30 September 2022

Dimensi.id-Sejak wabah COVID-19 menyebarluas ke luar kota Wuhan, China setiap hari jumlah pasien yang dinyatakan positif Corona terus bertambah. Pertambahan jumlah yang terus meroket tak lain sebab minimnya keseriusan pemerintah dalam menangani wabah hal ini pun diperparah dengan keterbatasan edukasi yang dimiliki masyarakat. Pasalnya, saat wabah menyebar cepat masih banyak warga yang melakukan aktivitas di luar rumah sehingga penyebaran virus pun semakin masif.

Masifnya pertambahan jumlah jumlah pasien yang positif Corona sebab tak sigapnya pemerintah mengambil keputusan lockdownterhadap wilayah-wilayah sehingga ratusan bahkan ribuan korban meninggal tersebab Covid-19 pun tak terelakkan.

Dibalik lambannya pemerintah mengambil keputusan lockdown, kondisi ini diperparah dengan dibukanya promo besar-besaran dibidang pariwisata untuk menarik wisatawan asing masuk ke Indonesia sebab semakin merosotnya perekonomian dalam negeri sejak Covid-19 menyerang. Hingga hari ini, hampir setiap wilayah sudah terpapar covid-19, baik hanya berstatus ODP (Orang Dalam Pengawasan) atau bahkan berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan).

Di sisi lain, sejak karantina mandiri dilakukan pemerintah selama 14 hari banyak masyarakat perantau yang menjadikan moment ini sebagai ajang untuk pulang kampung sehingga kemungkinan besar penularan covid melalui masyarakat yang pulang kampung semakin besar sebab kita tak tahu selama dalam perjalanan kontak dengan siapa dan apa saja yang bisa jadi itu menjadi salah satu penyebab tertularnya covid ke kita atau tidak.

Tanpa sadar, pihak yang pulang kampung pun menjadi carrier (Pembawa) Covid ke wilayahnya dan jadilah Covid itu semakin tak terkendali dan siapapun yang kontak dengannya maka akan diisolasi dan menunggu hasil rapid test-nya keluar.

Isolasi yang dilakukan pun beragam, ada yang isolasi dirumah secara mandiri dab bahkan ada yang diisolasi di rumah sakit. Puncaknya ialah ketika satu per satu korban berjatuhan dan masyarakat mulai khawatir.

Kekhawatiran masyarakat ini bisa dilihat mulai dari banyaknya yang memborong masker, hand sanitizer, sarung tangan hingga makanan pokok. Kepanikan ini pun menjadi salah satu penyebab tidak stabilnya kondisi perekonomian dalam negeri. Harga bahan pokok anjlok sedangkan harga masker dan handi sanitizer melangit.

Kekhawatiran masyarakat diperparah dengan adanya warga yang menolak jenazah pengidap Covid-19 dimakamkan di perkampungan mereka dengan dalih masyarakat khawatir tertular virus. Bahkan ada tenaga medis yang diusir oleh pemilik kos sebab pemiliknya khawatir tenaga medis tersebut menyebarkan virus ke penghuni kos lainnya. Padahal tenaga medis adalah sosok yang berda di garda terdepan dalam menangani wabah di negeri ini sampai-sampai puluhan tenaga medis baik dokter maupun perawat menjadi korban keganasan Covid-19 ini.

Pengusiran dan kedzhaliman yang dilakukan warga kepada tenaga medis dan jenazah penderita Covid-19 bukan tanpa sebab. Namun, kekhawatiran mereka tak tepat sebab tidak selayaknya kekhawatiran tersebut dilakukan dengan cara yang tidak manusiawi seperti itu. Ketidakmanusiawian ini terjadi sebab minimnya edukasi yang dilakukan pemerintah kepada warganya hingga tenaga kesehatan menjadi korban dalam pandemi ini padahal merekalah yang berjuang di garda terdepan dalam menangani wabah ini.

Potret diatas adalah hanya sebagian kecil dari kelalaian negara dalam menangani pandemi. Dimana seharusnya dalam kondisi seperti ini pemerintah harus hadir untuk menegedukasi dan menjamin keselamatan masyarakatnya serta menjamin ketersediaan APD (Alat Penlindung Diri) bagi tim medis dan makanan pokok bagi masyarakat sipil bukan hanya sibuk investasi sana sini dan melanjutkan proyek pemindahan ibukota baru padahal masyarakat tengah berjuang antara hidup dan mati.

Kondisi yang tengah melanda negeri ini sangat jauh berbeda dengan kondisi ketika negara Islam terjangkit wabah. Wabah yang seperti terjadi pada hari ini juga terjadi pada masa kekhalifahn Umar bin Khaththab ra. Dalam sebuah riwayat dikatakan :

“Khalifah Umar pernah melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR.al-Bukhari).

Riwayat tersebut menunjukkan bagaimana urgensi negara harus hadir dan tanggap dalam menyelesaikan wabah yang terjadi agar penyebarannya tidak semakin luas seperti yang terjadi pada hari ini.

Disinilah urgensi negara Islam menjaga keamanan dan keselamatan ummat. Ketika ada wabah yang terjadi di wilayah negara Islam maka khalifah akan melarang menduduknya untuk keluar dari tempat tersebut agar tidak menularkan kepada yang lain pun sebaliknya khalifah tidak akan memberikan orang masuk ke dalam wilayah negara Islam yang terkena wabah agar tidak tertular.

Inilah pentingnya memahamkan ummat untuk berdiam diri di rumah agar tidak menyebarkan ataupun tersebar wabah. Jika masyarakat sudah paham akan kewajibannya berdiam diri agar tidak tertular maka penyebaran virus pun bisa diputus rantainya sehingga tidak menyebar hingga keluar wilayah ataupun negara lain. Di sisi lain, Islam juga menjelaskan bagaimana urgensi tetap berdiam diri di rumah bahkan jika mati dalam keadaan berdiam diri di rumah untuk memutus rantai penyebaran viru dianggap seperti mati dalam keadaan jihad.

“Dari Aisyah Ummul Mukminin ra, beliau berkata : Saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Tha’un (wabah penyakit), lalu Rasulullah SAW memberitahukan kepadaku wabah itu adalah siksa yang dikehendaki Allah kepada siapa saja yang dikendaki-Nya dan Dia menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman.

Siapa yang menghadapi wabah lalu dia bersabar dengan tinggal di dalam rumahnya seraya bersabar dan ikhlas sedangkandia mengetahui tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan Allah kepadanya, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mati syahid”. Allaahu a’lam bishshawab[ia]

Penulis : Juliana chan

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: