menemukan vaksin Covid-19.

China melibatkan lebih dari 1.000 ilmuwannya untukmengembangkan vaksin melalui 9 vaksin potensial yang dikembangkan dengan lima pendekatan berbeda. Sehari setelah uji coba eksperimental fase I untuk Covid-19 dilakukan AS, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Hubei (CDC Hubei) mengumumkan permintaan pencarian sukarelawan uji klinis. Fase uji klinis ini akan berlangsung sepanjang April.

Hal yang sama saat ini sedang berlangsung di Jerman. Perusahaan BionTech menjadi salah satu pemain utamadalam pengembangan vaksin di Eropa. Perusahaan ini melakukan kolaborasi dengan perusahaan milik China, Fosun Pharma dan perusahaan farmasi AS, Pfizer. Perusahaan farmasi Jerman lainnya, CureVac juga sedang berjibaku menyiapkan vaksin corona.

Menteri Sains dan teknologi Israel Ofir Akunis menyatakan vaksin buatan Israel akan siap dalam beberapa minggu dan akan tersedia dalam 90 hari. Vaksin ini dikembangkan oleh Galilee Reseacrh Institute (MIGAL). 

Tiga perusahaan biotk dunia tersebut yaitu BioNTech, CureVac dan Moderna menjadi sorotan atas janji-janji mereka menemukan vaksin corona. Ketiga perusahaan ini memiliki spesialisasi dalam terapi mRNA yang digunakan untuk memancing tubuh agar menghasilkan respon imunnya sendiri untuk melawan berbagai penyakit. Jenis vaksin ini berpotensi dikebmangkan dan diproduksi lebih cepat daripada vaksin tradisional.

Tiga bulan Pasca merebaknya pandemi China, Amerika dan Eropa terlibat dalam kompetisi produksi vaksin. Mereka saling berlomba menjadi yang pertama, harga diri negara pun dipertaruhkan untuk menjadi penemu, pemilik hak paten dan penghargaan ilmiah bidang kesehatan. Hal ini juga dilakukan untuk keamanan nasional yang mendesak karena korban jiwa yang besar.

Namun yang terpenting diatas segalanya bagi kapitalis adalah pendapatan dan keuntungan melimpah dari hasil penjualan vaksin ke seluruh dunia. Tidak ketinggalan demi mengejar profit yang luar biasa besar dari untung penjualan vaksin nantinya, perusahaan rokok Camel, Lucky Strike dan Pall Mall pun mengerjakan vaksin covid-19. British American Tobacco (BTAFF) mengatakan bahwa anak perusahaan bioteknya, Kentucky Bio Processing sedang mengerjakan hal yang sama.

Trump sendiri telah berbicara dengan para pejabat industri farmasi tentang kepastian produksi vaksin sekaligus mengendalikan pasokan vaksin tersebut. Pusaran politik antara Jerman dan AS, melibatkan CureVac. Pejabat Pemerintah Federal Jerman percaya bahwa Trump mencoba memikat CureVac untuk melakukan penelitian dan produksi vaksinnya hanya untuk AS.

CureVac di kabarkan menerima dana sejumlah dana dari Amerika untuk mengembangkan vaksin Covid-19 ‘khusus untuk Amerika’. Mingguan Jerman Die Welt am Sontag mengungkap hal tersebut ke publik. CureVac merupakan perusahaan bitek swasta yang turut menerima dana besar dari Bill and Melinda Gates Foundation. Perusahaan ini memiliki laboratorium di Boston dan Jerman.

Meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 meningkatkan tekanan kepada pemerintah Jerman untuk menjaga CureVac agar tetap berada dalam naungan negara. Uni Eropa merespon minat AS atas CureVac . Komis Eropa menawarkan dana hingga 140 juta euro dalam kerangka pendanaan publik dan swasta kepada CureVac untuk mendukung pengembangan penelitian vaksin Covid-19. Komisi Eropa mengumumkan telah memilih 17 proyek yang melibatkan 136 tim peneliti untuk menerima dana 47,5 juta euro dari program penelitian dan inovasi Horizon 2020.

Kompetisi antar raksasa farmasi dunia akan mempertaruhkan seluruh dunia, terutama nasib negara-negara miskin dan terbelakang yang ikut terdampak pandemi. Kapitalisme tidak memiliki kaca mata lain untuk memandang persoalan kemanusiaan sekalipun kecuali dengan paradigma keuntungan ekonomi. Alangkan rusaknya peradaban ini.[ia]

Penulis : Aisyah karim

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: