5 Oktober 2022

Dimensi.id-Jumlah kasus corona per 6 April 2020 menunjukkan 2.491 kasus terkonfirmasi, 218 orang meninggal , dan 192 orang dinyatakan sembuh [1] . Beriringan dengan peningkatan jumlah pasien Corona, Asisten bidang Kesejahteraan Rakyat (Askesra) DKI Jakarta , Catur Laswanto mengemukakan, sekitar 118 tenaga medis terkonfirmasi [2]. Humas Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Halik Malik menyebutkan, hingga hari Minggu (5/4/20), tercatat 18 dokter Indonesia meninggal dunia akibat positif terjangkit Covid-19 dan berstatus Positif dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 [3] .

Para dokter dan tenaga medis tersebut diduga terinfeksi virus corona saat merawat atau menangani pasien-pasien virus corona di rumah sakit. Mirisnya, Alat Pelindung Diri (APD) untuk para tenaga medis juga mengalami kelangkaan. Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan hingga saat ini BUMN masih sangat kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) untuk dokter dan tenaga medis yang menangani pasien corona. Untuk prediksi 10.000 pasien, dibutuhkan sekitar 1,5 juta APD. Sementara itu, untuk ventilator dibutuhkan sebanyak 500 unit, namun yang tersedia saat ini hanya setengahnya, dan 40.000 unit tes swap [4].

Disamping itu pemerintah sudah menerapkan beberapa kebijakan terkait penanganan wabah Covid-19 ini, diantaranya ialah realokasi anggaran Kementrian / Lembaga dan dana desa , insentif khusus bagi para tenaga kesehatan, dan mempermudah impor alat kesehatan, serta mulai memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberbagai wilayah di Indonesia [5].

Blunder Kebijakan Sendiri

Sebelum dikabarkan memiliki kasus Corona, pemerintah Indonesia tengah sibuk meningkatkan pendapatan pariwisata dalam negeri, seperti memberikan insentif untuk maskapai penerbangan sebesar 1 Triliun di 10 destinasi wisata , dengan tujuan agar masyarakat mau berpergian [6], serta menggelontorkan 72 Miliar untuk jasa influencer demi menggecarkan promosi pariwisata Indonesia [7].

Pasalnya , pada awal bulan Maret , pemerintah begitu percaya diri karena selama dua bulan terakhir belum ada kasus yang terkonfirmasi di Indonesia. Jikalau nantinya ada wabah corona di Indonesia, pemerintah mengaku telah siap dengan segala bentuk fasilitas dan kebutuhan medis dalam menangani wabah tersebut.

Dikutip dari Tribunnews.com (2/3/2020), Kepala Negara memastikan bahwa telah tersedia lebih dari 100 rumah sakit ruang isolasi terbaik , peralatan medis berstandar internasional , serta telah memiliki reagen pendeteksi virus yang cukup [8].

Namun sepertinya fakta berbicara lain, sudah lebih dari 1 bulan, belum terlihat tanda tanda wabah Covid -19 mengalami penurunan, bahkan tingkat kematian di Indonesia tertinggi kedua di Dunia , yaitu 9,36% [9]. Padahal berbagai kebijakan dimulai dari karantina wilayah, darurat sipil , hingga mulai diberlakukannya PSBB.

Menolak Lockdown, Bukti Negara Abai

Pemerintah berdalih bahwa lockdown bukanlah satu satunya cara terbaik untuk mengatasi wabah corona ini. Pasalnya, jika lockdown diberlakukan maka akan sangat membahayakan perekonomian negara. Padahal telah kita ketahui bersama bahwa sebelum adanya wabah Covid -19 , perekonomian ala sistem kapitalis telah begitu nampak kebobrokannya. Besarnya jumlah pengangguran, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya 5.02% pada awal tahun 2020, interval kemiskinan yang kian melebar , sudah cukup menjadi bukti yang tidak bisa terelakkan.

Selain itu, menolak kebijakan lockdown artinya semakin menunjukkan rusaknya sistem kapitalisme yang diemban oleh negara kebanyakan di dunia saat ini, tidak terkecuali Indonesia yang mana negara tidak sanggup melakukan periayahan terhadap rakyatnya , memberikan jaminan kehidupan yang layak dalam segala aspek , baik aspek pendidikan, kesejahteraan , hingga aspek kesehatan seperti yang tercantum dalam pasal 33 UUD 1945.

Hanya Sistem Islam Solusinya

Islam adalah agama yang paripurna, dan rahmat bagi seluruh alam. Lebih dari itu, islam bukan hanya sekedar agama ritual, namun juga sebuah ideologi, yang mengatur kehidupan manusia, dari skala terkecil yaitu individu hingga tataran bernegara. Sehingga pelaksanaannya secara Kaffah mampu mendatangkan kemuliaan hidup bagi semesta, seperti dalam firman Allah,

” Kami tidak mengutus engkau Muhammad, melainkan sebagai rahmad bagi seluruh alam” (Al Anbiya : 107)

Jauh berbeda dengan sistem kapitalisme dengan pemikirannya yang khas, saat berada pada keadaan genting seperti saat ini, para penguasa harus tetap dihadapkan antara “untung rugi materi” dengan “nyawa setiap rakyat” sebagai taruhannya , maka dalam sistem islam menempatkan nyawa setiap manusia lebih berharga , terutama nyawa kaum muslim.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Memanglah kematian dan wabah adalah salah satu ketentuan yang pasti telah Allah tetapkan, namun harus diperhatikan bahwa harus ada optimalisasi ikhtiar sebelum qadha diputuskan oleh Allah, dalam hal ini penanganan wabah seharusnya dilakukan secara maksimal oleh negara.

Karantina wilayah atau lockdown seharusnya menjadi solusi yang diskusikan secara matang bukan malah diabaikan. Saat ini solusi lockdown menjadi opsi yang sangat tidak mungkin dipilih mengingat banyaknya rakyat yang diperkirakan tidak akan mampu bertahan dengan kondisi krisis ini . Padahal sebelum dilakukan lockdown seharusnya sejak awal pemerintah wajib untuk memberikan screening test kepada setiap orang secara gratis , sehingga bisa memilah antara rakyat yang sehat dan yang telah terjangkit virus.

Kemudian memberlakukan lockdown wilayah dan menempatkan masyarakat yang positif terinfeksi maupun yang terduga dalam penanganan serta pengawasan optimal, sedangkan masyarakat yang sehat dan diluar wilayah lockdwn harus dioptimalkan untuk memproduksi kebutuhan dalam negeri.

Sehingga ekonomi dalam negeri pun masih bisa berjalan dengan semestinya, bukan justru setiap warga negara diwajibkan untuk tetap dirumah , namun pemerintah tidak memenuhi kebutuhan pokoknya, hingga akhirnya masyarakay berbondong bondong untuk kembali ke desa dan penyebaran virus semakin meluas.

Adapun pemenuhan terkait seluruh kebutuhan masyarakat yang terjangkit wabah, fasilitas dan sarana medis , serta penjaminan terhadap para pekerjanya , sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara yang harus dipenuhi melalui baitul mal , yang mana sumber pendapatan utamanya ialah SDA yang dikelolah secara optimal oleh negara , Rasulullah saw bersabda, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api “(HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Jika suatu ketika baitul mal tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut, maka dilakukan pemungutan pajak secara temporer kepada para lelaki yang kaya, sehingga tidak dibebankan kepada setiap orang, apalagi menjadi sumber utama pendapatan negara.

Begitulah kira kira gambaran sistem islam dalam menangani wabah yang juga pernah terjadi di masa Rasulullah, hingga Amirul Mukminin, Umar bin Khatab dan berhasil menyelesaikannya dalam waktu yang singkat, dengan cara yang efektif serta hasil yang optimal.[ia]

Penulis : Revina Dewi S, S.Tr.Kes (Praktisi Kesehatan)

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: